"Total pembayarannya berapa?"
"Vino."
Vino cukup terkejut melihat bukan pengantar makanan yang datang, melainkan perempuan yang ia kenali dan sudah tidak pernah ia temui, Vino mencoba untuk menutup pintu tapi di tahan oleh perempuan itu.
"Vino tunggu, biarin aku bicara sama kamu."
"Sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah malam."
Perempuan itu adalah Sera perempuan yang sehari yang lalu tak sengaja bertemu saat ia dan Amel pergi makan siang. Perempuan itu memegang tangan Vino memohon untuk mengizinkannya masuk.
"Aku datang jauh-jauh kesini, masa kamu tega ngusir aku Vin?"
Amel yang melihat Vino sedang berdiri membelakanginya di pintu masuk, segera menghampirinya, takut terjadi cekcok dengan kurir makanan itu.
"Kok lama banget sih, ada apa?" Tanya Amel yang sudah berada di samping Vino.
Sera terkejut melihat kehadiran Amel, Amel pun juga ikut terkejut melihat Sera, mengapa perempuan ini malam-malam ada di Apartemen Vino? Ada urusan apa.
"Dia alasan kamu mengusir aku?" Ucap Sera dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu salah . . ." Belum sempat Amel membalas, Vino lebih dulu membalas pertanyaan Sera.
"Sebaiknya kamu pulang Sera, kamu mau pergi sendiri atau aku panggilkan sekuriti?"
"Aku nggak akan pernah menyerah Vino."
Vino tidak membalas lagi, pria itu memilih untuk menutup pintu dengan kencang, menimbulkan suara yang membuat Amel kaget, hampir saja jantungnya copot, eh ini bukan waktunya untuk bercanda, Amel melihat wajah Vino berubah menjadi sangat marah, seperti ingin menerkam orang, ia jadi takut untuk bertanya, tetap ia harus bertanya.
"Itu siapa Pak, kenapa Bapak nggak jelasin ke dia kalau kita nggak ada hubungan apa-apa?"
Vino tidak membalas pertanyaan Amel, pria itu memilih untuk pergi, kembali duduk di sofa ruang tamu, Amel yang melihat mood Vino sedang tidak baik-baik saja, ia mencoba untuk menghibur, cewek itu pergi ke dapur dan membuka kulkas, kebetulan disana ada coklat, ia mengambil satu coklat itu dan membawanya menghampiri Vino, lalu Amel duduk di sebelah Vino.
"Bapak jangan marah-marah terus, mending makan coklat ini biar amarah Bapak mereda."
Vino menoleh menatap Amel, walaupun ia tidak suka coklat ia tetap mengambil coklat itu di tangan Amel, lalu memakannya.
"Gimana Pak? Apa sudah lebih baik?"
"Lumayan."
Dengan hati-hati Amel memegang tangan Vino dengan lembut, lalu ia berkata "Izin sebentar ya Pak."
Vino menahan senyumannya, melihat Amel yang seperti anak kecil ini ia tidak tahan.
"Waktu saya masih kecil, saya marah sekali karena Abang saya sudah merusak boneka kesayangan saya, lalu Papi saya menenangkan saya, dan beliau berkata, kalau lagi emosi begini saya harus tenang dan tidak boleh gegabah, tarik nafas panjang lalu buang secara perlahan, terus saya coba dan akhirnya amarah saya sedikit mereda, waktu itu Papi saya juga memberikan saya coklat, seketika mood saya membaik."
"Bapak harus mengendalikan emosi dimana pun Bapak berada, walaupun emosi memang suka sulit di kendalikan, tapi kalau sudah emosi kita akan lepas kendali dan melakukan hal yang merugikan diri sendiri."
Vino mengikuti instruksi Amel, menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Terimakasih Amel."
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH CINTA AMEL
Novela Juvenilcerita kelanjutan kisah cinta Amel, sebelum baca cerita ini, lebih baik baca cerita Duda keren suami idaman.
