TYPO, HARAP HATI HATI‼️
.
.
"Bangke, kaos kaki siapa ini?" Irsyad berdecak saat melihat sepasang kaos kaki yang terletak tepat diatas sepatu miliknya.
Kevin mengangkat tangan kirinya sedangkan tangan kanannya sibuk memainkan stik PS. "Gue!" Dia berteriak sedikit keras agar dapat didengar oleh Irsyad.
"Haram lo, asal letak kaos kaki. MANA BAU LAGI, LO NGGAK PERNAH GANTI KAOS KAKI KEVIN?! BAU BANGKAI TIKUS!"
Kevin berdecak saat permainan dimenangkan oleh Dika yang berada disampingnya. Lalu dia melirik Irsyad yang tengah mendumel. "Kurang ajar, gue baru ganti itu empat hari yang lalu! Lagian lo ribet amat Syad, tinggal buang doang ah!"
"Atau lo yang gue buang dari rumah gue ini??" Ancam Kevin.
Sudah menjadi rutinitas mereka bermain dirumah Kevin, karena disini semua telah disediakan oleh kedua orang tua Kevin oleh karena itu mereka manjadikan rumah Kevin sebagai basecamp.
"Iya-iya!" Dengan kasar Irsyad mencampakkan asal kaos kaki itu, ia meletakkan sepatu itu didalam rak agar terlihat lebih rapi.
Dika tertawa saat dia kembali memenangkan permainan. "Udah gue bilang, gue emang jago. Bukan hoki!"
"Yeee, pasti cuma keberuntungan kedua itu."
Dika melempar kulit kacang kearah Kevin. "Lo gengsi amat ngaku kalah. Udah lah mana matcha gue? Gue kan menang."
Kevin memutar bola matanya malas, lalu memberikan Dika dua lembar uang berwarna biru. "Nah, beli sendiri."
Dika dengan cepat mengambil uang itu dan menciumnya penuh bangga. "Matcha, i'm coming!" Ucapnya bahagia.
"Kalian udah liat instagram-nya Gibran??" Celetuk Irsyad. Dia berjalan sembari membuka story closefriend Gibran. Laki laki itu mem-pause sg tersebut menunjukkannya pada Kevin dan Dika.
"get well soon, kesayangan🤍"
Begitu kalimat yang tertulis diatas foto Adara yang tengah mengerucutkan bibirnya gemas.
"Anjir, Ini beneran si Gibran??" Dika yang tadi sibuk berhayal matcha kesukaannya kini dengan spontan mengambil alih ponsel Irsyad.
"Kesayangan?! PAKAI EMOT LOPELOPE PUTIH?? WHATTT??!!" Teriak Kevin histeris, "Lo yakin ini ig si Gibran?? Bukan akun pulsa??"
Irsyad kembali menarik ponselnya dan mendengus kesal. "Akun dia lah, somplak! Lo liat noh username nya. Lagian siapa yang bisa masuk kerumah Adara disaat maknya gaada dirumah?? Cuma Gibran kalii!"
Dika tertawa ngakak sembari menepuk nepuk bantalan sofa yang terletak di pahanya. "Lo ingat kata kata dia kemarin?? Dia gabakal jatuh cinta ke Adara. PRETTT.."
"Iya lagi, AHAHAHA. Beneran apa yang dibilang Irsyad, nelen ludah sendiri! Dasarr Gibran."
"Gue gaakan cinta sama dia, hokcuh! Buktinya sekarang kecintaan sendiri, alahh alahh Gibrann Gibran." Samber Irsyad, dia mencoba menirukan gaya bicara Gibran yang sok cool.
Dika menghentikan tawanya. Ia duduk bersila, wajahnya berubah menjadi sok serius seperti detektif. "Bukan cuma itu aja. Gibran itu typikel orang yang malas ngetik panjang, dia lebih suka nyingkatin kata sampe kita gabisa baca. Apalagi ini pakai pakai emoji love segala, yang jelas jelas dia gapernah ngasih tu emot ke siapapun,"
"Termasuk Clarisa." Tambah Irsyad.
"Tuh kan! Clarisa yang notabenya bestie lama Gibran aja nggak pernah tu begono. Lo ingat gak, yang Clarisa dirawat di Rumah Sakit, dia cuma posting di secondaccount-nya yang isinya cuma kita bertiga pluss Clarisa. TERUSS, captionnya 'GWS Saa' DOANG!" Kevin menambahkan cerita supaya sedikit heboh.
Dika manggut-manggut, dia masih terus menatap foto Adara yang ada didalam ponsel Irsyad. "Bener. Tapi lihat sekarang ke Adara," Dika menopang wajah tampannya dengan kedua tangannya.
"Dia betul-betul nulis pakai huruf vokal. Ada emoji nya, ada komanya, ada perhatiannya. Ini udah pasti kena pelet perjodohan!" Seru Dika.
"GAMAU TAU, Besok disekolah kita harus interogasi dia." Kevin menyeringai jahil, dia tiba tiba melemparkan bantalan sofa ke wajah Dika. "Iyakan, ongeb!"
"Bangsat." Dika melemparkan segenggam kulit kacang ke wajah Kevin. Kamar itu sudah seperti kapal pecah sekarang.
"Jangan anjir, nanti kita dicoret lagi dari daftar closefriend-nya. Gue kan masih kepo sama kealay-an Gibran seterusnya."
Ditengah tawa ketiganya, ponsel mereka serempak bergetar, muncul satu notifikasi dari grup.
---------------------
PLENGER² TAMPAN (kevin si enggak)
Gibran:
Gue tau lo pada lagi nggosipin story gue kan dirumah Kevin. Awas aja besok sampai bocor kemana mana, gue cabut jatah kantin!
Kevinsoksik:
Lah kok lo tau?!
JANGAN GITU ANJIRR, KAMI AKAN DIAM DEMI SESUAP CHIKEN KATSU DIKANTIN!
Anda:
Aman aman kami kan tidak cepu cepu
Irsyadirsyadirsyad:
Diam✌🏻
----------------------
"Wah gila insting manusya satu ni." Kevin terkikik puas begitu pula dengan Dika dan Irsyad.
***
Langit semakin gelap, jam terus berputar. Tak terasa sekarang sudah jam 20.00 malam. Di ruang tamu Gibran dan Adara masih terus berkutat dengan laptop didepan mereka.
Mauren menyaksikan interaksi keduanya dari dapur, dia mengintip sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan mereka. "Kalau kalem gini kan enak lihatnya. Coba tadi, berantem aja."
Cekrek
Wanita itu tersenyum, kemudian mengirimkannya ke Alma.
"Gibran!" Adara sedikit berteriak saat Gibran mengetik 'Adara sayang'
"HAPUS NGGAK!" Adara mencoba mengambil alih mouse dengan tangan kiri yang perbannya sudah longgar, tapi Gibran lebih cepat mengangkat laptop itu menjauh dari jangkauan Adara.
Gibran terkekeh, karena ruangan itu sepi, kini suara keduanya terdengar menggema. "Kenapa harus dihapus? Ini juga bagian dari pengamatan, sayang. Pengamatan : Adara ketika panik ternyata terlihat lebih lucu."
"Gibran! How many times have i told you, don't call me darling!"
"Tapi gue suka manggil lo 'sayang' gimana tu?" Gibran mengedipkan sebelah matanya, menggoda Adara.
Wajah gadis itu merah padam menahan saltingnya. "Udah ah, besok mau dikumpul Gibran. Gimana kalau ke print? Terus dibaca Bu Dina??" Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan cowok di depannya ini. Sejak tadi, Gibran bukannya fokus merapikan daftar pustaka, malah sibuk menyisipkan kata-kata aneh di sela-sela kalimat formal.
Gibran menaruh kembali laptopnya di meja marmer, tapi jemarinya masih lincah menari di atas keyboard. "Tenang aja, ini kan draf kasar. Nanti sebelum di-print, 'sayang' gue ganti jadi 'sangat'. tapi kalau lo mau tetep gitu juga nggak apa-apa, biar Bu Dina tau muridnya yang satu ini udah ada yang punya."
"Ngaco!"
-ˋˏ✄┈┈┈┈
vote komenn
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfic[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
