Diruangan berwarna hijau muda itu, terbaring seorang gadis muda dengan nasal cannula di hidungnya. Kedua tangannya memiliki infusan untuk menyalurkan makanan pengganti dan juga energi yang tidak bisa dia lakukan secara langsung, karena dia dalam kondisi tertidur dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Wajah pucatnya tidak memudarkan betapa cantiknya gadis itu.
Dibagian bahunya, terdapat perban bekas operasi yang beberapa lalu sudah selesai dilakukan untuk mengeluarkan sebuah timah panas yang bersarang ditubuhnya akibat tembakan yang dilakukan para kriminal.
Kalian sudah pasti tahu siapa gadis itu. Mahira. Gadis yang hampir saja kehilangan nyawanya akibat insiden penculikan karena dia keluar dari area rumahnya tanpa izin dan pengawasan kedua walinya, Edward dan Christabelle.
Kronologi Kejadian :
Mahira tidak mengatakan atau meminta izin kepada walinya bahwa dia akan pergi ke sebuah toko peralatan tulis yang kebetulan terletak di sebuah pasar kecil. Posisinya saat itu sudah hampir Maghrib. Saat hendak pulang, Mahira yang pada saat itu menggunakan sepeda tidak melewati jalan ramai, dia bertanya pada orang-orang di sekitar pasar itu jalan pulang yang lebih dekat untuk sampai ke daerah rumahnya. Dia mendapatkan jawabannya dan segera melaju ke tempat itu untuk sampai lebih cepat, dia tak ingin membuat paman dan bibinya itu khawatir.
Namun sayang sekali, karena jalan pintas yang kelewat sepi itu ternyata digunakan oleh para kriminal untuk melakukan aksi kebejatan mereka. Mereka yang melihat Mahira mengayuh sepeda itu sendiri menggunakan kesempatan itu untuk menculik remaja perempuan itu.
Mahira dibawa paksa hingga mobil penculiknya itu hampir menyerempet mobil yang berisi tiga orang dewasa yang sempat menjaganya sampai walinya berhasil menemukannya karena dia kabur.
Bagaimana sang wali bisa tahu posisinya? Jika kalian baca part 33, kalian sudah pasti tahu jawabannya kan? . Intinya, pada saat mereka menemukan Mahira, mereka melihat Mahira sedang di sandra dengan pistol yang berada di kepalanya. Mobil mereka tidak jauh dari mobil para penculik, hanya saja, para penculik itu turun untuk mengejar Mahira yang lari ke mobil yang isinya Rama, Elizabeth dan Pierre. Jaraknya cukup jauh dari pandangan.
Edward menyuruh Christabelle untuk menyetir ke rumah keluarga Nasution untuk mencari bantuan, lalu Edward dengan tangan bersenjata itu secara tiba-tiba menyergap paksa dan menyandra supir yang hanya sendirian di mobil tersebut. Bukan menggunakan pistol lagi, tapi senapan. Dia dapat darimana? Ugh, mungkin itu juga dia ambil paksa dari mobil si penculik itu yang punya senjata api ilegal.
Bantuan tiba, tapi terlambat (?), karena Mahira sudah tertembak dan hampir kehilangan nyawanya jika saja bagian sensitifnya yang ditembak.
Kembali ke cerita :
Seorang anak laki-laki berkemeja putih kira-kira usia tujuh belas hingga dua puluh tahun memandangi gadis yang tengah 'tertidur' pulas itu. Tatapan matanya sendu, penuh rasa khawatir dan kerinduan yang besar. Dadanya sesak bagaimana melihat gadis manis tersebut sangat pucat seperti mayat hidup.
Tangan besar itu menyusup rambut hitam halus tersebut dengan sangat hati-hati, seolah Mahira itu adalah vas bunga edisi langka yang hanya ada satu di dunia. Tanpa ragu, sebuah ciuman lembut mendarat di kening dingin Mahira, cukup lama dan sangat menyentuh. Tangan besar itu berpindah untuk menyatukan tangannya dengan tangan Mahira yang ukurannya lebih kecil.
Pria itu melepaskan ciumannya, dan memindahkan ciuman lembut itu ke tangan si gadis. "Anne-ku tersayang," dia melirih. Setetes air mata lolos mengalir ke pipi putihnya. Anne. Dia tidak memanggil Mahira dengan nama aslinya, tapi Anne.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasi[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
