Pak Nas mengusap wajahnya kasar karena menghadapi masalah besar yang secara tiba-tiba datang menghantam dirinya. Padahal dia ke Surabaya ingin bertemu kawan lama dan bersantai ria, tapi malah ada masalah baru. Dan masalah ini muncul karena gadis asing yang belum lama bekerja di keluarganya.
Huh, bayangkan saja dia sedang asyik membaca buku di kamar hotel, tiba-tiba istrinya datang dengan panik memberi tahu kalau keponakan kesayangannya itu menyeret seorang laki-laki asing ke dalam hotel keadaan marah.
Setelah di jelaskan apa yang terjadi, Pak Nas mau tidak mau harus menyelesaikannya, dia merasa dia juga punya tanggung jawab besar terhadap orang-orang disekitarnya. Dia bahkan harus menyewa Ballroom untuk tiga jam kedepan hanya untuk menyelesaikan masalah gila ini.
"Nduk, benar pria di depan kamu ini adalah pamanmu?" Tanya Bu Nas lembut kepada Mahira yang terlihat ketakutan dan hampir menangis. Apalagi, Elizabeth, Edward, Pierre dan Rama tidak henti-hentinya adu mulut, membuat suasana semakin runyam. Pak Nas harus beberapa kali membentak jika adu mulut empat pemuda itu semakin brutal.
Mahira menggeleng, dia memeluk Bu Nas semakin erat. "Tidak, Bu Nas. Saya tidak tahu dia siapa, saya benar-benar tidak tahu," isak Mahira kencang. Pierre yang memiliki ikatan batin dengan Mahira tentu ikut merasakan sakit melihat gadis itu menangis sampai sesak begitu. Dan itu juga semakin memicu emosinya terhadap Edward.
Pak Nas awalnya juga sangat emosi menghadapi Edward karena berawal dari cerita Rama yang mengatakan bahwa Edward menuduhnya ingin membunuh Mahira yang dia klaim sebagai putrinya. Pak Nas sampai berfikir kalau Edward seperti memiliki gangguan kejiwaan karena menuduh orang asing secara sembarangan. Apalagi Mahira terlihat sangat takut menghadapinya, seperti melihat setan.
"Berhentilah berbohong dan akhiri kebodohan ini Mahira!"
"Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak membentaknya?!"
"Tutup mulutmu, orang asing! Jika kau tidak tahu apapun lebih baik diam!"
"Turunkan suaramu! Apa kau tidak punya etika dalam berbicara?!"
"Jangan ajari aku soal etika jika kau membela anak perempuan yang bahkan suka berbohong!"
"Kepa—"
"HENTIKAN!" Pak Nas menggebrak meja di depannya saat Pierre dan Edward malah terlibat adu mulut yang sengit lagi. Jika melihat hal ini, Pak Nas terkadang membayangkan jika dia punya anak laki-laki, akan jauh lebih merepotkan jika mereka terlibat pertengkaran atau adu mulut yang tak bisa di hindari. Belum lagi kalau misalkan melewati batas mentang-mentang statusnya adalah laki-laki.
"Kalian berteriak satu sama lain seperti anak kecil?! Kalian itu sudah dewasa, bersikaplah dewasa! Dengan berteriak seperti tadi tak akan menyelesaikan masalah. Kalian tahu itu?! Yang ada kalian malah membuat Mahira tambah takut!" Pak Nas melotot marah pada Edward dan ajudan mudanya itu. Disaat kondisi seperti ini, mereka malah tidak bisa bertindak dewasa agar suasananya tidak panas.
"Dan kamu, Edward. Pertama kamu mengaku adalah ayahnya Mahira, lalu berlanjut juga mengaku pamannya Mahira, lalu menuduh ajudan saya ingin membunuh Mahira. Jadi yang benar yang mana?" Tanya Pak Nas yang kini beralih fokus pada Edward.
"Semua yang anda katakan benar," jawab Rama datar yang membuat Rama tidak terima. "Aishhh! Kenapa kau malah menuduhku membunuhku—"
"Aku tidak menuduh! Itu faktanya benar, berada di lingkungan militer bagi diriku adalah tindakan pembunuhan. Saya tahu, bagaimana bahaya situasi jika berada di sekitaran orang berpangkat tinggi di tahun ini, dan putri saya bisa terbunuh meskipun tidak dengan tangan kalian langsung," potong Edward datar yang membuat Elizabeth langsung melirik syok ke arah pria tampan tersebut. Bagaimana bisa Edward mengetahui bahaya yang berada di sekitaran Pak Nas di tahun 1965 ini. Otak cerdasnya tentu langsung curiga dengan siapa Edward.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasi[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
