29

573 63 5
                                        

H A P P Y R E A D I N G
.
.

Kini keduanya baru saja sampai didepan Swalayan tempat biasa Adara berbelanja.

Adara menepuk pundak Gibran kuat, dia begitu ugal ugalan membawa motor tadi. Tak mempedulikan Adara yang sejak dijalan mencubit lengannya.

"Lo mau bawa gue menuju Tuhan, Gibran?"

Gibran membuka helm, lalu tertawa. "Lo harus ngerasain sesekali naik motor sambil ngajak mati, Ra."

Ada alasan mengapa Gibran melakukan hal berbahaya tadi, yaitu agar Adara memeluknya dari belakang. Dia memang benar benar modus.

"Gue gamau mati dulu, Bran!" Jedanya. "Gue belum nikah sama lo, EHH--"

Huh memang mulutnya tak bisa diajak kerja sama bisa bisanya kata hati terucap keluar.

Gibran tersenyum smirk "Apa Raa??" Laki laki itu menaik turunkan alisnya menggoda Adara.

"GADA!" Dia meninggalkan Gibran yang tersenyum senyum aneh diparkiran sendirian.

"Lucu banget ANJINGGG"

***

Adara dengan cepat mengacir kabur dari motor sport milik Gibran. Dia tak sabar ingin menggebuk Arbil yang sudah membuatnya kesal bukan kepalang.

Sementara Gibran masih asik menyisir rambutnya, dan mengambil satu kresek makanan yang dititip oleh Mauren.

Matanya berkeliaran melihat luasnya pekarangan rumah milik Adara ini.

Tiba tiba ia tersenyum seperti memikirkan sesuatu yang konyol. "Kalau luasnya segini, bisa buat gue sama Adara main sama anak kita nanti." Gibran memang sudah gila.

Hei? Kemana Gibran yang kemarin? Yang sekarang ini? Ini terlihat seperti bukan seorang GIBRAN OCEAN ARCELLO.

Ia masuk kedalam, melihat pemandangan Adara yang tengah menjambak Arbil dan Mauren yang kewalahan melerai keduanya.

"W-WOI ANJIR! SAKIT BEGO, LEPAS ZORAA.." Arbil meringis kesakitan sementara Adara masih kesetanan.

"Peduli?? LO CEREWET BANGET ABIIILLLL!!! MULUT LO GUE IKAT JUGA NANTI, MAU??"

"YAAMPUNN, ADARAAA UDAH IH!" Mauren menepuk jidatnya, pusing. Dia lalu menatap Gibran dari kejauhan. "Gibran, bantuin bunda dulu! Cape banget ngehadapin kucing sama tikus ini."

Gibran melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, dia terkekeh melihat interaksi keduanya. Tapi, jauh didalam hatinya masih terus bertanya siapa laki laki yang dipanggil Arbil ini?

Gibran meletakkan kresek belanjanya diatas meja ruang tamu.

"Adara, udah." Suaranya lembut, nyaris tak terdengar.

"Lo mau gue jambak juga, hah?!" Adara menatap Gibran sinis. "Iya?"

"Suami Adara, tolong dong bantuin gue ini. Sakit banget kamprettt!!"

Adara melepaskan genggaman tangannya dari rambut Arbil. Kini rambutnya sudah acak acakan tak bersturan, tapi justru aura ketampanannya naik 60kali.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang