06. Bad Memories

1.2K 120 19
                                        

Elizabeth menatap tajam ke arah halaman belakang rumahnya. Kaki yang posisinya menyilang, jari kirinya berada di antara hidung dan bibirnya, dan mata birunya terus menatap tajam ke depan. Siapapun tidak ada yang berani mengajak Elizabeth bicara saat melihat wajah tidak bersahabat gadis itu sedari pulang dari bermain tenis. Bu Nas juga kaget melihat Elizabeth yang jarang marah terlihat benar-benar semarah ini.

Dia benar-benar masih kesal dan merasa sakit hati dengan apa yang dia alami tadi sore. Elizabeth harus bertemu dengan salah satu anggota pihak kiri, pihak yang paling dia benci seumur hidupnya. Pihak yang selalu merasa paling wah dan bertingkah seolah-olah mereka adalah penguasa. Pihak yang sudah merenggut cintanya dan dunianya.

"Elizabeth," Elizabeth tersentak kaget saat sebuah tangan mendarat lembut di bahunya. Elizabeth mendongak ke atas untuk mengetahui siapa yang menyentuh bahunya. Pierre. Pemuda itu menginap sehari di rumah Keluarga Nasution atas permintaan Bu Nas sendiri. Kondisi sudah agak sore saat Elizabeth dan Pierre sampai rumah, Bu Nas langsung meminta Pierre menginap saja sehari. Apalagi besok siang, Pierre akan kembali pulang ke Semarang bersama dengan keluarganya.

"Mas Pierre," Elizabeth tersenyum tipis kepada perwira tampan itu. Pierre langsung duduk di samping Elizabeth, menyampirkan jaketnya ke bahu si gadis cantik. Elizabeth yang mendapatkan perlakuan manis itu tentu saja meleleh. "Kenapa kamu malam-malam masih di sini? Dingin pula," ucap Pierre lembut. Matanya menatap Elizabeth dengan tatapan memuja, mungkin dia masih tidak percaya ada gadis secantik ini.

"Saya ingin menenangkan diri di luar, Mas," Elizabeth menyahut, dia justru mengeratkan jaket Pierre di tubuhnya. Elizabeth bisa mencium aroma tubuh Pierre yang selalu dia rindukan itu. "Kamu masih kesal dengan kejadian tadi sore?" Pierre bertanya. Karena sejak sore, suasana hati Elizabeth terlihat sangat kacau. Dia memang tidak mengutarakannya, tapi di lihat dari penampilan gadis itu, dia terlihat memiliki suasana hati yang sangat berantakan. Semua orang di rumah keluarga Nasution tentu mengetahui apa yang terjadi pada Elizabeth. Bu Nas bahkan sempat bersikeras ingin membawa Elizabeth ke dokter hanya untuk memeriksa lutut dan bibirnya yang terluka. Tapi, Elizabeth yang hanya menganggap hanya luka kecil, tentu tidak mau di bawa ke dokter. Dia memberi pengertian pada tantenya itu bahwa lutut dan bibirnya hanyalah memiliki luka kecil, tidak perlu di bawa ke dokterpun pasti perlahan akan sembuh.

Elizabeth tersenyum pahit mendengar pertanyaan Pierre. Dia menyunggingkan bibirnya, senyumnya sarkas. "Tentu saya masih kesal, saya  seperti menghadapi para iblis neraka jahannam," jawab Elizabeth, dia meremas kuat jaket Pierre. Rasa kesal utamanya kembali muncul saat mengingat bagaimana wajah Teja yang semena-mena dan bertindak seolah-olah putranya tidak bersalah dan justru menyalahkannya. "Lupakan saja masalah itu, lagipula putranya itu pasti sudah di hukum oleh pihak berwajib, tak mungkin Pak Nas melepasnya begitu saja," Elizabeth melihat ke arah Pierre. Tatapan mata mereka kembali terkunci satu sama lain. "Melupakan?" Tanya Elizabeth dengan nada tidak bersahabat, Pierre langsung menyesal mengatakan hal tadi kepada Elizabeth. "Saya tidak bisa melupakan kejadian buruk apapun yang di buat oleh kaum kiri, entah itu di buat oleh hanya satu anggota atau seluruh orang yang berada di pihak kiri," ucap Elizabeth sinis, dia tidak sadar bahwa dia sinis pada Pierre. Emosinya lebih mendominasi. "Kamu tidak mengerti bagaimana sakitnya di posisi saya akibat perbuatan kaum kiri, mereka merenggut segalanya dari saya, mereka merenggut ka-" Elizabeth langsung menghentikan ucapannya saat hendak mengatakan 'kamu'. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Pierre di habisi oleh pihak kiri di kehidupan sebelumnya atau di masa depan masa ini. Justru dia ingin merubah segalanya (jika bisa).

Pierre menatap Elizabeth heran, apa maksudnya bahwa pihak kiri telah merenggut segalanya darinya? Orang tuanya meninggal karena sakit dan kecelakaan. Teman SMA-nya yang dia bilang sangat berharga adalah asli warga Inggris, dan tidak mungkin menjadi korban dari kesadisan PKI.  Usia temannya masih empat tahun mungkin di tahun Pemberontakan Madiun 1948 dan tidak tinggal di Indonesia.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang