24. Rasendriya

912 108 5
                                        

Elizabeth memijat pelipisnya sambil menyender di kaca mobil saat dirinya mengetahui dia semobil dengan siapa selama perjalanan ke Surabaya. Rama dan Pierre. A truly explosive combination. Elizabeth sudah tahu, kepalanya akan pecah jika Rama dan Pierre di satukan seperti ini.

Awalnya, Elizabeth ingin naik mobil berukuran seperti mini bus yang di sewa oleh om dan tantenya, dan akan di kendarai oleh Kapten Misbach. Namun sayang sekali malah tidak muat. Tersisa Pierre, Rama, dan Elizabeth yang tidak kebagian tempat duduk. Alhasil, mereka bertiga menggunakan mobil pribadi Elizabeth. Kebetulan sekali, mobil Elizabeth itu jarang di gunakan, hitung-hitung di panaskan.

Sepanjang perjalanan, Elizabeth pasti akan mendengar perdebatan bodoh Rama dan Pierre yang cukup memusingkan, apalagi tidak ada Pak Nas yang menengahi mereka berdua. Sudahlah, Izzie, pasrahkan saja kepada yang maha kuasa.

"Mukamu jangan masam begitu, Yer. Kamu ngga semobil sama kambing," Rama menatap sinis Pierre saat melihat rekannya itu menatap sinis tanpa henti, padahal dirinya tidak berbuat macam-macam di dalam mobil.

"Mulai," Elizabeth menghela nafas kasar, menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Belum juga berjalan, tapi mereka sudah memulai pertarungan.

"Kamu memang kambing," celutuk Pierre yang langsung di hadiahi sebuah jitakan keras di kepalanya oleh Rama.

"Mulutmu ituloh!" Rama memasang seatbelt yang dia kenakan lalu mulai menyalakan mobil Elizabeth, dirinya yang akan menyetir kali ini, karena Rama lebih tahu medan jalan di Surabaya. Ibarat, Surabaya adalah rumah keduanya. Karena pendidikan 'terhebat'nya di lakukan di Surabaya, alias Akademi Angkatan Laut.

"Lagian kenapa harus kamu sih yang semobil sama saya dan Elizabeth? Tukar posisi saja seharusnya sama Mahira!" Pierre mendengus dan menyenderkan tubunya kesal ke kursi mobil.  Suasana hatinya agak berantakan karena harus semobil dengan Rama yang sudah dia anggap seperti salah satu ancaman terbesarnya soal hubungannya dengan Elizabeth.

"Non Yanti saja ndak mau jauh-jauh sama Mahira, ya kamu masa mau gelud sama anak kecil? Waras dikit!" balas Rama tidak kalah sinisnya. Astaga, Elizabeth membayangkan bagaimana jika misal dua pria ini hanya berdua di kamar, pasti adu mulut tidak akan berhenti sebelum ada yang masuk. Atau yang lebih parahnya lagi, mereka bisa membogem satu sama lain jika perdebatan mereka semakin panas.

"Aku waras, kamu yang engga!"

"Orang waras mana yang ciuman secara rahasia di taman belakang istana negara," celutuk Rama yang langsung membuat Pierre cengo, tidak menyangka bahwa Rama mengatakan kejadian beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang cukup memalukan bagi Pierre dan Elizabeth. Dan hal itu membuat Rama menjadi satu-satunya orang yang mengetahui hubungan rahasia Elizabeth dan Pierre. Untung saja, kalau soal seperti ini, Rama tidak mengadu ke Pak Nas. Lagipula, Pierre dan Elizabeth juga memberikan 'ancaman' pada prajurit marinir tersebut. Elizabeth menggunakan statusnya seolah-olah 'majikan' kepada Rama demi 'melindungi' dirinya dan Pierre yang bisa saja membuat Pak Nas mengamuk karena tingkah ceroboh mereka, sekaligus Pierre yang akan kena amukan paling banyak. Dirinya nekat mengencani Elizabeth tanpa memberi tahu Pak Nas.

BUGH!

Pierre terlonjak kaget saat secara tiba-tiba kekasihnya itu memukul kepala Rama sekuat mungkin dengan dompet yang berada di genggamannya. Membuat Rama langsung memekik keras.

"Jalanin mobilnya," perintah Elizabeth datar, dirinya secara tidak langsung mengkode Rama untuk tidak bicara lagi dan fokus saja untuk menyetir selama perjalanan.

Rama hanya bisa meringis mengusap kepalanya, tidak berani protes akibat ulah nona mudanya itu yang secara tiba-tiba melayangkan dompetnya ke kepalanya dengan kekuatan tinggi. Tentu saja pukulan Elizabeth itu sakit, bagaimanapun juga, gadis itu bisa beladiri. Kekuatan gadis yang bisa beladiri itu jika memukul pasti sakit.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang