41. BENDERA PUTIH DARI MAWAR

648 69 5
                                        

Mawar menjatuhkan badannya dikursi, dia mengacak acak rambut curly miliknya. "Memang gaada celah lagi gue buat dapatin Gibran,"

Ishara ikut duduk disamping Mawar disusul dengan Jennie yang mengusap bahu gadis itu. "Lo harusnya sadar sejak awal, War." Jennie berbicara dengan lembut.

"Iya, Mawar. Kita dari awal emang nggak suka ngekiat lo ngejar-ngejar Gibran. Bukan maksudnya apa apa ya, War, cuma lo bisa dapatin yang lebih dari dia." Ishara berusaha semaksimal mungkin berbicara pelan, agar Mawar tidak tersulut emosi duluan.

Mawar membuang napasnya kasar. "Jadi, gue sekarang harus apa?"

Jennie dan Ishara saling bertatapan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mereka menasehati gadis itu.

"Lo denger baik baik omongan kita ya, jangan asal lo telan aja, War." Jennie menyandarkan badannya pada kursi itu.

"Percuma, War, percuma. Percuma lo ngejar-ngejar dia yang bahkan sama sekali enggan ngeliat ke arah lo. Itu bakal ngebuat lo cape sendiri, Mawar." Ishara menatap Mawar yang melamun.

"Lo lihat? Cara apa yang udah lo lakuin ke Gibran supaya dia ngelihat kearah lo? Udah semua kan?? Bahkan cara yang paling memalukan sekali pun?" Tambah Ishara lagi.

Mawar terdiam. Kata-kata Ishara barusan seperti hantaman keras yang meruntuhkan tembok egonya yang selama ini ia bangun setinggi langit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tergeletak di atas meja loker- rambut yang berantakan, dan wajah yang penuh dengan ambisi yang melelahkan.

​"Gue... gue cuma mau dia liat gue sekali aja, Jen," bisik Mawar, suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga.

​Jennie menggeser duduknya, menggenggam tangan Mawar yang terasa dingin. "War, dengerin gue. Mencintai seseorang itu harusnya bikin lo ngerasa berharga, bukan malah bikin lo kehilangan harga diri. Lo terlalu sibuk ngejar matahari yang nggak pernah mau terbit di cakrawala lo, sampai lo lupa kalau lo sendiri itu bintang yang bisa bersinar tanpa dia."

​Ishara mengangguk pelan, menatap Mawar dengan tatapan sendu. "Mengejar orang yang nggak mencintai kita itu ibarat lo lagi meluk kaktus, War. Makin erat lo peluk karena takut kehilangan, makin dalam durinya nancep di kulit lo sendiri. Yang luka itu lo, bukan kaktusnya. Yang berdarah itu hati lo, sementara dia? Dia bahkan nggak ngerasa sakit sedikit pun."

​Suasana di lorong loker itu mendadak sunyi, hanya menyisakan isak tangis Mawar yang mulai mereda.

Ada benarnya.

Selama ini, Mawar bukan sedang memperjuangkan cinta, ia sedang memperjuangkan obsesi yang membakar dirinya sendiri. Ia terlalu fokus menjadi "pemenang" untuk mendapatkan Gibran.

​"Kadang," lanjut Jennie lagi, "melepaskan itu bukan tanda kalau lo kalah atau lemah. Melepaskan itu tandanya lo cukup kuat buat bilang ke diri lo sendiri kalau 'Gue berhak bahagia dengan cara yang lebih baik'. Lo berhak dicintai tanpa harus mengemis, War."

​Mawar menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak sejak tadi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa sesak itu sedikit berkurang.

Mawar kembali membayangkan seberapa bersalahnya dia pada Adara hanya karena rasa cemburunya, yang bahkan bukan siapa siapanya Gibran.

​"Gue capek," gumam Mawar lirih. "Gue bener-bener capek jadi orang jahat cuma buat narik perhatian orang yang nggak peduli."

​"Ya udah, berhenti ya?" Ishara tersenyum tulus, merangkul bahu Mawar. "Kita mulai lagi. Lo tetep Mawar yang cantik, tapi tanpa embel-embel 'pengejar Gibran'. Oke?"

​Mawar mengangguk pelan, sebuah anggukan yang mantap. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan ego dan obsesinya luruh bersama sisa air mata yang jatuh.

Ia sadar, mencintai terlalu dalam pada orang yang salah hanya akan membuat dunia yang luas terasa sempit dan gelap. Kini, ia memilih untuk berjalan mundur, keluar dari lingkaran gila yang ia buat sendiri.

​"Oke," ucap Mawar mantap, meskipun suaranya masih sedikit serak. "Gue bakal minta maaf ke Adara. Bukan karena takut sama ancaman Gibran, tapi karena gue emang salah. Gue mau hidup tenang."

​Jennie dan Ishara tersenyum lega. Mereka tau, butuh keberanian besar untuk mengakui kekalahan pada diri sendiri.

***

​"Adara," suara Mawar pelan, tapi terdengar jelas di tengah kesunyian koridor.

Gadis itu benar benar menetapi janjinya, dia datang sejak beberapa menit lalu membuat siswa yang berlalu lalang mendadak memberhentikan langkahnya ingin melihat apa yang sedang terjadi.

​Adara yang berada disamping Gibran tersentak. "Iya, War?"

​"Gue... gue mau minta maaf," ucap Mawar.

Adara mengangkat kedua alisnya, heran. Mengapa gadis akuh ini bisa mengakui kesalahnya didepan banyak orang seperti ini?

Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Soal insiden kopi kemarin, itu emang sengaja gue lakuin. Gue nyuruh Jennie buat siram tangan lo karena gue iri, gue marah liat lo bisa sedeket itu sama Gibran sementara gue nggak pernah dianggap."

​Seisi koridor riuh rendah. Mereka tidak menyangka Mawar akan mengakui tindakannya secara terang-terangan tanpa pembelaan "kecelakaan" seperti biasanya.

​"Gue minta maaf udah bikin tangan lo luka, gue minta maaf udah sering nge-bully lo, dan gue minta maaf udah jadi orang yang jahat cuma buat menuhin obsesi gue sendiri," lanjut Mawar.

Setitik air mata jatuh di pipinya, tapi kali ini bukan air mata pura-pura. Terlihat tulus dari hati.

"Gue juga, Dar. Maafin gue karena gue ikut terlibat dalam masalah ini. Apalagi gue yang numpahin itu dengan sengaja ke lo. Gue minta maaf." Tambah Jennie. Rasa bersalah juga ada pada dirinya.

Ishara ikut, dia maju satu langkah mendekat kearah Adara. "Gue juga minta maaf, Ra."

​Adara terdiam. Ia menatap tangannya yang lukanya sudah mulai mengering, lalu menatap Mawar yang kini menunduk dalam di depannya. Rasa benci yang tadi sempat ada di hati Adara menguap begitu saja melihat Mawar.

​"Gue udah maafin kalian kok." jawab Adara lembut. Ia maju selangkah, melepaskan pegangannya dari seragam Gibran.

"Makasih udah mau jujur. Gue nggak dendam kok, asal lo pada jangan ulangi lagi ke siapa pun, bukan cuma ke gue."

​Mawar mengangguk cepat, menyeka air matanya. "Makasih, Ra. Makasih banyak."

​Gibran yang sejak tadi memasang wajah kesal mendadak terdiam. Ia melihat perubahan nyata di mata Mawar-bukan ketakutan karena ancaman rekamannya, melainkan kesadaran diri.

Gibran menurunkan tangannya, ia menyelipkan kembali ponselnya ke saku.
​"Janji lo gue pegang, Mawar. Kalau lo berubah, rekaman itu bakal tetep di gue tanpa ada yang tau," ucap Gibran, suaranya tidak sedingin tadi meski tetap tegas.

​Mawar menatap Gibran terakhir kalinya, bukan lagi dengan tatapan memuja yang berlebihan, tapi dengan tatapan pamit. "Gue nggak bakal ganggu kalian lagi, Gibran. Gue mau fokus sama hidup gue sendiri."

Setelah itu, ketiga lambe gosip Andromeda itu pergi dari sana meninggalkan setuja tanya dari siswa siswa lainnya.

Adara berbalik menatap Gibran. "Lo yang nyuruh mereka?"

Gibran mengangguk, menarik lengan Adara lembut. "Ayo ke kantin, gue belanjain apapun yang lo mau."

"APAPUN??!"

"Iya, Adara sayang."

-ˋˏ✄┈┈┈┈

IYA IYA TAUNYA KESAYANGAN, GAUSAH KEK GITU JUGA DEH.

vote komen yahh bess 🫰🏻

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang