07. Ministry of Defense of the Republic of Indonesia

1.3K 134 12
                                        

18 September 1964

Elizabeth turun dari mobilnya tepat di depan gedung Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Hari ini dia ke KEMENHAN untuk melakukan wawancara dengan pamannya, Pak Nas. Elizabeth mengatakan kepada pamannya itu bahwa dia ada projek tulis dari salah satu mata kuliahnya yang berhubungan dengan KEMENHAN dan membutuhkan seorang sumber. Maka dari itu, Pak Nas menyuruh Elizabeth datang ke gedung KEMENHAN saja untuk melakukan wawancara sekaligus berkunjung ke KEMENHAN. Siapa tahu, Elizabeth juga membutuhkan beberapa elemen untuk projek tulis tersebut di KEMENHAN selain metode wawancara.

Mata kuliah Elizabeth yang membuat dosennya membuat projek tulis ini bernama Keamanan Internasional. Mata kuliah ini secara khusus membahas isu-isu keamanan global, termasuk peran militer dalam menjaga stabilitas, konflik bersenjata, proliferasi senjata, dan upaya perdamaian.

"Perlu om jemput atau bagaimana, Non?" Tanya Hamdan setelah Elizabeth turun dari mobilnya. Seperti biasa, Hamdan yang selalu antar-jemput Elizabeth. "Nanti Izzie pulang sama om Nas saja," Hamdan mengangguk paham. Dia lalu pamitan dengan Elizabeth dan segera meninggalkan gedung KEMENHAN.

Elizabeth langsung memasuki gedung KEMENHAN dengan kartu tanda pengenal mahasiswa yang tergantung di lehernya. Elizabeth sempat di hadang oleh dua penjaga yang yang sedang berjaga. Elizabeth dengan santai menunjukkan sebuah kartu kepada dua penjaga tersebut. Melihat kartu itu, dua penjaga tersebut langsung menyuruh Elizabeth masuk dengan hormat tanpa hambatan sedikitpun. Karena beberapa jam sebelumnya, staf Ajudan Pak Nas, Kapten Sumargono dan Kapten Misbach memberi tahu pada mereka jika ada seorang gadis bernama Elizabeth Boulet alias keponakan Pak Nas, langsung izinkan saja dia masuk meskipun dirinya berkunjung di jam kerja.

Elizabeth memasuki KEMENHAN dengan santai, tidak tegang seperti saat dirinya mengunjungi KEMENHAN untuk pertama kalinya di usia delapan belas tahun. Maklum, memasuki KEMENHAN di tahun segitu entah kenapa seperti uji nyali. Elizabeth memandangi setiap sudut KEMENHAN dengan seksama, masih terlihat kuno dan belum secanggih di tahun 2008. Di kehidupan lain, terakhir kali Elizabeth mengunjungi KEMENHAN adalah di saat dia berada di tingkat akhir kuliah dan pamannya tidak lagi menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan, alias pada tahun 1966. Setahun setelah kematian Pierre dan Ade.

"Nona Elizabeth!" Elizabeth menengok ke belakang saat ada yang memanggilnya. Ternyata itu adalah Sumargono. "Nona, Pak Nas sedang melakukan sesi materi dengan beberapa perwira muda. Hari ini beberapa alumni dan siswa ATEKAD datang untuk mendengarkan materi dari Pak Nas," ucap Sumargono yang membuat Elizabeth agak cengo. Mendengar kata ATEKAD, otaknya pasti langsung terarah ke Pierre. Bisa saja Pierre datang. Apalagi yang memberi materi langsung adalah Pak Nas yang merupakan inspirasi besar Pierre untuk menjadi tentara. "Nona ingin ikut mendengar materi tersebut atau menunggu di ruang tamu?" Tanya Sumargono. Elizabeth awalnya terdiam, dia bingung. Jika menunggu di ruang tamu, pasti dia akan sendirian. Jika ikut mendengarkan materi pamannya itu, sudah pasti dia akan bergabung dengan para siswa dan perwira ATEKAD lainnya yang sudah pasti seratus persen laki-laki. Oh Elizabeth tidak terbiasa, dan jika Pierre ada bersama dengan dua temannya itu? Entahlah, Elizabeth bisa di goda habis-habisan. Elizabeth juga heran, kenapa kebetulan sekali ada ATEKAD datang ke KEMENHAN. Tapi, jika mendengar materi dari Pak Nas, siapa tahu itu bisa menambah-nambah kata untuk projek tulisnya itu.

"Saya ikut materi saja, om,"

"Baik kalau begitu, mari ikut om ke aula," Elizabeth langsung mengikuti Sumargono ke aula tempat Pak Nas sedang menyampaikan materi. Elizabeth juga heran, kenapa ATEKAD datang ke KEMENHAN untuk meminta materi kepada Pak Nas. Biasanya, Pak Nas sendiri yang datang ke tempat mereka.

Pintu aula terbuka, semua pasang mata yang berada di sana langsung menengok saat pintu aula terbuka secara tiba-tiba. "Jenderal," Sumargono memberi hormat kepada Pak Nas, Elizabeth menyembul dari pintu, dan membuat seluruh pasang mata perwira muda menahan senyumnya melihat Elizabeth. Mereka langsung tahu siapa itu, keponakan Pak Nas. Elizabeth langsung tegang luar biasa saat melihat puluhan laki-laki berada di aula tersebut. Tapi seperti biasa, dia terlihat tenang. "Nona Elizabeth tidak ingin berada di ruang tamu, Jenderal. Dia ingin ikut materi anda saja," ucap Sumargono. Pak Nas mengangguk. "Masuk sini, nak," Elizabeth mengangguk dan segera masuk ke aula tersebut, Sumargono menutup pintu aula setelah Elizabeth masuk. "Duduk di sana, nak," Pak Nas menunjuk kursi di samping podium tempat dia berdiri. Elizabeth menuruti perintah pamannya itu. Matanya tidak berani menatap ke depan. Kapten Misbach yang berada di dalam aula bersama Pak Nas, berinsiatif mengambil meja kecil untuk Elizabeth setelah gadis itu mengeluarkan buku catatan dan pulpen. "Terima kasih, om," ucap Elizabeth sopan saat Misbach telah memberinya meja untuk memudahkannya dalam menulis.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang