21 Februari
Pierre hari ini benar-benar sangat senang. Bukan hanya karena dirinya bertambah usia, tapi keluarganya akan berkunjung dari Semarang dalam rangka ulang tahunnya yang ke dua puluh enam tahun. Dia sudah merindukan keluarganya belakangan ini. Maklum, tugasnya sebagai seorang ajudan terkadang membuatnya terlambat membalas surat dari keluarganya itu.
Pagi-pagi buta, Pierre sudah bangun. Sudah mandi dan wangi. Dan kebetulan juga hari ulang tahunnya jatuh pada hari minggu di tahun ini, alhasil dia juga bisa bersantai dengan tenang.
Di saat dirinya sedang menggosok sepatu, seorang gadis cantik baru saja keluar dari area rumah Pak Nas dengan membawa sebuah hasil rajutan yang terlihat sangat indah. Bukan, bukan Elizabeth. Melainkan Mahira.
"Om Pierre," panggil Mahira lembut. Membuat Pierre menengok ke arah gadis tersebut. Pierre mengkerutkan alisnya lalu berdiri menghampiri Mahira. "Mahira kok pagi-pagi sudah di sini? Butuh om Pierre?" Tanya Pierre heran, karena tidak biasanya gadis ini keluar dari area rumah Pak Nas di pagi-pagi buta seperti ini. Mahira menggeleng, dia menyodorkan hasil rajutan tersebut pada Pierre.
"Ngga, Mahira cuman mau kasih ini. Selamat ulang tahun, Om Pierre," Pierre melongo karena gadis ini mengetahui hari ini adalah hari ulang tahunnya, padahal Pierre yakin tidak ada yang memberi tahu gadis ini soal hari ulang tahunnya.
Pierre menunduk untuk menatap hasil rajutan yang disodorkan untuknya lalu kembali menatap Mahira dengan tatapan kaget. "Darimana kamu tahu hari ini om ulang tahun?" Tanya Pierre heran. Bukannya menjawab, Mahira justru bergerak agak gelisah, dia seperti kesulitan mencari alasan bagaimana dia bisa tahu hari ulang tahun Pierre.
"Mahira tahu itu dari, eumm," Mahira menggigit bibirnya, dia sedang berfikir mencari alasan yang tepat. Pierre menatap gadis itu heran, rasa curiga kembali memenuhi dirinya saat Mahira malah kebingungan dan gugup saat ditanya soal hal sederhana seperti itu.
"Ah, Mahira tahu saat merapihkan arsip dokumen Pak Nas, om. Di situ ada salinan surat kontrak om Pierre, alhasil Mahira tahu tanggal lahir om Pierre," ucap Mahira dengan senyumnya yang merekah di wajahnya, menghilangkan rasa gugup dan gelisahnya.
Pierre mengangguk, dia mengambil hasil rajutan yang Mahira sodorkan padanya. Saat dia bentangkan ternyata itu sebuah syal indah berwarna hijau yang memiliki huruf P berwarna perak. Sangat indah. Pierre tersenyum antusias melihat syal rajutan yang di berikan untuknya.
"Wah terima kasih, Mahira. Ini sangat indah, om sangat suka!" Ucap Pierre senang yang tentu saja juga membuat Mahira senang karena Pierre terlihat sangat menyukai pemberian darinya itu. Ia merasa sangat dihargai.
"Sama-sama om, Mahira yang membuat ini sendiri," mata Pierre agak terbuka lebar saat Mahira mengatakan bahwa dirinya yang merajut syal tersebut dengan sangat sempurna. "Kamu yang membuat?" Mahira menganggukan kepalanya antusias saat Pierre menanyakan hal itu padanya. "Iya, om. Aku yang membuatnya, Mahira bisa merajut sedari dini. Kalau papi ulang tahun, Mahira pasti merajut dan datang ke makamnya untuk menunjukkan hasil rajutan itu. Papi memang tidak akan bisa menjawab apa yang Mahira katakan, tapi Mahira yakin papi bisa mendengar Mahira. Ini pertama kalinya Mahira merajut khusus untuk ulang tahun seseorang, biasanya hanya di hari ulang tahun papi Mahira merajut, " Pierre malah menatap gadis itu dengan tatapan dalam, seolah-olah menggali informasi apa yang sebenarnya gadis ini sembunyikan.
"Kenapa kamu mau merajut di hari ulang tahun, saya? Seharusnya rajutan ini di khususkan untuk hari ulang tahun papi kamu, kan?"
"Mahira boleh jujur, om?"
"Jujur apa?"
"Om mirip sama papinya Mahira,"
Pierre seperti di siram air dalam sekejap. Terkejut bukan main. Gadis kecil ini mengatakan bahwa mendiang ayahnya mirip dengan dirinya. Dan gadis itu...Juga mirip dengannya. Bahkan jika mau melihat Pierre versi perempuan, cukup lihat Mahira, tidak perlu membuat Pierre didandani seperti perempuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasi[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
