24

701 60 5
                                        

H A P P Y R E A D I N G

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Gibran tetap berjongkok didepan Adara, lalu dia beralih duduk di rerumputan hijau itu. "Gue kena hukum, disuruh bersihin itu." Dia menunjuk kearah taman baca.

"Pftt.." Adara menahan tawanya. "Tumben, tumbenan." Gadis itu kemudian beralih ikut duduk disebelah Gibran, tidak sopan bukan jika dia tetap duduk diatas??

Gibran terdiam sebentar, kepalanya kembali mengingat mimpinya beberapa menit lalu. Dia kemudian menatap Adara disampingnya yang tengah menarik narik rumput.

"Gue, ketiduran. Terus, mimpiin lo, Ra."

Adara yang merasa namanya disebutkan langsung melirik Gibran, ia membelakkan matanya. "Mimpi apa??"

Gibran terdiam sejenak, dia ingin berbicara tetapi ia malu untuk mengakuinya. Secara, dia kemarin begitu bersikeras untuk menolak Adara.

"Anu, gausah dipikirin."

Adara mengerutkan keningnya heran, cowok itu begitu aneh sekarang. Terkadang hangat, terkadang juga dingin.

Keduanya diam setelah itu, tidak ada lagi interaksi setelahnya. Adara ingin beranjak dari tepat itu menuju kelas. Sebentar lagi pergantian jam dari IPA ke PJOK, ia ingin mengganti seragamnya.

Tapi, saat ingin berdiri, tangannya di tahan oleh gibran. "Tunggu,"

"Kenapa? Sebentar lagi mapel gue ganti."

"Lo,"

"ADARAA!! GANTI SERAGAM LO, BENTAR LAGI PAK HERU--" Ucapan Gibran terpotong setelah Naura datang dengan berteriak kencang.

Naura terdiam, matanya menatap Gibran yang berada tepat di samping Adara tangan masih setia menggenggam tangan milik Adara.

Merasa suasana mendadak hening, Adara mengalihkan netranya ke tangan Gibran, dengan cepat ia menepisnya lalu berdiri. "Iya, otw gue." Ia menepuk nepuk rok miliknya dari debu.

"Sip, gue duluan." Naura mengangkat jempolnya dari jauh pertanda iya. Lalu dia berbalik badan meninggalkan mereka berdua.

Sementara lelaki yang masih duduk direrumputan itu terus menatap Adara yang berdiri disampingnya. "Lo gapapa tetap praktek? Kaki lo," Gibran memfokuskan pandangannya ke lutut gadis itu.

Adara berdecak. "Ah, gapapa. Yauda gue pergi."

Setelah mengatakan itu, punggungnya perlahan menghilang ditelan pembelokan. Gibran meringis, "aishh, kenapa gue ga nanya siapa cowo yang sama Dara tadi. Ck, nanti aja deh pas pulang." Toh Adara akan pulang bersamanya, begitu pikirnya.

"Aiya hukuman gue tadi. CK, MALAS!"

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

"NAURA, MANA PARFUM GUEEE??" Vio memekik hebat, sedangkan dirinya masih berada di luar kelas tetapi suaranya? Behh berhasil membuat Naya terkejut dan membuat liptint yang ia gunakan berserakan.

Tepat saat Vio melangkahkan kakinya kedalam, "VIOANJENGGG!!!! LIAT BIBIR GUEE!!" Naya berteriak murka, sedangkan Vio hanya terkikik meledek Naya.

"AHAHAHAHA mirip bu Astuti!" Tukasnya.

"KURANG ASIN!" Naya menggebrak meja belajarnya yang dipenuhi oleh alat make up, yaahh tiada hari tanpa touch up.

"Diem deh kalian, kuping gue dua duanya kena ini, AH!" Naura bersuara, lalu keduanya terdiam.

Naura melemparkan parfum kaca itu ke arah Vio, pemiliknya tentu saja kaget karena itu parfum mahal. Lihat! Mereknya saja YSL "NAURAANJEENG! ini mahal ogeb, ga berperasaan banget lu kutu kupret!" Ocehnya.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang