31

568 63 6
                                        

Suasana pagi di depan gerbang rumah Adara sudah seperti medan perang kecil. Deru mesin motor sport Gibran yang berat dan rendah seolah memberikan tanda bahwa hari ini ketenangan Adara akan berakhir.

Adara berdiri kaku di balik pagar, menggenggam tali tasnya erat-erat.

​"Gibran, lo gila ya?! Kita kan udah sepakat buat ngerahasiain ini semua, kok jadi gini si Gib!" Adara setengah berteriak, mencoba mengalahkan suara knalpot motor yang berisik.

​Gibran hanya menaikkan kaca helmnya sedikit, memperlihatkan mata tajamnya yang berkilat jenaka.

"Kesepakatan itu dibuat untuk dilanggar, Ra. Lagian, motor gue lagi pengen bonceng orang cantik, bukan angin. Cepetan naik."

​"Gak mau! Gue berangkat bareng Arbil!" Adara bersikukuh.

​Tiba-tiba, Arbil muncul dengan gaya santainya. Ia memakai jaket denim, kunci motor berputar di telunjuknya, dan senyum miring yang menandakan dia sedang merencanakan sesuatu yang jahil.

Arbil berjalan mendekati Adara, lalu menatap Gibran. ​"Wah, calon pengantin pagi-pagi udah ribut aja," celetuk Arbil.

​"Bil, bantuin gue! Bilang sama cowok ugal-ugalan ini kalau gue berangkat bareng lo!" rengek Adara.

​Arbil pura-pura berpikir sejenak. Ia melihat Adara, lalu melihat motor sport Gibran yang harganya mungkin setara dengan koleksi sepatu basketnya. Tiba-tiba, Arbil merampas tas sekolah Adara dari pundaknya.

​"Bil! Apa-apaan sih?!"

​"Zora, Zora... lo itu emang hobi banget ngerepotin diri sendiri," ujar Arbil sambil tertawa kocak.

Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Arbil malah melempar tas Adara ke arah Gibran. Gibran dengan sigap menangkapnya dan menaruhnya di tangki motor.

​"Arbil! Balikin tas gue!" Adara mulai panik.

​"Nggak akan. Lo berangkat bareng Gibran, atau tas lo gue buang ke got depan," ancam Arbil sambil nyengir lebar.

"Lagian Ra, sesekali biarin anak sekolah Andromeda jantungan. Kasian tuh si Gibran udah cakep-cakep masa cuma dapet asap motor gue."

​Arbil mendekat ke arah Adara, mendorong bahu gadis itu perlahan agar mendekat ke motor Gibran. "Udah, naik gih. Biar satu sekolah tau kalau spek dewa kayak Gibran ini udah ada yang punya. Jangan biarin mawar-mawar layu di sekolah lo kepedean."

​"Arbil, lo jahat banget bangsat, sumpah!" umpat Adara, meski akhirnya ia pasrah dan naik ke jok belakang motor sport itu karena Gibran sudah menarik gasnya perlahan.

​"Hati-hati, Gibran! Kalau adek gue lecet, gue tagih maharnya dua kali lipat!" teriak Arbil sambil melambaikan tangan, tertawa puas melihat Adara yang terpaksa memeluk pinggang Gibran saat motor itu melesat pergi.

***

​SMA Andromeda sedang berada di puncak keramaian pagi. Siswa-siswi bergerombol di koridor, ada yang sibuk menyontek tugas, ada yang sekadar bergosip.

Namun, semua aktivitas itu mendadak terhenti seolah ada tombol pause raksasa yang ditekan saat sebuah motor sport hitam yang sangat familiar menderu masuk ke area parkir depan, tepat di dekat lobi utama.

​Biasanya, Gibran akan datang sendirian menggunakan mobilnya dengan aura dingin yang membuat siswi-siswi hanya berani menatap dari jauh. Tapi pagi ini, ada pemandangan yang membuat jantung satu sekolah seakan berhenti berdetak.

​Gibran turun, melepas helmnya, dan dengan santai mengacak rambutnya yang sedikit berantakan.

Namun, fokus semua orang bukan pada ketampanan Gibran, melainkan pada sosok gadis yang turun dari boncengannya. Gadis itu menunduk sangat dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut panjangnya.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang