30. Promises and Dreams

763 80 8
                                        

13 Maret 1965

Elizabeth mengerjapkan matanya saat dia merasa sebuah cahaya mulai mengganggu indra penglihatannya. Matahari pagi mulai bersinar terang. Membangunkan dirinya yang tertidur pulas. Elizabeth sedang mengalami fase datang bulan sejak subuh tadi. Saat hendak buang air kecil dan wudhu untuk kegiatan shalat subuh, Elizabeth mendapati bercak darah dan pinggulnya memang agak sakit sejak tadi malam.

Tapi Bu Nas langsung mengerok pinggulnya setelah beliau melaksanakan shalat subuh dan membuatkan Elizabeth segelas jamu kunyit asam untuk meredakan nyeri akibat tamu bulanannya itu. Setelah itu, dia kembali tertidur untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya. Belakangan ini, Elizabeth memang agak kelelahan karena mengerjakan tugas kuliahnya yang malah menumpuk, padahal dia mengerjakannya selalu tepat waktu. Ini karena ulah dosennya yang memberi tugas secara brutal, alias langsung banyak. Belum lagi, waktu yang diberikan terkadang tak sesuai dengan banyaknya tugas tersebut. Beberapa dosen mengatakannya sebagai tantangan sebelum memasuki dunia kerja yang katanya lebih parah dari ini.

Tak hanya itu, Elizabeth juga harus melakukan praktik di luar kampus. Dan tanggal dua belas kemarin, dia praktik di Gedung Kedutaan Iran, bahkan hingga malam hari. Praktik untuk mata kuliahnya yang berjudul Protokol dan Etika Diplomasi, dan Elizabeth kebagian di Kedutaan Iran.

Elizabeth mengucek-ngucek matanya dan merenggangkan tubuhnya. Rambutnya berdiri bak bulu singa, efek terlalu lama tidur. Elizabeth menengok ke arah jam beker yang berada di samping tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 08.15 pagi.

"HOLLY SHIT!" Elizabeth mengumpat kasar saat melihat waktu di jam beker miliknya itu. Dia mengalami kepanikan.

"HUA TANTE NASSS!" Elizabeth merengek heboh dan berlari keluar dari kamarnya, tak perduli bahwa penampilannya berantakan seperti itu. Penampilan bangun tidur.

Saat keluar kamar, Elizabeth semakin panik saat tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Dia merengek semakin brutal dan berjalan keluar, lebih tepatnya halaman depan.

Di halaman depan, dia melihat Pak Nas hanya bersama dengan dua ajudan mudanya itu. Rama dan Pierre. Mereka sedang mencuci mobil. Elizabeth rasa, hanya mereka yang sedang berada di rumah.

"OM NAS AAAAA!" Pak Nas dan dua ajudan tampannya itu terlonjak bukan main saat Elizabeth tiba-tiba merengek dengan intonasi keras. Rama bahkan sampai melempar gayung berisi airnya itu ke atas, membuat dirinya langsung agak basah.

Pak Nas langsung menengok kearah pintu masuk rumahnya itu saat mendengar suara melengking keponakannya itu di pagi hari. Dirinya melihat Elizabeth berdiri dengan penampilan yang berantakan. Rambut mengembang, wajah kusut karena belum cuci muka. Dan lebih parahnya lagi, Elizabeth memakai celana pendek yang sangat menampilkan pahanya itu, dan atasannya tidak menutupi lengannya. Ya meskipun dia juga sering mengikuti gaya barat dimana rok, celana atau dress yang dikenakan sering di atas lutut atau bahkan jauh di atas lutut, tapi tidak separah baju tidur yang dia kenakan ini.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang