42. TERULANG LAGI.

718 73 9
                                        

HAPPY READING!
HATI HATI TYPOOOOOO
.
.

Sejak tadi, Adara hanya terduduk lesu didalam ruangan petugas mading. Badannya juga terasa sangat lemas dan lelah berbeda dari biasanya.

Oliv, si sekre yang sibuk bercakap-cakap di depan papan tulis hanya diabaikan oleh gadis itu. Dia menguap, kemudian matanya berotasi kearah Gibran.

Laki-laki itu melihatnya, matanya seolah olah menyiratkan kata 'bosan?'

"Oke, segitu aja ya teman-teman. Makasih udah nyempetin hadir disini, silahkan yang masih ada keperluan, selesaikan." Oliv menutup buku catatannya dan kembali duduk ditempat asalnya.

Gibran menatap Adara, dia sesekali menyenggol kaki gadis itu dari bawah. Kemudian dia berbisik. "Adara sayang, lapar?" Suaranya begitu kecil, hanya Adara yang dapat mendengarnya.

Gibran menarik pelan tangan gadis itu, membawanya keluar dari ruangan.

"Lapar banget, Gibran."

Gibran tersenyum, tangannya terangkat mengusap lembut kepala Adara saat berjalan. "Ayok makann, lo tunggu disini aja ya, biar gue beliin."

Adara menatap sekelilingnya, Gibran membawanya kesamping gedung sekolah-- taman baca yang seperti biasa selalu ramai dikunjungi saat jam istirahat seperti ini.

"Okee." Gadis itu menyelipkan rambutnya kebelakang telinga saat rambut itu terbang terbawa angin.

***

Vio sibuk menendang nendang batu yang ada dibawahnya. Dia begitu bosan dengan posisinya sekarang. Disebelahnya ada Naura yang asik berbincang dengan Rahsya--biasalah pdkt.

Dia menghembuskan napasnya kasar, dimana mana dia hanya menjadi nyamuk. Adara, dia sibuk bersama Gibran sejak mengetahui perjodohan itu. Dan dia sekarang terbuang, tidak dianggap, tidak dilihat, tidak dihargai...

"Perasaan gue dimana-mana jadi nyamuk mulu ya, Nau, Sya?" Celetuk gadis itu tiba tiba.

Naura dan Rahsya terkekeh. "Makanya, cari cowok, Vio." Ujar Rahsya sambil tertawa kecil.

Vio mendelik sinis, dia kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Yaudah, ini cari cowok!"

"Lah ngambekk." Naura tertawa melihat wajah Vio yang tertekuk masam sebelum akhirnya meninggalkan mereka.

"Kamu kalau ngambek, gitu juga nggak?"

Naura mengangkat alisnya, "Enggak ah, Naura gapernah ngambek soalnya."

"Banyak gayaa."

***

"Gibran ini kemana sih? Gue udah lapar banget." Dia melirik jam yang melingkar apik dipergelangan tangannya. "Udah jam segini, biasanya kantin udah nggak seramai itu."

Merasa tak tahan lagi dengan rasa laparnya, dia beranjak pergi dari sana. Niatnya mencari Gibran. "Kemana sih dia?"

Kakinya berjalan dengan cepat membelah koridor yang ramai dengan siswa siswa. Tak lama, matanya menangkap Gibran yang tengah asik berbincang dengan Lily.

Dia menghentikan langkahnya, menatap interaksi keduanya. "Pantas lama, orang cepika cepiki dulu sama si tukang selingkuh." Sejak gadis itu mengetahui bahwa Lily adalah dalang dibalik putusnya hubungan Alvaro adalah Clarisa, dia menjadi sedikit menjauh dari Lily. Meskipun tidak terlalu memperlihatkan perubahannya, namun dia berusaha untuk sedikit menjauh dari gadis itu.

Terlihat, Lily dengan gaya sok akrabnya memegang lengan Gibran. Keduanya sama sama tertawa, entah apa yang tengah mereka bicarakan.

Yang membuat dia panas, Gibran tak sedikitpun menjauhkan dirinya dari gadis itu. "Gibran bukannya tau ya? Kalau Lily itu.. atau mungkin nggak tau?"

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang