22

678 63 4
                                        

"Kiss dulu."

Adara membelakkan matanya, dia tak percaya dengan ucapan gibran dua detik yang lalu. "Cowo gila." Sarkasnya.

Gibran tertawa kecil. "Canda canda, ambil nih." Dia meletakkan permen itu di tangan kanan adara, adara menerimanya lalu kembali membuat muka jutek.

"Nanti berhenti di tempat biasa." Ujar Adara.

"Kalau gue gamau gimana?" Goda lelaki itu.

Adara berdecak sebal, laki-laki itu selalu membuatnya kesal bukan main. "Gue lompat dari mobil lo." Sarkasnya.

"Gila."

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Rahsya mengerutkan alisnya, melihat siapa sosok perempuan yang tengah menjadi buah bibir disana. "dara bukan??"

Rahsya mengamatinya berkali kali, "ah iya, kalau itu Dara, gelangnya pasti sama. Secara kan dia gasuka gonta ganti gelang." Rahsya menyipitkan matanya melihat pergelangan tangan gadis itu, TIDAK ADA! Ya, dia tidak mengenakan gelang di pergelangan tangannya.

Rahsya tersenyum sedikit, hanya sedikit. "Bukan berarti." Simpulnya. Tak lama ia pergi meninggalkan mading tersebut.

"Tapi, kalau dilihat secara fisik itu benar benar terlihat seperti Adara. Gimana kalau?? ahh kan kemarin Adara ga ada sama sekali melirik gibran sejak kejadian bajingan itu." Dia begitu denial dengan perasaannya.

Sepanjang koridor sekolah, Rahsya selalu memperhatian siswa siswa yang lewat, siapa tau dia berjumpa dengan gadis maniak biru itu.

Sampai lah dia tepat di depan kelas Adara, dia menoleh sedikit kedalam kelas. Disana ada Naura yang tak sengaja ikut melihatnya. "Eh." Rahsya kembali membuang pandangannya.

Sementara Naura tersenyum tipis. "Kapan si Sya, lo notice gue?"

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

"STOP!" titah gadis itu.

Gibran tak peduli, dia tetap melajukan mobil miliknya.

"Gibran! Berhenti." Ulangnya lagi. Beberapa menit yang lalu juga sama, dia terus merengek ingin berhenti di tempat biasa, warung milik pak kumis.

"Berisik lo, diam aja ngapa?" Ujar lelaki itu, dia melirik sedikit kearah gadis yang tengah meledeknya.

"Gibran berhenti, gue gamau kalau mereka tau gue berangkat sama lo." Dia mengerutkan keningnya kesal.

Gibran terdiam, se-enggak mau itukah dia? Apa ini perkara kesalahan fatalnya minggu lalu? Dia masih marah?? Begitu fikirnya.

"Kenapa lo se-enggak mau itu orang lain tau tentang ini?"

Adara diam, tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, sedikitpun tak ada.

Gibran menatap gadis itu, tidak peduli dengan jalanan sekarang. Dia menggigit bibir dalamnya. "Maaf," lirihnya.

Adara melirik sebentar. "Fokus sama jalan lo, gue gamau mati muda." Ketusnya. Dia kembali menyapu pandangannya ke jalanan tidak memperdulikan laki laki yang sejak tadi terus menatapnya.

"Ra--"

"Makasih, gue duluan." Gadis itu keluar dari mobil civic milik gibran yang telah sampai dipekarangan mushola.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang