34

553 59 5
                                        

🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.

Gibran yang awalnya asik memasang handband dikepalanya, kini beralih melihat seorang gadis yang terduduk lemas memandangi kertas kertas putih lusuh ditangannya.

Ia segera berlari mendekati gadis itu. "Adara," gumamnya.

Gibran langsung berlutut didepan Adara, matanya menyipit saat melihat punggung tangan Adara yang merah melepuh. Tanpa banyak bicara Gibran mengambil tangan gadis itu dan menjauhkan Map biru dari tangan Adara.

"Gibran panass," isak tangisnya semakin menjadi, kini kulitnya terasa seperti diremas.

Gibran beralih menatap kasihan wajah gadis didepannya ini. Tanpa pikir panjang ia menarik pelan Adara untuk bangkit, tapi Adara masih berusaha meraih makalahnya.

"Gibran, tugas gue.."

"Biarin dulu disitu, Ra. Tangan kamu lebih penting." Mutlak, Adara tak dapat membantahnya.

Di tariknya pergelangan tangan gadis itu lebut menuju wastafel terdekat yang ada diujung koridor.

Gibran memutar keran air, lalu meletakkan tangan Adara dibawah air yang mengalir. "Biarin dulu, Ra." Sebagai anak PMR dia pasti sudah tau akan hal ini.

Adara meringis, tubuhnya sedikit gemetar saat rasa perih bercampur dengan air dingin yang mengucur dari dalam keran.

Mata Gibran tak lepas memandangi wajah Adara yang dipenuhi air mata. "Kita UKS aja, Ra. Biar aku obatin luka kamu."

***

Ketiga lambe gosip kini tengah tertawa terbahak bahak mengingat wajah Adara yang kesakitan.

"Gilaa, keren juga akting kita tadi!" Mawar bertepuk tangan seolah bangga dengan apa yang ia lakukan dengan Adara beberapa menit lalu.

"Weh, gue akui Jennie the bestt!! Gue suka gaya loo." Ishara menepuk pundak Jennie berkali kali.

"Weddehhh, Jenniee gitu lohh."

Mawar mengakhiri tawanya. "Oke, 1-1. Imbang kan, Dar??"

***

"Udah ih nangisnyaa." Gibran merangkul gadis disampingnya, mencoba memberikan Adara sedikit kekuatan yang ia punya.

Dengan keadaan tangan yang diperban, ia berusaha menyeka air matanya. "Gabisa, Bran. Gimana nanti nilai gue sama Buk Dina?? Sementara besok udah harus dikumpul. Masak gue harus mulai semua dari nol lagi?" Adara kembali terisak dadanya begitu sesak sekarang. 

Gibran terdiam sejenak, ia melepaskan rangkulannya. Bukannya menjauh, ia justru bergeser duduk di atas brankar, tepat di depan adara. Gibran meraih kedua tangan Adara—yang diperban, lalu menggenggamnya dengan sangat hati hati.

"Liat gue, Ra." Bisik Gibran. suaranya yang tadi tengil mendadak berubah jadi rendah dan dalam.

​Adara mendongak pelan, matanya yang sembab bertemu langsung dengan tatapan gibran yang mengunci. koridor UKS yang sepi membuat suara detak jam di dinding terdengar lebih keras.

​"Lo pikir gue bakal diem aja liat lo hancur gara-gara kertas basah?" Gibran mengusap punggung tangan Adara dengan ibu jarinya, sebuah gerakan kecil.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang