43. CEMBURU? IYA!

642 57 13
                                        

MOHON MAAF APABILA TYPO MASIH BANYAK BERTEBARAN.

siapkan hati✌🏻
.
.

Sepuluh menit lagi jam pelajaran akan usai. Adara sudah tak tahan ingin langsung merebahkan dirinya dikasur dan membalut tubuhnya dengan selimut, sungguh udara sangat dingin sekarang.

"Zora, kamu kenapa??" Arbil menyadari wajah gadis itu telah berubah menjadi pucat pasi dengan matanya yang sudah sayu.

"Gapapa Bil, pusing dikit aja."

"Aduh, Ra, mending lo pulang sekarang aja jangan ditahan tahan nanti makin sakit."

Adara menggeleng kecil, dia memasukkan penanya kedalam buku dan menutup buku itu. "Bentar lagi bell."

"Lo bawak mobil kan? Gue nebeng ya? Nggak kuat rasanya naik motor sama Gibran."

Arbil menatap wajah Adara dengan raut yang benar benar khawatir. "Iya." Tangan Arbil bergerak merogoh saku celananya, mengambil ponsel dari dalam sana.

Dengan cepat, ia mengetikkan sesuatu dari sana. Tanpa menunggu balasan, dia mematikan ponsel tersebut.

KRRRRRIIIIIIINNGGGGG..

Bell pulang sudah terdengar dengan nyaring. Arbil dengan sigap membantu Adara merapikan barang barang miliknya yang terletak diatas meja, kemudian ia menyandangkan tas Adara pada bahu kirinya, dan tas miliknya dibahu kanan.

Vio dan Naura yang melihat sahabatnya seperti itu langsung kalang kabut menghampiri Adara.

"Kan, apa gue bilang tadi, Dar." Ucap Vio, dia memegang dahi gadis itu yang sudah panas.

"Yaampun, Dara, lo kenapa gak pulang aja sih dari tadi??"

Adara sempat tersenyum, dia menyelipkan beberapa helai rambutnya yang sudah berantakan. "Gue masih kuat, loh. Kalian pada kenapasih?"

Tak berselang lama, Gibran datang dengan napas yang tidak teratur. Dia mengambil kunci dari saku baju Arbil, dan memberikan kunci motornya pada Arbil. sesuai dengan perkataan Arbil padanya diroom chat tadi.

"Ra, sama gue, ya?"

Adara ingin menolak, namun saat dia menatap Arbil, laki-laki itu menyuruhnya untuk tetap nurut. "Zoraa,"

Adara dengan terpaksa meng-iyakan ucapan Gibran itu. Tangan kiri Gibran ia letakkan pada bahunya, dan tangan kanan Adara bertengger manis pada pinggang Gibran.

Sebenarnya, Gibran ingin menggendong gadis itu supaya lebih cepat, namun dia pasti tau jika Adara tengah marah seperti ini, dia tidak akan mau.

***

"Yaampun, Adek.." Saat Mauren membuka pintu, dia sudah dikejutkan dengan Adara yang tengah pingsan digendong oleh Gibran.

"Panas banget. Gibran langsung bawa ke kamar aja, biar bunda ambil obat sama kompres."

Gibran membawa tubuh gadis itu kedalam kamar, sampai disana dia segera membaringkannya dan menyelimuti tubuh Adara. "Ra?"

Dia mengusap pelan pipi gadis itu dengan sayang. Tak lama, Mauren masuk membawa satu baskom kecil berisi air hangat, handuk kecil, dan beberapa macam obat.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang