"Itu siapa zo??"
Kini keduanya tengah berada dihalaman belakang sekolah.
"Gatau,"
Arbil mengangguk, mungkin dia memang tak ingin memberitaunya sekarang. "Nanti gue kerumah lo ya, mau ketemu bundii." Laki laki itu mengalihkan topik.
Adara mengangguk setuju. "Ayoo, gue juga gamau balik sama dia."
Arbil menangkat alisnya. "Dia siapa?? Ohh lo udah punya cowo yaaaa? Siapa? Spil spil dong. Lu mah gaasik, biasanya juga cerita sama gue." Ocehnya.
Adara mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuk. "Kasih tau ga ya.."
Arbil berdecak sebal. "Benci."
Adara tertawa. "Yang tadi."
"Lah, tapi gatau. Kok bisa pulang bareng, trus kok lo ngehindarin dia? Kalian punya problem? Atau apa??"
Adara membuang napasnya kasar. "Gue di jodohin sama dia. Kampung banget gasi bil?? Masak jaman sekarang masi main begituan, aelah." Keluhnya.
"HAH? Astaga cowok kasar gitu?"
"Gimana lagi, kemarin aja gue-- ah gajadi, ayok masuk kelas, jam udah bunyi." Adara tak ingin lelaki itu tau, dia tak mau jika nantinya Arbil membenci Gibran.
"Btw, kita sekelas. HAHAHAHA KEBERUNTUNGAN!"
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
"Liat dehh, kemarin Gibran sekarang anak baru, dasar sasimo!"
"Tau aja mana yang ganteng ya dar, ahhaaha."
Adara yang berjalan dengan santai, dia sudah biasa dengan hal seperti ini. Lain halnya dengan Arbil yang menatap garang kearah siswa siswa itu. "Hidup lo perbaiki deh, hobi nyinyirin orang aja." Ucap arbil datar namun terkesan menyindir.
Orang orang itu kembali berbisik menatap mereka berdua.
"Omaigat! Jen, jen, yang jalan sama Adara cakep, BANGET!" Ishara memekik membuat Jennie menutup kedua telinganya.
"Diam golok!" Cetus jennie. "Anjir si Adara, kemarin si Gibran, sekarang anak baru. Sok kecantikan banget!" Ucapnya.
"Iya ih, benci banget benci."
Duo lambe gosip itu berjalan meninggalkan koridor, tak seperti biasanya mereka akan heboh memotret dan menempelkannya di mading.
Sebab, mereka sudah terkena teguran dari pak tama dan gibran soal itu. Pasalnya mereka selalu membuat keributan, astaga.
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Gibran menenggelamkan kepalanya didalam lipatan tangannya. Dia galau, sangat galau.
Jika biasanya gadis itu selalu mendatanginya di jam istirahat seperti ini untuk sekedar bertemu dengannya ataupun memberikannya makanan yang telah ia beli di kantin, sekarang tidak lagi.
Tidak ada ocehan, gombalan yang ia dengar lagi.
*
"GIBRANNN, Adara bawainn roti buatan Adara sendiri tauu."
Gibran berdecak sebal kesekian kalinya. Dia terlalu muak menghadapi gadis itu lagi, lagi dan lagi. "Gue bilang gausah kasih kasih gue hal kayak gini, gue gasuka." Dia menolaknya dengan kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fiksi Penggemar[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
