H A P P Y R E A D I N G
.
.
Gibran berjalan santai dibelakang sekolah. Dia sedikit bersiul menghilangkan suasana hening yang menyelimutinya.
Matanya menangkap Adara yang tengah bermain dengan bola volly dilapangan. Dengan rambut yang ia cepol asalan, gadis itu terlihat manis. "Cantik." Batin Gibran.
Gibran beralih mencari tempat duduk, ia ingin memandangi gadis itu sekarang. Dia sadar betapa telatnya ia menyadari kehadiran gadis itu.
Jika kemarin dia menyia-nyiakannya, kali ini tidak.
Gibran sesekali terkekeh melihat Adara yang berkali-kali memperbaiki cepolan rambutnya yang terlepas karena pergerakannya yang terlalu aktif.
Lagi lagi Gibran tertawa kecil. Gadis itu terlihat begitu cerewet diujung sana karena tanggannya yang sakit sehabis men-servis bola volly. "Ternyata lo se-bawel itu, Ra." Gumam pelan, hanya dia yang mendengar.
terlambat menyadari bahwa cahaya yang dicari selama ini ada tepat di depan mata, bukan di kejauhan yang tak tergapai. namun, bukankah senja justru paling indah saat hampir menghilang?
***
Mawar menyandarkan punggungnya dideretan loker besi kelas XI, wajahnya tertekuk masam. Sementara Jennie dan Ishara hanya diam.
"Ck, gue bener-bener ga terima sumpah Gibran lebih milih dia tadi." Gerutu Mawar sembari memilin ujung rambutnya dengan kasar.
"Gamau tau, kita harus ngasih dia sesuatu yang bisa bikin dia nangis!"
Jennie mengetuk dagunya, berfikir keras. "Kita sembunyiin seragamnya?"
"Atau sepatunya?" Timpal Ishara.
Mawar menggeleng. "Telat banget. Jam PJOK udah selesai, gue mau sesuatu yang bikin dia nangis." Mawar menghela napasnya, matanya menyapu koridor yang mulai sedikit ramai karena jam istirahat sebentar lagi akan dimulai.
"Gimana--"
Tiba-tiba Mawar melihat Buk Dina-- guru Ipa mereka keluar dari laboratorium membawa setumpuk makalah. Terbesit ide jahat dikepalanya.
Dengan langkah yang pelan, dia berjalan mendekati wanita itu. "Siang Buk, maaf mau nanya, untuk tugas makalah Ipa kelas sebelas ini, batas pengumpulannya kapan ya Buk??"
Buk Dina memperbaiki susunan makalah tebal yang hampir terjatuh. "Oh, besok terakhir Mawar, jam istirahat kedua sudah harus ada dimeja saya. Jika telat, ataupun rusak saya gaakan ngasih nilai karena tugas itu merupakan tugas besar di semester ini. Jadi tolong buat sebagus mungkin, jangan kotor. Jika kotor, dapat mengurangi nilai kebersihan." Ucapnya mutlak.
Guru itu memang mencintai kebersihan. Sangat malahan.
Mawar mengangguk setuju. "Ohh, baik Buk. Besok jam pelajaran pertama Mawar antar."
Buk Dina mengangguk setuju, kemudian dia pamit pergi dari sana.
Mawar kembali menghampiri Jennie dan Ishara yang menunggunya dikursi samping loker. "Gue tau harus ngapain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fiksi Penggemar[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
