🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.
"Lo aja yang benci jadi cinta. Gue cinta jadi benci." Adara membuat ekspresi adem ayem, tapi didalamnya dia sudah tak tahan ingin tertawa melihat perubahan ekspresi Gibran.
Wajah Gibran yang tadi penuh percaya diri langsung berubah drastis. Senyum lebarnya luntur seketika, digantikan oleh raut wajah cemas yang sangat kocak. "Eh? Kok cinta jadi benci? Jangan dong, Ra! Masa benci sih? Tadi katanya cemburu?"
Adara tetap mempertahankan wajah datarnya, meskipun tangannya yang digenggam Gibran sudah terasa sangat dingin karena menahan tawa. "Ya habisnya, lo dulu sombong banget. Sekarang pas udah dijodohin, baru deh deket-deket gue. Mana cara nembaknya nggak modal banget lagi."
"Iya maaf, kalau gue bisa balik ke masalalu gue bakal ngasih si Gibran itu tamparan keras."
Gibran beranjak dari kursinya, tiba-tiba ia berlutut di samping kasur Adara dengan satu kaki menyentuh lantai-posisi seperti pangeran yang ingin melamar, tapi wajahnya lebih mirip orang yang sedang memohon ampunan.
"Adara Skyzora Abelvan, gue Gibran yang paling ganteng sejagat raya ini, resmi menyatakan kalau gue adalah budak cinta lo sekarang. Pliss Adara sayang jangan benci-benci amat. Gue takut kalau lo benci nanti malah kangennya makin berat."
Adara akhirnya tidak tahan lagi. Tawa kecil meledak dari bibirnya, membuat bahunya terguncang. "Gibran, muka lo jelek bangt sumpah kek gitu."
"KAN KETAWA! Berarti diterima ya?!" Gibran langsung berdiri lagi dengan wajah berbinar. Ia mencubit hidung Adara dengan gemas. "Nggak boleh ada penolakan! Pokoknya per hari ini, jam ini, detik ini, lo resmi jadi milik Gibran. Urusan cinta jadi benci, nanti kita ubah lagi jadi cinta banget sampai mampus."
Adara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata begini pemampakan seorang Gibran saat kecintaan. "Iya-iya terserah, lo."
"Bukan 'terserah lo' Adara, tapi 'iya sayang'," koreksi Gibran sambil mengedipkan satu matanya. Ia kini duduk disamping Adara, merangkulnya sayang.
"Jadi, jadi, jadii, aku boleh kan manggil 'Adara sayang'??" Tanya Gibran penuh semangat.
Adara berdehem, tangannya naik menjambak pelan rambut Gibran. "Suka hati!"
"Ish! Harus pake sayang."
Adara tertawa dan menjauhkan wajah Gibran dari sampingnya. "Iya sayang kuu."
"ASSALAMUALIKUM!!"
Arbil menggaruk tengkuknya saat dirinya sadar jika tengah mengganggu waktu keduanya. "Aduh, maaf ya, gue ganggu."
"BANGET." Tukas Gibran.
Arbil melemparkan kunci motor Gibran tepat terjatuh diatas kakinya. "Tuh, kunci motor lo. Siniin kunci mobil gue." Laki-laki itu meletakkan satu plastik sup yang sudah ia beli sesuai dengan perintah Mauren.
Gibran merogoh sakunya, dan memberikan kunci itu pada Arbil. "Makasih, udah sana-sana, ganggu orang pacaran aja."
Arbil menutup mulutnya-syok, tapi dilebih lebihkan. "OMAKJANG! Jadian?? CIE CIEEE, langgeng yah sampe besok punya sebelas anak!"
Adara membulatkan matanya sempurna, berbeda dengan Gibran yang mengacungkan jempolnya ke udara sembari menyengir. "Amin! Doain aja, Bil."
Adara reflek memukul wajah Gibran dengan bantal yang ada disampingnya. "Gausah stress gitu, Bran."
"Awss, gapapalah sayang. Kita kan mau buat club bola."
"MATANE!" Adara mencubit pinggang Gibran dengan kuat, membuat laki laki itu mohon ampun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
