H A P P Y R E A D I N G
.
.
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Kevin sejak tadi sibuk memunguti bebatuan, entah apa yang ada dipikiran laki laki itu sejak tadi. Irsyad dan Dika yang berada di sampingnya hanya membuang napasnya muak.
"Apasih Kevin? Lo dari tadi nyariin begituan, mana ada disini bego!" Dika mulai mengeluarkan suara.
"Ntah tu." Sambilng Irsyad yang sudah muak. Dia hanya duduk dan menopang pipinya dengan kedua tangan, lelah.
Kevin tetap terus mengutipi batu batu itu. "Lah, keberuntungan gaada yang tau kan? Siapa tau salah satu dari batu disini batu giok kan keren. Apa ga kata mendadak gue?"
Kedua temannya menggeleng. "Stress lu kebanyakan liat dracin lu kan? Ngaku aja lo."
Kevin berdehem pasti. "Emng gue nonton. Ni ya siapa tau tukang sapu di sekolah ni juga CEO yang menyamar, kan gaada yang tau?"
Irsyad menepuk jidatnya. "Dika, dia emang udah gila ini." Celetuknya.
Dika, cowok itu hanya menepuk jidatnya. Dika mengalihkan pandangannya pada laki laki yang perlahan mendekati mereka. Dia menggeleng. "Lo kenapa bisa gitu, Gib!" Dia sedikit menaikkan intonasi nadanya.
Gibran, yaa cowok itu menggangkat bahu dan menurunkan bibirnya seolah tak tau. Dia ikut duduk diatas tembok pendek pembatas UKS.
Dika berdecak sebal. "Sama aja lo kayak Kevin."
Gibran melirik Kevin. "Lo ngapain anjir?"
Kevin menatap Gibran, lalu dia menghentikan aktivitasnya tadi. "Oh gaada, ini tadi uang koin gue jatuh." Ucapnya sembari memukul pelan bahu Gibran.
Menanggapi itu, Gibran hanya ber oh-ria saja. Sementara Irsyad dan Dika mengerutkan alisnya heran. Dia memang gila! Begitu pikiran mereka.
"Capek bro?" Kevin membuka pembicaraan.
Gibran menggeleng. "Biasa aja."
Kevin menutup mulutnya dan membuat ekspresi seolah olah tengah syok. "Ah yang bener?? Apa karena habis main sama Vania??" Kevin tersenyum meledek.
Gibran seketika menatap garang lelaki disebelahnya itu. "Mata lo."
"Jarang jarang loh Gibran negur cewek duluan, biasanya kan, emm." Irsyad mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuk, seolah berfikir keras.
"Iya tuh." Timpal Kevin.
Mata kevin menangkap Adara yang tengah melempar bola kearah Violetta. "Ngomong ngomong soal Adara, lo udah minta maaf sama dia??" Kini berubah. Suasana yang tadinya biasa saja berubah manjadi hening, terlihat perubahan wajah pada Gibran.
Irsyad mengangguk setuju, "Iya, gimana?"
Sementara Dika? Dika hanya terdiam, kejadian selang beberapa minggu kemarin mampu membuatnya sedikit merasakan sakit hati. Entahla, cowok itu kini bingung dengan perasaannya sendiri.
Bayang bayang kejadian minggu kemarin terus berputar dikepala Gibran. Apalagi ini, teman temannya masih membahas topik trending minggu lalu.
Gibran menggeleng menjawab pertanyaan Kevin dan Irsyad.
"YaAllah Bran! Lo mau dia punya dendam sama lo? Nanti lo di kapak gimana?" Ah lelaki itu tau saja berita yang tengah heboh.
"Ntah tu, lo jahat banget banget banget kemarin itu." Tambah Irsyad.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
