🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.
"Gibran mau ngapain ya? Takut banget gue." Monolog Adara. Jelas jelas dia melihat perubahan wajah Gibran yang awalnya manis tiba tiba jadi semenyeramkan itu.
BRAKKK!!
Pintu UKS terbuka lebar, membuat Adara tersentak. muncul Naura dan Violetta dengan wajah panik yang luar biasa. Naura bahkan masih membawa botol jus alpukatnya yang tinggal setengah.
"Adara! lo nggak apa-apa?!" Seru Naura langsung menghampiri brankar.
"Tadi gue liat Gibran jalan di koridor kayak mau baku hantam orang, terus Bimo bilang lo kena musibah di dekat tangga."
Vio meraih tangan Adara, "Wah anjir! Ini bener bener kelakuannya si Mawar cabe-cabean??"
Adara mengangguk pelan, bahkan matanya yang merah masih kelihatan. "Gue nggak masalah sama tangan gue yang kena kopi panas, Vi. Tapi makalah gue.. hancur lebur kena kopi tadi.."
"Yaelah, Dar, itu mah gapapa nanti bisa dibuat lagi. Lah tangan lo?? Keduanya lagi yang kena." Naura berseru panik sambil menunjuk kedua tangan Adara yang kini sudah terbungkus perban putih.
Adara hanya bisa menatap kedua tangannya yang terasa kaku dan perih. Ia merasa sangat tidak berdaya. Jangankan mau ngetik ulang, mau pegang sendok pun rasanya akan susah sekarang.
"Gue yakin si, si Gibran itu bakalan ngelakuin sesuatu ke Mawar." Naura meletakkan jusnya diatas brankar dan beralih menatap serius Adara.
"Iya, apalagi ini udah bahaya banget, Dar. Gapapa si masalah makalah karena lo bisa minta keringanan sama Buk Dina." Tambah Vio.
"Iyasi,"
***
Gibran berjalan menyusuri koridor dengan tatapan yang tajam. Setiap siswi yang berada didekatnya reflek memberikan jalan karena tidak biasanya wajah Gibran kenjadi seram seperti ini.
Didepan loker IX, Mawar dan kedua dayangnya tengah asik tertawa dengan puas, seperti tengah memenangkan taruhan. Mawar bahkan sempat meniru mimik wajah Adara yang kesakitan tadi.
"Sumpah, tadi mukanya Ada--"
BRAKKK
Pintu loker dipukul begitu kuat tepat disebelah telinga Mawar, membuat ketiga gadis itu terlonjak kaget. Begitupun dengan Mawar yang telinganya berdenging hebat akibat pukulan Gibran.
"Emang anjing lo pada, ya." Tidak teriak, tidak menekan. Gibran hanya berbicara santai. Mengudang beberapa siswa untuk berhenti, meskipun jaraknya agak jauh.
"G-gibran, lo kenapa??" Mawar menautkan alisnya bingunv. Sebelumnya dia belum pernah dia melihat Gibran seperti sekarang.
Gibran menyunggingkan senyumannya. "Kopi panas, ya?"
Mawar, Ishara, dan Jennie gelagapan. Bagaimana bisa lelaki itu tau. "H-hah?? Kopi apanya??"
"Iya ih, Gibran lo kenapa??" Timpal Jennie.
"Gausah ekting, gue paling benci orang munafik." Tukas Gibran. Dia beralih menatap Jennie yang sudah menciut. "Lo kan yang dengan sengaja numpahin itu ke Adara?" Masih dengan nada yang pelan.
Ketiganya bungkam. Mereka belum pernah melihat Gibran semarah ini. Biasanya Gibran hanya cuek atau membalas dengan sindiran pedas, tapi kali ini, Gibran terlihat seperti ingin menghancurkan apa saja di depannya.
"Kalian tau nggak?"
"Adara itu nggak pernah punya musuh. Dia nggak pernah cari masalah sama kalian. Tapi hari ini, kalian udah bikin dia nangis. Lo pada udah bikin tangannya luka." Gibran menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfic[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
