"Tumben kamu yang jemput aku, Mas," Elizabeth mengangkat alisnya lalu menyeruput jus buah di dalam gelas plastik yang dia pegang itu. Rama hari ini yang akan menjemputnya untuk pulang kuliah, karena Pierre dan Hamdan, yang biasanya menjemput Elizabeth, kali ini menemani Pak Nas untuk mengajud. Alhasil, Rama yang kini menjemputnya langsung. Elizabeth tidak tahu Hamdan Pierre ada tugas dengan Pak Nas hari ini, karena seingat Elizabeth, sang paman mengatakan tidak ada kegiatan kantor.
"Pak Nas ada urusan mendadak, Pierre sama Hamdan yang beliau bawa. Jadi, saya yang diminta tolong Bu Nas jemput kamu," Elizabeth mengangguk lalu segera masuk ke mobil. Kuliah hari ini tidak terlalu melelahkan, karena hanya melaksanakan dua mata kuliah. Alhasil, Elizabeth bisa cepat pulang dan beristirahat lebih awal, lalu mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai.
Selama di perjalanan, hanya ada keheningan. Rama yang fokus menyetir dan sesekali mengeluh karena secara tiba-tiba jalanan cukup macet, dan Elizabeth yang hanya fokus ke jendela sambil menyeruput jus yang menyegarkan itu. Di siang yang terik seperti ini, jus yang super dingin memang membantu meringankan dahaga.
"Kira-kira kapan kita bisa menjenguk Mahira ya, Mas?" Secara tiba-tiba Elizabeth membuka pembicaraan. Tentang Mahira terlintas di fikirannya. Gadis kecil itu memang belum di izinkan untuk dijenguk oleh pihak rumah sakit dan oleh dua walinya. Terakhir kali, Elizabeth tahu operasi Mahira sudah berjalan dengan lancar lewat telfon Edward yang tertuju langsung ke Pak Nas, meskipun gadis itu belum bangun dari komanya. Tapi setidaknya, semua orang lega karena gadis itu koma untuk 'beristirahat', bukan karena sebuah kerusakan fatal.
Rama melirik ke Elizabeth saat wanita itu secara tiba-tiba menanyakan kondisi Mahira, dan sepertinya sangat merindukan gadis itu. Dia tersenyum tipis. "InsyaAllah secepatnya, Non. Saya juga berharap kita sama-sama bisa menjenguknya sesegera mungkin. Tapi yang terpenting, dia harus bangun dulu dari komanya," jawab Rama. Elizabeth mengangguk, Rama benar dengan apa yang dia katakan. Setidaknya gadis itu harus bangun dulu, baru berlanjut ke tahap pemulihan yang sebenarnya.
"Soal para kriminal jahannam itu bagaimana—" Elizabeth secara tiba-tiba menghentikan pertanyaannya karena ada sesuatu yang sepertinya 'menyerang' tubuhnya, tapi dia bingung area tubuh yang mana. Seperti serangan kesemutan yang mendadak. Dia agak meringis, dan... Gelisah.
Rama langsung mengkerutkan keningnya karena secara tiba-tiba Elizabeth mulai tidak bisa diam. "Non? Anda baik-baik saja?" Tanya Rama khawatir. Tapi Elizabeth tidak menjawab, serangan kesemutan aneh itu secara tiba-tiba mulai besar di tubuhnya.
Jantungnya berdetak cepat lebih dari biasanya, dan dia merasa suhu tubuhnya naik secara perlahan. Panas. Rasa kesemutan itu secara tiba-tiba tercampur dengan rasa geli yang menyakitkan dan semakin aneh. Nafasnya mulai tersenggal, darah seperti naik ke area wajahnya. Gerakan Elizabeth mulai tidak beraturan, dia bergerak tidak nyaman dan meringis semakin keras, gadis itu menaruh jus itu di bagian kotak koin-koin, dan mulai kesulitan mengendalikan dirinya. Karena serangan itu semakin naik dan memberatkan tubuhnya.
Rama yang melihat itu, tentu langsung panik. "Non?! Non jawab saya, Non! Kenapa anda kenapa tiba-tiba begini?!" Rama bertanya dengan agak keras. Fokusnya secara tiba-tiba terbelah antara menyetir dan kondisi Elizabeth yang sangat aneh sekaligus terlihat sangat gelisah.
Elizabeth menghantamkan tubuhnya ke kursi mobil dengan posisi bersandar. Ini bukan panas lagi, tapi mulai membakar sesuatu di dalam dirinya. Keringat mulai bercucuran turun dari gadis itu, leher dan pelipisnya mulai basah. Dia mencengkram kuat seatbelt dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
Dengan nafas yang tersenggal, Elizabeth membuka seatbelt yang memeluk tubuhnya lalu melepaskan sepatu dan kaos kakinya, berharap itu juga bisa memberi kelonggaran dan udara dingin yang masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasy[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
