40

700 68 7
                                        

TYPO BERTEBARAN‼️
.
.


Adara melenguh kecil, bulu matanya bergetar saat ia merasakan sesuatu yang keras namun nyaman di bawah pipinya. Perlahan, ia membuka mata.

​Hal pertama yang ia lihat adalah kain hitam kaos Gibran yang sedikit kusut. Adara tersentak, ia mendongak dan menemukan Gibran masih tertidur pulas dengan kepala yang bersandar disofa, sementara tangannya masih melingkar posesif dipinganggnya.

"E-eh?"

"Gini ya rasanya natap calon suami, hihihiii. Ganteng banget anjirr!" Batin Adara, dia menatap pahatan demi pahatan wajah Gibran.

"Wangi," ​Gumam Adara tanpa sadar, ia menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin bercampur sabun bayi yang sudah menjadi ciri khas cowok itu. Aroma yang entah sejak kapan menjadi candu baru baginya.

"Coba aja lo bisa sekalem ini, pasti tambah ganteng." Bisik Gadis itu. Ia mendongak menatap wajah Gibran yang masih asik didalam mimpinya. Merasa aman, dia kembali meletakkan kepalanya dibahu Gibran.

"Pagi, Adara sayang." Suara khas bangun tidur itu terdengar jelas ditelinga Adara. Dia dengan sengaja berpura pura tidur, takut akan diejek oleh laki laki tengil disampingnya.

"Mampus, dia denger gak ya??" Batin Adara, dia mencoba mengatur napasnya setenang mungkin agar tidak dicurugai oleh Gibran.

Gibran sama sekali tidak menyadari akting gadis disampingnya itu. Dia mengangkat tangan yang tadi asik memeluk erat pinggang Adara, menjadi diatas kepala gadis itu. Dia mengelusnya pelan. "Lo kalau kalem ginii tu enak banget dilihat, Ra."

Gibran beralih menatap jam dinding yang berada tak jauh didepannya. Dengan gerakan pelan, dia menggoyang bahu Adara.

"Ra, bangun."

"ADUHH, bangun, enggak, bangun, enggak, KEK MANAA?? gausah bangun deh." Batinnya dengan jantung yang sudah ingin melompat keluar.

"Ra? Se-cape itukah kamu?" Gibran melepas rangkulannya, meninggalkan Adara disana. Dia akan membanguni Adara lima menit lagi pikirnya.

Saat Gibran sudah menjauh, Adara membuka sebelah matanya--mengintip. "Udah pergi?" Bisiknya.

Adara membuang napasnya kasar. "Astaga, Gibran bener bener buat gue gila."

***

"A..dara," Laki laki dengan balutan hoodie abu-abu sejak tadi terus bolak balik membuka Instagram pribadi milik Adara. Dia tersenyum sejenak melihat Clarisa berada didalam story ig milik Adara.

"Jadi, ini pusat semestanya Gibran?" Laki laki itu tertawa sejenak, dia menutup laptop didepannya dengan kasar.

"Gue bakal ngehancurin pusat semesta lo itu, Gib. Rasanya bakal setimpal sama apa yang gue rasain saat lo rebut paksa Clarisa dari gue." Alvaro tersenyum miring, dia membayangkan bagaimana khawatirnya Gibran saat Adara berada ditangannya.

Dia membuka ponselnya, mengetikkan sesuatu disana.

Semua rencana sudah tertata rapi. Tinggal tindakan saja.

Alvaro sudah mempersiapkan rencananya matang-matang sejak beberapa hari lalu. Dia begitu effort mengamati SMA Andromeda dua hari ini demi melihat apa saja yang dilakukan gadis dengan nama Adara itu.

Dia datang disaat jam pelajaran telah usai, dia menyatu diantara lalu lalangnya kendaraan jemputan.

"Gibran, the game begins."

***

"Adara sayang, cepetan!" Gibran berteriak dari luar rumah, dia telah menunggu Adara sejak sepuluh menit lalu. Menunggu gadis itu membuatnya berkeringatan karena cuaca begitu cerah hari ini.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang