Matahari siang itu seolah sedang bersemangat membakar kulit siapa saja yang berada di area terbuka SMA Andromeda. Namun, panasnya cuaca tidak sebanding dengan panasnya atmosfer di lapangan basket.
Adara dan kedua sahabatnya-- Vio dan Naura tengah mengganti pakaiannya dibilik khusus mengganti pakaian.
"Watafak, Ra! Gue bener bener kaget tadi pagi Gibran berani beraninya ngebawa lo didepan semua orang. Kaget gue." Naura mencepol asal rambutnya dan berjalan mendekati Adara.
"Sumpah iya! Gue yang denger berisik-berisik di parkiran langsung ngedeket, gue kira apaan ternyata mereka semua heboh karena lo." Sambung Vio yang memoleskan sedikit liptint dibibirnya.
Sementara Adara menyandarkan badannya pada dinding, pasrah. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia merengut panjang sejak tadi pagi.
"PLIS GUYS, GUE GASUKA. HUAAA!" Dia kengacak rambutnya frustasi. Sebab, nanti dia akan lebih dijulid-in dengan lambe lambe turah para siswa siswi Andromeda.
"Dar, itu tandanya dia mau perjuangin lo."
"NAH BETUL KATA NAURAA, jarang jarang loh seorang Gibran yang notabenya jarang-- bisa dibilang gapernah tertarik sama cewek ngelakuin hal begitu." Tambah Vio.
Adara berfikir sejenak. Apa yang ia bicarakan kemarin itu benar? Ia akan berusaha meyakinkan Adara. Entahla Adara juga tidak terlalu yakin dengan lelaki plin-plan itu.
Ia menarik napasnya kasar. "Kalian tau, dia bilang gini ke gue kemarin." Adara terdiam sejenak, "dia bakal mencoba serius sama gue, intinya dia bakal coba ngembaliin cinta lama itu."
Vio bersemangat, dia bertepuk tangan kuat. "KAN!! Apa gue bilang, orang bakalan nyadar kalau kita udah pergi dari hidup mereka. Tapi giliran ada, dia malah nyepelein. Karena dia tau kalau kita akan selalu ada buat dia, makanya dia berani nyepelein lo, Dar."
Vio memegang dagunya, seolah perkataannya benar, tapi memang benar juga.
Adara berfikir sejenak, perkataan Vio ada benarnya juga. "Iya si. Tapi, arhh gausah dibahas lah." Adara memasukkan bajunya secara asal kedalam tas nya.
"Dar, lo coba terima aja semua perlakuannya. Gue juga yakin lo pasti masih ada rasa sama dia kan?? Gausah bohong." Naura menatap Adara penuh selidik, dia begitu yakin kalau Adara ini tidak sepenuhnya melepas Gibran. Apalagi dia orangnya seperti itu.
"That simple, Nau. Lo lihat dari mukanya aja udah jelas banget." Vio melirik tajam Adara.
Tapi itu memang benar bukan? Lagian Adara bukan tipe orang yang cepat move on. Jadi, ya, bisa dibilang tebakan mereka berdua benar.
Adara berdecak sembari merapikan anak rambutnya yang berserakan. "Gue aja gatau sama apa yang gue rasain, gue DENIALL NAUU, VII! GUE BINGUNGG."
Mereka serempak menghembuskan napas gusar. "Yaudah, Dar. Lo ngikutin alur perasaan lo aja. Lagian, kalian juga udah ada ikatan, masak iya nanti kalian nikah gaada perasaan? Kan engga lucu."
"Nah, benar apa kata Naura, Dadar! Lagian gue juga dukung lo sama dia visual kalian itu, BEHH mantap bangettt." Vio meletakkan tangannya di dagu, membayangkan seperti apa nanti ketika mereka berdua-- Adara dan Gibran memiliki anak. "PASTI ANAK LU BERDUA GACORR!" Teriak Naura dan Vio secara bersamaan.
Vio dan Naura serempak lari keluar dari bilik pakaian itu. Meninggalkan Adara yang wajahnya sudah merah padam menggabungkan perasaan antara kesal dan sedikit salting.
"BANGSAT!"
***
"IH SEBELL!!" Mawar menggebrak meja kantin cukup kuat, hal itu berhasil membuat beberapa siswa yang tengah bolos jam pelajaran disana melihatnya.
Ishara dan Jennie mengerucutkan bibirnya, sejujurnya dia sudah muak dengan sifat temannya ini. Tapi, bagaimana lagi mereka sudah berteman begitu lama.
"Yaudah kali, War. Gibran juga udah terang terangan bawa Adara." Jennie bersuara.
"Secarakan Gibran gapernah sekalipun bawa cewek. except, si Clarisa." Tambah Ishara.
Mawar yang mendengar penuturan kedua bestie nya mengusap wajahnya kasar. "Ya nggak bisa gitu dong?! Lo tau kan gue dari kelas sepuluh ngejar-ngejar dia? Masak gue nyerah gitu aja??"
Jennie memutar bola matanya malas, dia menyandarkan punggungnya ke kursi kantin. "Masalahnya, ngejar 2 tahun itu nggak jadi jaminan Gibran bakal noleh kearah lo."
Ishara mengangguk setuju, dia mengaduk es jeruknya yang sudah sedikit mencair. "Betul, War. Maksud kita bukan nggak ngedukung lo, ya. Tapi, coba lo sadar sedikit setelah semua perlakuan yang lo dapat dari Gibran dua tahun lamanya. Dia selalu menghindar, malah kadang ngelontarin kata kasar buat lo. Sadar, Mawar."
"Gue enggak peduli, mau dia ngelakuin apapun itu. Yang penting dia gaboleh jadi milik siapapun selain gue." Ucapnya disertai senyuman smirk nya. "Ikut gue, gue mau ngerjain Adara sekarang. Mumpung jadwal kelasnya PJOK."
Mawar beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan semangkuk bakso yang baru ia makan setengah.
Jennie dan Ishara saling bertatapan, kemudian mereka menghela napas berat. Setelahnya, mereka beranjak-- terpaksa mengikuti Mawar.
***
"ALLAHUAKBARR! KENAPA HARUS VOLLY LAGI SI? Bukannya kemarin praktek senam ya?" Adara menepuk jidatnya, pasalnya dia tak handal dalam prakter volly ini. Dia kembali mengingat dulu ia pernah sedikit cidera karena Volly.
Naura meregangkan tangannya ke kanan dan kekiri, ia akan siap dengan praktek sekarang. "Gue suka yang begini."
Memang, ketika permainan Volly Naura juaranya. Dia saja pernah melakukan smash hingga Bimo mengalami mimisan. Sangat kejam.
Sementara Vio merangkul Adara, keduanya memang tidak handal melakukan permainan itu. "Dadar, kita sama. Gimana kita bolos aja?" Ajaknya.
Adara menggeleng pelan meskipun tawaran dari Vio begitu menggiurkan sekarang karena panasnya matahari tepat diatas kepala mereka. "Nggak dulu deh, Vi. Kemarin aja pas prakter Volly gue udah nggak ikut, masak sekarang juga? Apa ga kena amuk gue sama pak Tama."
Benar juga. Pikir Vio.
"Tenang deh kalian berdua. Nanti request aja sama Pak Tama, kalau kita bertiga satu tim. Dia pasti mau. Biar kalian berdiri diposisi aman, soal smash sama terima bola yang kenceng-kenceng biar gue aja. Kalian berdua stay kalem aja."
Naura mengangkat kedua alisnya, lalu memutar lehernya kedua sisi sehingga sedikit berbunyi.
Adara membawa Naura kedalam rangkulannya dengan Vio. "Behh ganass." Ucap Adara sedikit mendorong tubuh Naura.
Vio menyengir kuda. "Kalau ini gue setuju."
-ˋˏ✄┈┈┈┈
YANG MAU LEMPAR MAWAR ANGKAT LEHER!
tebak apa yang mau cabe cabean itu lakuin, stress.
Pengalaman kalian ngejar orang berapa tahun bes?? Biru si 3 tahun, assekk itupun gadapat 😭😭🫷🏻🫷🏻
Wess ahh jan lup spam KOMEN + LIKEE YHH BESS TINGYUU🫰🏻💓
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
