04. Tennis and Disaster

1.5K 128 12
                                        

"Om, Om mau mengawal aku atau mau piknik?" Elizabeth melongo saat melihat bawaan Hamdan lebih banyak. Padahal dirinya hanya di suruh oleh Pak Nas untuk mengawal Elizabeth saja. Dia membawa dua tote bag berukuran medium, tapi tapi hanya di penuhi beberapa makanan dan kebutuhan yang menurutnya penting. Dua tas itu bahkan sampai menggembung.

Hamdan nyengir lebar. "Saya ndak mau kelaperan di sana, non. Belum tentu non mau belikan saya makanan," ucap Hamdan yang langsung di hadiahi pelototan dari Elizabeth. "Aku ngga kejam ya, om. Om aja kalau di tawarin makan malah ogah-ogahan mulu," ucap Elizabeth sinis. Hamdan nyengir semakin lebar saat Elizabeth malah menohoknya. Benar apa katanya, Hamdan justru sering menolak tawaran makan dari Elizabeth.

Muka sinis Elizabeth langsung berganti ke senyum cerah saat sebuah mobil jeep berhenti tepat di depan pagar rumah Pak Nas. Si pengemudi turun. Orang yang Elizabeth nantikan dari tadi pagi untuk menjemputnya. Pierre.

"Elizabeth," Pierre melambaikan tangannya pada Elizabeth. Pierre membuka gerbang rumah Pak Nas, menyapa beberapa penjaga lalu segera menghampiri Elizabeth.

Pierre tersenyum cerah melihat penampilan Elizabeth. Dia memakai sebuah dress putih dan topi yang biasanya di pakai untuk bermain tenis. Tampilannya cenderung sangat feminim. Elizabeth memegang raket tenis di tangan kanannya, dan sebuah tas berukuran sedang di tangan kirinya.

"Kamu manis sekali," puji Pierre yang langsung membuat pipi Elizabeth merona

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu manis sekali," puji Pierre yang langsung membuat pipi Elizabeth merona. Dia memukul pelan lengan kekar Pierre. "Mas Pierre bisa aja," ucap Elizabeth malu-malu. Pierre terkekeh melihat Elizabeth yang salah tingkah karena di puji olehnya. "Saya serius, kamu cocok sekali berpakaian serba feminim," puji Pierre lagi yang membuat Elizabeth tambah merona.

Hamdan hanya menatap dua anak muda di hadapannya itu dengan wajah yang seperti mengejek. Dia iri? Oh tentu saja! Melihat Elizabeth dengan Pierre, dia juga ingin seperti itu. Pasangan sempurna yang kelihatan setara dari berbagai aspek. "Mari saya bawakan," Pierre langsung mengambil alih tas dan raket tenis Elizabeth untuk di masukkan ke dalam mobilnya. "Kamu ndak mau bantu saya, Yer?" Pierre menengok ke arah Hamdan yang mengangkat dua tas besar itu. "Kamu laki-laki, ya bawa sendiri toh. Lagipula kamu bukan taruni atau perempuan kan, masa bawa segitu saja ngga bisa. Masa AKP ngga kuat angkat dua tas begitu," ucap Pierre lalu segera pergi ke mobilnya untuk menaruh raket dan tas Elizabeth di kursi belakang.

Elizabeth tertawa puas melihat ekspresi cengo Hamdan yang habis di tohok oleh Pierre. "Dasar kurang ajar, padahal saya lebih tua dan senior daripada kamu!" Gerutu Hamdan lalu mengikuti Pierre untuk memasukkan beberapa barangnya ke mobil Pierre. Elizabeth semakin tertawa puas saat mendengar gerutuan Hamdan. Baginya, nada gerutuan Hamdan mengundang tawa. Karena itu tidak membuat orang takut, melainkan tertawa.

"Mbak, aku berangkat ya! Bilang sama Om dan Tante, aku pulang sehabis shalat Ashar!" Elizabeth pamit kepada Alpiah yang tengah mengangkat jemuran. Alpiah memberikan jempol ke Elizabeth, tanda dia akan melakukan apa yang Elizabeth katakan.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang