[TYPO BERTEBARAN]
Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
Jum'at sore di kediaman Pak Nas kali di isi oleh para ajudan beliau dengan membantu membersihkan seluruh koleksi senjata milik sang Jenderal. Entah itu senjata api, keris, pedang ataupun beberapa pisau lipat. Sudah lama sekali Pak Nas tidak membersihkan koleksi senjatanya ini, lebih banyak ia pakai di bandingkan di gunakan. Apalagi banyak sekali garand yang dia miliki.
"Bapak ngga repot toh ngurus senjata sebanyak ini?" Tanya Rama yang benar-benar tidak menyangka koleksi senjata Pak Nas ternyata di luar yang dia fikirkan.
"Ya repot ngga repot, Ma. Apalagi kalau yang jarang di pakai. Pasti sangat berdebu, belum lagi saya harus menyimpannya di tempat yang sangat aman dan sulit di ambil, agar tidak terjangkau putri-putri saya yang di bawah umur," ucap Pak Nas sambil mengelap sebuah garand yang berada di tangannya. "Jangan-jangan Bapak pengen punya ajudan sebanyak ini biar bisa bantuin juga ngurus senjata-senjata bapak, kan?" Celutuk Hamdan random yang langsung di angguki oleh Pak Nas. "Itu salah satu faedahnya, Dan," ucap Pak Nas lalu tertawa.
Pak Nas kini mengangkat sebuah pistol hitam, dia tersenyum memandangi pistol tersebut, sudah cukup berdebu karena kira-kira sudah hampir dua tahun tidak di gunakan lagi. "Elizabeth suka sekali dengan pistol ini," ucap Pak Nas yang langsung membuat Pierre menengok ke arah atasannya itu saat nama Elizabeth di sebut. "Kenapa begitu, Pak?" Tanya Pierre penasaran saat Pak Nas mengatakan Elizabeth suka sekali dengan pistol tersebut. Pistol bernama M119 atau Colt 1911.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Non Izzie suka sama pistol itu karena pistol itu bikin dia pertama kalinya lancar gunain jenis senjata api, Yer. Waktu di ajarin sama Kapten Misbach beladiri aja pakai pistol itu," Hamdan menjawab pertanyaan Pierre. Pierre melongo saat Hamdan mengatakan Elizabeth memiliki kemampuan menembak, bahkan beladiri dengan senjata api. "Elizabeth bisa menembak?" Tanya Pierre mengerjapkan matanya, Hamdan tertawa melihat ekspresi melongo Pierre, seperti melihat suatu yang baru.
"Ya bisa lah, Yer. Dia di asuh ama Jenderal lebih dari lima tahun. Di tambah dia mau belajar, ya tentu bisa. Gunain beberapa jenis senapan jitu aja dia bisa," jawab Hamdan.
Tak banyak orang tahu Elizabeth juga bisa melakukan ilmu beladiri khas ABRI, entah itu dengan tangan kosong atau menggunakan senjata. Paman dan ajudan pamannya yang terjun langsung mengajarkan hal itu padanya sejak kedatangannya sebagai anggota baru keluarga Nasution. Awalnya, Pak Nas yang menginginkan Elizabeth menguasai ilmu beladiri agar gadis itu bisa berjaga-jaga jika tidak sedang bersama ajudan, tapi lama kelamaan Elizabeth memiliki niat untuk mempelajarinya lebih dalam. Hingga akhirnya, Elizabeth cukup menguasai ilmu beladiri khas ABRI.
"Tapi kenapa dia kalah reflek ya sama anaknya Pak Teja sampai luka-luka waktu itu," Hamdan tiba-tiba mengingat kejadian tahun lalu, di mana Elizabeth terlibat cekcok dengan anak Pak Teja yang bertindak kurang sopan terhadapnya. Elizabeth biasanya gesit, tapi waktu itu justru dia yang malah terluka. "Positif thinking saja, mungkin non Izzie enggan menyentuh sampah sampai ndak mau melawan balik," celutuk Sumargono yang di langsung di hadiahi pukulan dari Pak Nas, Kapten TNI AD itu tentu saja langsung mengaduh kesakitan. "Ngga baik kamu menghina orang lain seperti itu, bagaimanapun juga dia manusia," ucap Pak Nas menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan apa yang di katakan oleh salah satu ajudannya itu.