30

606 64 4
                                        

​"Arbil? Dia itu... orang yang paling tahu segalanya tentang gue, Bran. Dari gue masih hobi main tanah sampai sekarang," jawab Adara santai, matanya melirik reaksi Gibran dari sudut mata.

​Gibran mendengus, tangannya kini beralih menumpu dagu. "Oh, jadi semacam bodyguard masa kecil gitu?"

​"Bisa dibilang gitu. Dia mantan gue, tapi ya... kita udah kayak saudara karena orang tua kita sahabatan. Makanya dia sok asik banget di sini," lanjut Adara.

Dia sengaja menekankan kata 'mantan' hanya untuk melihat alis Gibran yang langsung bertaut.

​Gibran terdiam, atmosfer di sekitarnya mendadak sedikit berubah. "Mantan, ya? Pantesan manggilnya 'Zora'. Nama panggilan khusus?"

​"Iya, cuma dia yang boleh panggil gitu," goda Adara lagi.

​Gibran langsung menoleh, menatap Adara dalam. "Sekarang gue juga bakal buat nama panggilan lain. Nggak ada pengecualian."

​Adara tertawa kecil melihat sifat posesif Gibran yang mulai muncul. Namun, tawa itu perlahan surut saat ingatannya kembali ke masa lalu. Masa di mana dia mengejar Gibran layaknya orang gila, namun laki-laki di sampingnya ini justru mempermalukannya di depan banyak orang.

Rasa sesak itu masih ada, terselip di antara rasa sukanya yang kini mulai tumbuh kembali.

​"Kenapa diam?" Gibran menyadari perubahan raut wajah Adara. Dia meraih tangan Adara, menggenggamnya lembut.

"Lo masih ingat kejadian waktu itu, ya?"
​Adara menarik napas panjang.

"Gue cuma lagi mikir, Bran. Lo yang sekarang... kenapa beda banget sama Gibran yang dulu gue kejar-kejar? Dulu lo kayak batu, dingin, bahkan tega bikin gue malu di depan anak-anak sekolah. Sekarang? Lo malah hobi modus."

​Gibran menunduk, ada penyesalan yang terlihat jelas di matanya. "Gue bego dulu, Ra. Gue telat sadar kalau orang yang selama ini ada di depan mata gue adalah orang yang paling berharga. Maafin gue, ya?"

​Adara menatap pergerakan pepohonan yang tertiup angin. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi dia nyaman, tapi di sisi lain dia takut kejadian lama terulang lagi. Apalagi status perjodohan mereka yang masih menjadi rahasia di antara keluarga, membuat Adara merasa terbebani.

​"Gue masih bingung, Bran. Hati gue belum sepenuhnya percaya kalau lo beneran berubah," bisik Adara jujur.

​Gibran tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Adara. "Kalau gitu, kasih gue waktu buat buktiin. Sampai nanti kita lulus SMA, dan gue beneran tepatin omongan lo di parkiran tadi."

​"Omongan yang mana?" tanya Adara polos.

​"Soal nikah sama gue," bisik Gibran sambil mengedipkan sebelah matanya.

​"GIBRANNN! SUMPAH YA!" Adara langsung berdiri, wajahnya memanas hebat. Dia berniat lari, tapi Gibran lebih cepat menangkap pergelangan tangannya dan menariknya kembali duduk.

​"Udah, habisin dulu spagettinya. Jangan kabur terus, nanti Arbil makin ngetawain lo kalau liat muka lo merah kayak kepiting rebus gini," goda Gibran lagi, kembali ke mode tengilnya yang biasa.

***

Setelah menghabiskan spagetti di taman dengan suasana yang campur aduk, Gibran dan Adara akhirnya kembali ke dalam rumah.

Gibran berjalan di belakang Adara, masih dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, sementara Adara sibuk menepuk-nepuk pipinya yang masih terasa panas.

​Begitu sampai di ruang makan, pemandangan yang menyambut mereka adalah Arbil yang sedang asik menyandarkan punggungnya di kursi sambil memainkan kunci motor milik Gibran.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang