🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.
"ADARA SAYANG!"
Mauren sedikit terlonjak kaget dengan suara teriakan Gibran. Wanita itu mengelus dadanya pelan-pelan. "Gibran! Kamu bikin bunda kaget aja deh."
Gibran menyengir, dia berlari kecil dari ambang pintu hingga kearah meja makan, lalu menyalimi Mauren. "Maaf bunda, Gibran semangat banget ini buat sekolah."
Mauren menggelengkan kepalanya, "Adara lagi dikamar tuh, paling nyusun buku. Kamu naik aja gih, keatas." Ucap Mauren menunjuk pintu kamar Adara yang terbuka, dapat dilihat dengan jelas dari bawah.
Gibran memberikan hormat, kemudian pergi menaiki satu per satu anak tangga.
"Ya Allah si Gibran, kalau udah kecintaan begitu ya? Perasaan kemarin nggak sebegitunya deh." Mauren kemudian terkekeh mengingat ekspresi sumringah Gibran.
Gibran menatap Adara yang tengah merapikan buku-bukunya dari ambang pintu. "Sayang," panggilnya.
Gadis itu menoleh kebelakang, memberikan senyuman manis pada Gibran. "Hai, kamu baru sampai? Apa udah dari tadi?" Adara hendak menyandang tasnya, namun terlebih dahulu diambil alih oleh Gibran.
"Iya baru. Udah tas kamu biar aku bawa." Dia menyampirkan tas kecil Adara pada bahu kanannya, dan miliknya berada di kiri.
"Ini serius gaada asupan pagi?" Celetuk Gibran lagi.
Adara mendengus kesal, dia paham betul maksud dari ucapan Gibran. "Nggak ada. Repot deh kamu, masih pagi juga."
"Yah.. kok gitu sih, yaudah nggak semangat." Gibran menyandarkan bahunya pada kusen pintu, menatap Adara dengan tatapan menyedihkan.
"Gibran ih, malu. Kamu alay banget sih sekarang??"
"Biarin! kalau sama kamu."
Gadis itu menyerah, dia merentangkan tangannya dihadapan Gibran. Dengan semangat laki-laki itu menyambutnya.
Gibran langsung menghambur, memeluk Adara dengan sangat erat sampai gadis itu sedikit terangkat dari lantai. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adara, menghirup aroma yang selalu menjadi favoritnya.
"Nah, kalau begini kan semangat aku langsung penuh. Melebihi matcha premium-nya Dika," bisik Gibran rendah, suaranya terdengar sangat puas.
"Udah Gib, nanti kita telat lagi." Keluh gadis itu.
"Sebentar, Adara sayang. Lima detik lagi," gumam Gibran, malah semakin mempererat dekapannya seolah tidak ingin kehilangan momen sedetik pun.
Setelah beberapa saat, Gibran melepaskan pelukannya, tapi tangannya tetap bertengger manis di pinggang Adara. Ia menatap wajah pacarnya itu dengan tatapan memuja. "Kamu kok cantik banget sih pagi ini? Jadi malas bawa kamu ke sekolah, takut banyak yang naksir."
"Heh! Bunda bisa liat ya," ucap Mauren dari bawah.
Gibran dan Adara serentak menatap Mauren yang sudah berkacak pinggang dibawah sana. "Ck, ck, ck, dasar anak muda." Ucapnya sambil menggeleng, namun dia tetap tersenyum.
"Tolonglah kasihani kakak mu ini, dek." Ucap Lisa dengan nada yang menyedihkan.
"Kan! Aku lupa lagi kalau dari bawah kamar aku bisa diliat. Kamu sih!" Adara memukul lengan Gibran pelan.
***
Begitu motor sport hitam Gibran memasuki gerbang sekolah, suasana parkiran yang tadinya bising mendadak hening sesaat. Semua murid menatap tidak percaya melihat siapa yang duduk di bangku penumpang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
