• Note 1 : Kali ini, ndak ada Pierre-Izzie di chap ini ya
• Note 2 : di part sebelumnya emang kurang efektif ya minimal 50 vote sebelum lanjut, nyatanya ngga nyampe 50 vote huhu... Padahal author buat chap ini udah dari lama, cuman nunggu 50vote aja, ehh ternyata tetep tydack bisa :)
___
Keringat dingin mengucur deras dari kening seorang pria, seolah-olah dia habis berjemur di bawah terik matahari siang. Padahal sebentar lagi akan memasuki jam malam. Cuaca yang seharusnya sejuk karena akan memasuki jam malam terasa panas di kondisi menegangkan seperti ini.
Dia mengacak-acak bagian bagasi sebuah mobil dengan ban pecah, berharap menemukan sebuah peluru aktif untuk pistol yang berada di genggamannya. Tak berselang lama, dia menemukan sekantong peluru yang cocok dan memasukkannya ke saku celananya, pelatuk pistol dia posisikan ke aktif, tanda bahwa dia akan langsung bisa menembak ke target yang dia inginkan.
Dirasa sudah siap, pria itu langsung berlari kearah jalan lurus untuk mengurus target yang bisa saja membahayakan beberapa orang.
Namun, secara tiba-tiba rombongan sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Empat mobil. Orang-orang berseragam polisi turun dari mobil tersebut, di susul oleh pria paruh baya dengan tanda bintang empat di bagian bahunya bersama dengan seorang wanita muda.
"Pak Nas—"
"Dimana Izzie, Rama?!" Rama agak terlonjak kaget saat Pak Nas langsung menerjangnya dengan wajah yang tegang dan panik. Sorot mata jenderal berbintang empat itu benar-benar horor. Rama bahkan kesulitan untuk menjawab karena ini pertama kalinya dia melihat atasannya itu tegang dan panik dalam skala tinggi.
"Nona Izzie, dia baik-baik saja, Pak," jawab Rama dengan tubuhnya yang bergetar. Dan tentu Pak Nas tak percaya, dia melihat ke sekitar. Tidak melihat keponakannya itu.
"Kamu bohong! Dimana Elizabeth—" Pak Nas menghentikan ucapannya saat matanya tak sengaja menangkap ceceran darah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dia melepaskan tangannya dari tubuh Rama, mendekati ceceran darah yang masih basah itu. Tatapannya semakin horor, sebuah fikiran buruk mulai muncul di otaknya. Pak Nas menyentuhnya dengan tangan yang bergetar, wajahnya pucat pasi. Dia agak lemas.
"Rama, darah siapa ini?" Tanyanya dengan suara bergetar. Rama masih diam dalam posisi bergetar, dia melirik Pak Nas dan perlahan ke arah wanita yang ikut dengan rombongan Pak Nas. Wajah wanita itu juga tak kalah tegangnya dengan Pak Nas. Dia juga mendekati ceceran darah itu lalu terdiam menatapnya.
Kapten Misbach dan Hamdan juga menatap horor ceceran darah yang Pak Nas pegang itu. Mereka langsung bertatapan syok, fikiran mereka sama. Mereka bahkan berfikiran Pak Nas sebentar lagi akan pingsan jika Rama terus terang. Jika Rama terus terang sesuai dengan apa yang mereka fikirkan, Pak Nas akan langsung ambruk di tempat, apalagi dia sedang berada dalam posisi kelelahan.
"Rama jawab saya! Ini darah siapa?!" Kali ini Pak Nas bertanya dengan suara yang lebih keras sekaligus agak membentak kepada ajudan mudanya itu.
Rama menelan ludahnya, memberanikan diri mengatakan apa adanya dengan kejadian mengerikan beberapa menit yang lalu. "Pak Nas, itu bukan darah Nona Elizabeth. Itu darah orang lain," ucap Rama mengepalkan tangannya erat. Dia melirik Christabelle prihatin yang masih menatap ceceran darah itu tanpa bergeming sedikitpun.
"Nona Elizabeth juga tak disini karena kemungkinan besar dia berada di RSPAD bersama Pierre," leher Christabelle langsung berputar kearah Rama secepat kilat. Matanya menajam horor, dan rentetan fikiran buruk juga mulai menghantam otaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasy[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
