TYPO BERTEBARANN‼️
.
.
"Nau,"
Naura yang tengah asik mendengarkan playlist kesukaannya terpaksa mematikan sejenak musik itu. "Apasih, Vi-- ehh."
Gadis itu dengan spontan mencopot earphone nya. "E-ee ada apa, Sya??"
"Dompet lo?"
Naura membelakkan matanya kaget. "Eh iya! Yaampun, untung ga hilang. Makasih Syaa."
Satu..
Dua..
Tiga..
"Tunggu, lo tau dari mana ini punya gue? JANGAN JANGAN LO BUKA YA DOMPETNYA??!" Naura mengantongi dompet itu menatap curiga kearah Rahsya.
Rahsya mengangguk, memang benar dia membukanya. Dan.. melihat isinya. "Iya gue buka."
Naura menepuk jidatnya, malu. Karena disana terdapat satu foto Rahsya saat kecil, dan itu dia ambil saat jadwal kelas sebelas untuk mengisi foto masa kecil dimading.
Tak lupa, disudut sana dia tulis sesuatu yang berbunyi 'oneday,youwillbemine'
"S-sya.. lo baca?? Lo lihatt??"
Rahsya tersenyum tipis. "Lihat," Rahsya mengacak sedikit rambut gadis itu. "Lucu."
Dia berlalu meninggalkan Naura yang mematung disana. "WATAFAKK!! MIMPI INI MIMPI!!"
***
"Adara, Adara sayang! Lo duduk aja kenapa?" Gibran mengambil alih laptop yang tengah dipegang oleh Adara. Memang gadis itu keras kepala, padahal semenit yang lalu dia baru saja menangis karena tangannya kepentok oleh pintu kamarnya.
"Iya iya deh."
"Lo lagi sakit, gausah banyak gaya, Ra. Lagian ada gue disini yang bisa, ralat.. yang seharusnya bantuin lo." Gibran membuka perlahan lembaran-lembaran makalah yang telah hancur terkena kopi tadi.
"Tugas lo cuma duduk manis Ra, liatin pekerjaan gue aja. Kalau ada salah komen aja gausah sungkan. Satu lag--"
Adara meletakkan telunjuknya tepat didepan bibir Gibran, "Udah ih, bawel."
Gibran dengan cepat menarik pergelangan tangan Adara, mengikis jarak diantara mereka berdua. "Demi kamu, sayang."
***
Asap tipis dari teh herbal yang masih hangat mengepul di antara mereka. Mauren dan Alma sedang duduk bersantai di kursi panjang setelah sesi pijat aromaterapi selesai. Suasana jakarta yang bising terasa sangat jauh dari tempat ini.
Semenjak kenal, mereka berdua sudah sangat akrab. Apalagi keduanya sering sekali bertukar cerita tentang masing masing anaknya.
"Al, coba tebak apa yang lagi mereka lakuin sekarang?" Mauren menatap langit langit SPA membayangkan apa yang tengah dilakukan anak anaknya.
Alma terkekeh pelan. "Kalau yang aku lihat Ren, mereka itu masih sama sama gengsi. Tapi gengsinya Adara yang lebih dominan diantara mereka. Malah Gibran yang kelihatannya lebih cinta."
"Padahal dulu ya, Adara itu gaada malu malunya loh sama Gibran. Walaupun udah ditolak berkali kali sama anak kamu, Al dia tetap kekeh ngejar Gibran. Hadehh.." Mauren menepuk jidatnya pelan, dia terkadang juga malu dengan sikap anak bungsunya itu.
"Hahaha, kalau denger denger cerita dari kamu, Ren aku juga heran kenapa jadi tebalik gini ya mereka?? Apa mereka ada problem kali ya? Atau Adaranya hilang rasa capek ditolak Gibran mulu."
"Maybe, Adara mungkin ngerasain gitu Al. Dia mungkin cape ngejar-ngejar Gibran." Ujar Mauren.
"Tapi Gibran sekarang bener bener beda Ren dari Gibran yang sebelumnya. Dia bahkan gapernah se-protektif itu sama siapa aja. Apalagi ini cewek. Tapi semenjak sama Adara, dia beda."
Benar. Gibran itu terkesan cuek, flat, tidak ada rasa perhatian sedikitpun didalam dirinya, tapi sekarang? Beda. Dirinya seolah olah berganti, Gibran yang datar, nggak ngerti jokes, kini berganti menjadi Gibran yang tengil.
"Gibran, nggak pernah pacaran, Al?"
Alma menghembuskan napasnya pelan. "Nggak, dia dari dulu cuma punya Clarisa, sahabat kecilnya. Sifatnya dengan Clarisa ini pun susah ditebak. Terkadang dia manis, tapi terkadang juga dia cuek. Jadi gajelas gitu loh, Mauren."
Mauren mengangguk menanggapinya. Sama seperti Adara, dia dari dulu hanya punya Arbil, mantan sekaligus sahabat kecilnya.
***
Suara detak jarum jam di ruang tamu beradu dengan bunyi ketikan keyboard laptop. Gibran sesekali mengernyit, berusaha membaca tulisan di makalah adara yang agak hancur karena terkena noda kopi di kertas ipa itu.
"Ra, ini 'mitokondria' atau 'mikroba'?" celetuk gibran tanpa menoleh.
"Itu mitrokondria, Gibran. Kan kita lagi bahas struktur sel hewan."
Adara memegangi perutnya yang lapar. Dia ingin makan, namun dengan keadaan tangannya yang seperti ini membuatnya sulit untuk memegang sesuatu.
tingg!
Notifikasi dari ponsel Gibran berbunyi, dia dengan cepat membuka room chat.
---------------
Mamiii🤍
Gibran bentar lagi makanan untuk kalian berdua sampai yaa. Mami udah bayarin, jangan lupa suapin Adara ya!!😡
Siap siapp mami🫡 sesuai perintahh
---------------------
Gibran beralih menatap Adara yang merengut. Seakan bisa membaca keadaan, Gibran mencolek hidung Adara. "Lapar hm??" Godanya.
Adara sedikit terkejut, dia kembali menetralkan wajahnya. "Kok tau? Peramal ya? OH ATAU ATAUU, lo bisa baca isi hati gue." Adara menatap penuh selidik kearah Gibran. "Coba baca isi hati gue sekarang." Ucapnya.
Gibran memejamkan matanya, tengah berfikir keras. "Gibran ganteng! Iyakan, Raa?? Udah lah gausah bohong."
Adara memutar bola matanya malas, "Kan Gibran kepedean."
Gibran tertawa pelan dan mengacak rambut Adara. "Yaudah sebentar gue ambil dulu makannya."
"Kok--"
"Mami udah pesenin makanan buat kita, sayang."
Ah! Lagi lagi Gibran membuat jantung Adara berdetak lebih keras dan juga pipinya yang mulai memanas. "Gausah panggil panggil sayang bisa?"
Gibran tersenyum kecil. "Jadi? Maunya dipanggil apa? Istri dari anak-anakku? My Bini gua? Atau.."
"UDAH SANA CEPETAN AMBIL MAKANAN GIBRAN! GAUSAH NGEGOMBALL!"
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Oalah gibran gibran, udah mulai dia bess. Mulai kecintaan, bukan mulai lagi emng udah kecintaan dia sm si Adara adara itu😝🤭😆😅🤣👍🏻😍🙌🏻🫡🤗🫰🏻🫰🏻
VOTE DAN KOMEN, vote komen dikit, up juga lama, mksi mksi mksi
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
