36. Parents Who Lost Their Children

466 37 4
                                        

Warnings : There are inappropriate/taboo words

___

"Bagaimana dengan ayahmu? Dia baik-baik saja setelah tahu apa yang terjadi dengan Mahira?" Edward mendongak ke atas, melihat perempuan muda yang jaraknya hanya beberapa senti darinya itu, Christabelle.

Kini mereka berada di depan ruang operasi setelah waktu shalat isya, Mahira sedang ditangani secepat mungkin untuk mengeluarkan peluru panas dari tubuhnya setelah transfusi darah yang di lakukan Christabelle. Dokter mengatakan, resikonya tidak terlalu besar, karena, meskipun terkena tembakan di bahu, Mahira ada kemungkinan besar akan selamat dan sehat kembali. Kecuali, dia ditembak berkali-kali di bagian bahu, itu pasti akan berakibat fatal. Hanya saja, gadis itu kemungkinan akan koma selama beberapa hari atau bahkan minggu, kondisi tubuhnya juga mengalami syok yang berat, yang mengakibatkan sel-sel syaraf di tubuhnya seperti terlindas sesuatu yang berat.

"Saat aku pulang tadi untuk memberi tahunya, dia mengatakan dia khawatir dan panik karena tidak menemukan kita bertiga di rumah hingga jam menjelang Maghrib. Saat aku pulang dengan keadaan berantakan, tanpa basa-basi aku mengatakan segalanya. Ayahku sempat pingsan selama beberapa menit, tapi aku sukses menenangkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, termasuk Mahira. Aku juga memberi tahunya untuk tak perlu ke sini, aku takut secara tiba-tiba rombongan Jenderal Nasution datang dan hal itu bisa semakin berantakan," jawab Edward lalu kembali mengalihkan pandangannya ke lantai. Membuat Christabelle mengangguk paham dan langsung duduk di samping pria muda tersebut.

"Edward," Christabelle kembali memanggil Edward, namun tatapan gadis itu tetap terarah ke lantai. Ada sesuatu yang menurutnya penting untuk dia katakan.

"Ya?" Pria muda itu balik bertanya, juga tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai. Mereka memang tidak menatap satu sama lain.

"Melihat Mahira mengalami kecelakaan yang cukup fatal, apa ini salah satu konsekuensi atau sebuah peringatan karena kita ingin merusak?" Edward langsung menegakkan kepalanya dan menatap wanita cantik di sebelahnya itu, heran. "Apa maksudmu?" Tanya Edward dengan alis mengkerut.

Christabelle menghela nafas, dia menyandarkan tubuhnya pada bangku panjang tersebut, menatap lurus ke bangku sebrang. "Kita tak pernah ada di sini, dan secara tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka seperti setan. Kita memaksakan diri kita dan Mahira untuk—"

"Kau yang mengatakan padaku bahwa kau tak ingin Mahira menjadi abu, Christabelle. Tapi sekarang kau sangat ragu. Hal yang dialami Mahira murni kecelakaan dan kebrengsekan para sampah itu, bukan karena peringatan atau konsekuensi tidak jelas yang kau katakan tadi," potong Edward agak sinis. Christabelle memainkan jarinya dengan gelisah, dia menggigit bibirnya dan menelan ludahnya dan berdiri. "Kita harus mencari jalan pulang lagi, putar rencanamu, Edward. Mahira benar-benar akan menjadi abu jika kita benar-benar terus berdiam disini," ucap Christabelle yang langsung membuat Edward berdiri, pria itu kelihatan agak marah, dan mungkin sebentar lagi benar-benar marah dan adu mulut dengan Christabelle.

"Jalan pulang itu sudah ditutup oleh wanita sialan itu! Jika aku bisa, lebih baik aku bawa pulang Mahira daripada berdiam diri di tempat jahannam seperti ini. Tapi nyatanya, aku tak bisa—"

"It has to be possible, Edward! It has to be! Kita ikut campur dalam garis yang jauh berbeda ini, itu akan membuat sebuah efek paling menyakitkan. Kau ingin menyelamatkan mereka agar tidak membunuh satu-satunya kenangan mereka, tapi itu sama saja memberi Mahira ajalnya sendiri! Kita harus dobrak jalan keluar, Edward. Mahira bisa mati!" Edward langsung mencengkram lengan wanita muda itu yang mulutnya asal bicara saja tadi. Matanya melotot marah seolah bersiap untuk mematahkan manusia di depannya itu.

"Jaga mulutmu Christabelle! Kau tidak membantuku jika kau seperti ini! Aku bisa menyingkirkan siapapun yang berusaha merenggut putriku dari tanganku! Dia tidak akan mati sebelum ada yang melangkahi mayatku, bahkan kematian ayah atau ibunya tidak akan bisa membuatnya menghilang!" Edward melepaskan cengkraman dari bahu Christabelle, wajah putihnya memerah seperti habis direbus bagaikan udang.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang