39. Two Japanese Men

833 59 7
                                        

Nyeri dibagian punggungnya langsung terasa disaat kesadarannya terkumpul beberapa detik yang lalu. Sosok cantik berambut hitam legam itu melirik ke arah jam dinding. Pukul 18.25 malam. Sudah memasuki jam shalat Maghrib. Dia melihat ke arah jendelanya, sudah di tutup rapat jika sudah malam.

Dia mulai mengingat-ingat kejadian yang membuatnya bisa tidur hingga jam Maghrib. Dan tidak butuh lama, dia mengingat semuanya.

Mulai dari saat dia pulang kuliah, 'merayu' ajudan sang paman akibat rasa panas yang seolah menggerogoti tubunya, hingga dia hampir mencium ajudan sang paman di hadapan semua orang yang ada disana. Hal yang dia lakukan tanpa sadar, tapi dia ingat dengan jelas bagaimana dia mempermalukan dirinya sendiri entah kenapa.

Elizabeth tidak tahu kenapa dia seperti itu. Tubuhnya yang panas dan seperti ada dorongan yang membuat jiwanya sangat putus asa dan haus akan hal yang memalukan jika dilakukan sebelum seruan kata SAH. Dia ingat, dia tidak meminum atau memakan sesuatu yang berbahaya beberapa jam yang lalu. Terakhir kali, dia minum jus yang dia beli dari kantinnya. Tapi kenapa hari ini dia malah berperilaku seperti wanita gila yang haus akan belaian.

Elizabeth mengusap wajahnya kasar dan mencoba untuk menetralkan fikiran dan otaknya untuk tidak memikirkan hal memalukan itu. Dia mencoba untuk menghapusnya, karena jika terus diingat, itu memang benar-benar sangat memalukan. Dia bahkan tidak tahu, apakah bisa menghadapi Pierre dan Rama dengan tenang setelah hal itu. Ditambah, dia juga harus minta maaf.

Tidak mau terlalu terlarut, Elizabeth turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi. Ia mandi, membersihkan tubuhnya dan akan melaksanakan Shalat Maghrib. Itu bisa menenangkan fikirannya. Dia juga akan mencari tahu kenapa dia bisa seperti tadi.

___

Pintu kamar terbuka, Bu Nas masuk ke kamar Elizabeth dengan sebuah nampan yang berisi beberapa makanan berat dan ringan. Bertepatan dengan Elizabeth yang baru selesai shalat dan tengah melipat mukenanya.

"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya kamu bangun, sayang," Bu Nas menghembuskan nafas lega saat melihat keponakannya itu kini sudah bangun, habis melaksanakan shalat pula. Ia meletakkan nampan itu di atas kasur Elizabeth.

"Makan dulu ya, nduk," Bu Nas mengusap lembut kepala Elizabeth. Elizabeth mengulum bibirnya, dia mendongak menatap sang Tante dengan meringis. "Tante, kenapa Izzie begitu tadi? Apa yang terjadi sama Izzie?"

"Ah, dia ingat ternyata,"

Bu Nas tersenyum tipis. Dia langsung membawa Elizabeth untuk duduk di tepi ranjang. Tangannya masih setia mengusap rambut sang keponakan. "Jangan fikirkan hal yang tadi kamu alami, Izzie. Kamu tenang saja. Biar Tante sama Om yang urus," Bu Nas berkata dengan lembut. Elizabeth mengulum bibirnya gelisah meskipun Bu Nas mengatakan hal yang seharusnya langsung membuatnya tenang. Tapi, kejadian beberapa jam yang lalu tidak akan membuat gadis manapun yang mengalaminya akan langsung tenang.

Bu Nas mengatakan itu bukan hanya untuk menenangkan Elizabeth, tapi berusaha untuk tidak membuat Elizabeth malu lagi. Dia tahu, gadis itu akan tambah malu jika dia menceritakan kronologi kejadian dari sudut pandang yang melihatnya.

"Lebih baik kamu makan dulu ya, nduk. Tante sama Om ngga mau kamu sakit," Bu Nas mengusap pelan pipi sang keponakan. Elizabeth mengangguk, meskipun dia tidak nafsu makan, dia harus makan. Dia tak ingin membuat paman dan bibinya itu dilanda rasa khawatir yang berlebihan lagi.

Bu Nas tersenyum lega saat Elizabeth langsung menurutinya, karena dia tidak perlu repot-repot membujuk Elizabeth untuk makan.

Setelah Bu Nas pergi dari kamarnya, Elizabeth kembali terlarut dalam fikirannya soal kejadian memalukan beberapa saat yang lalu. Dia duduk di atas kasurnya lalu memijat pelipisnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 11, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang