08. "Must Survive Until the End"

1.1K 130 10
                                        

"Kenapa kamu di namai Elizabeth Antoinette Helma?" Mendengar pertanyaan mendadak itu membuat Elizabeth mendongak ke arah Pierre. Saat ini mereka sedang beristirahat di daerah Monas setelah lari pagi. Pierre seperti biasa, dia selalu mengajak Elizabeth keluar di waktu-waktu tidak terduga. Hubungan pertemanan mereka semakin erat dan kecanggungan yang sering muncul kini sudah benar-benar hilang. Sudah lebih dari dua bulan mereka berteman. 

"Kenapa Mas menanyakan itu?" Elizabeth terkekeh saat Pierre secara tiba-tiba menanyakan alasan kenapa dia di namakan Elizabeth. "Saya hanya penasaran, karena mendiang orang tuamu memberi nama yang begitu indah untukmu. Di tambah, mami saya juga memiliki nama Elizabeth," jawab Pierre. Elizabeth menaruh botol airnya, dia memandang wajah Pierre dengan senyumnya yang selalu tulus dan manis.

"Elizabeth, nama itu di berikan oleh mami saya karena dirinya pada saat itu begitu kagum dengan Elizabeth Bowes-Lyon di era Perang Dunia II. Beliau adalah Permaisuri Raja George VI si Raja Inggris. Ratu Elizabeth pada saat itu begitu kuat menghadapi serangan gila-gilaan Nazi Jerman ke Kerajaan Inggris. Di saat Keluarga Kerajaan seharusnya mengungsi dari London ke daerah pedesaan demi keamanan mereka atau mengirim kedua putrinya ke Kanada, Ratu Elizabeth tetap bertahan di London, mengatakan bahwa anak-anaknya tidak akan pergi tanpanya, dia tidak akan meninggalkan Raja, dan Raja tidak akan pernah pergi. Pemimpin Nazi pada saat itu bahkan menjulukinya wanita paling berbahaya di Eropa. Kekuatannya dan keberaniannya itu menginspirasi mami saya, dan alhasil dia menamaiku Elizabeth. Banyak orang-orang menyangka saya di namai Elizabeth karena terinspirasi dari Ratu Elizabeth I atau Ratu Elizabeth II, anak perempuan Raja George VI yang naik tahkta pada 1952 lalu, tapi nyatanya tidak. Ibu saya menamai saya Elizabeth karena terinspirasi dari Elizabeth Bowes-Lyon. Lagipula, saya lahir sebelum Ratu Elizabeth II naik tahkta," Pierre menatap Elizabeth dengan tatapan penuh kekaguman. Namanya tidak 'keberatan' untuk gadis ini, melainkan benar-benar seperti do'a bahwa dia akan kuat seperti Elizabeth Bowes-Lyon. Dia tahan banting meskipun di uji dengan kematian kedua orang tuanya. Elizabeth Bowes-Lyon juga kehilangan orang tersayangnya di era Perang Dunia I, saudaranya, Fergus Bowes-Lyon meninggal dunia di ¹Pertempuran Loos pada tahun 1915.  Dia juga harus kehilangan suaminya di tahun 1952 dan menjanda selama puluhan tahun. 

Di realita Elizabeth yang sebelumnya, Ibu Suri Elizabeth meninggal pada tahun 2002, menyusul putri bungsunya, Putri Margaret yang meninggal sebulan sebelum dirinya. Dia kembali kehilangan yang teramat sakit karena putrinya mendahuluinya.

"Tidak heran kamu begitu kuat, nama itu seolah-olah do'a dari ibumu bahwa kau akan tumbuh menjadi gadis yang tahan banting dan tetap tegar," mendengar kata 'tahan banting', Elizabeth rasanya ingin membantah apa yang Pierre katakan. Dia tidak tahan banting lagi setelah peristiwa berdarah itu. Dia tidak lagi menjadi Elizabeth yang kuat dan tegar.

"Bagaimana dengan Antoinette?" Pierre melafalkan nama tersebut dengan aksen Perancis yang terdengar kental. Elizabeth tersenyum tipis saat Pierre menyebut baris kedua namanya dengan aksen Perancis yang kental. "Saya sempat menyangka baris kedua nama saya itu terinspirasi dari Marie-Antoinette, Ratu Perancis yang di penggal saat Revolusi Perancis. Tapi almarhumah mami saya mengatakan saya di namai Antoinette karena artinya. Arti nama Antoinette adalah 'sangat terpuji'. Mami saya mengatakan dia ingin melihat saya tumbuh menjadi perempuan yang terpuji," lagi-lagi Pierre kagum dengan nama Elizabeth. Almarhumah Surati benar-benar memberikan nama yang terbaik untuk putrinya. Nama itu memang terdengar berat, tapi diri Elizabeth bisa membawa nama itu dengan baik, dan bahkan arti nama tersebut menjadi kenyataan. Tidak membuat dirinya sakit-sakitan.

"Dan Helma?" Wajah Elizabeth terlihat suram saat Pierre menanyakan baris terakhir namanya tersebut. "Helma, namaku yang terakhir itu di ambil dari bahasa Jerman. Yang artinya helm atau protektor. Almarhumah mami saya mengatakan dia ingin saya bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang yang saya cintai," ucap Elizabeth, nada suara gadis itu terdengar sangat sedih. Karena dirinya selalu gagal melindungi orang yang dia cintai di kehidupan sebelumnya. Pertama, ayahnya, lalu ibu, dan berlanjut ke Ade dan Pierre. Elizabeth gagal 'menahan' empat orang itu untuk tetap bersamanya.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang