33. Afternoon Disaster

867 75 11
                                        

"Apa kita harus membongkar semuanya pada mereka?"

Edward langsung meghentikan aktivitas yang sedang dia kerjakan itu setelah mendengar ucapan perempuan muda yang tengah duduk di hadapannya itu. Laki-laki yang sedang merakit sesuatu itu menghela nafas berat. Dia muak, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia mendengar kalimat yang hampir sama itu.

"Hentikan, Christa. Cukup. Sebesar apapun kau menginginkan hal itu, aku tak akan menjalankan apa yang kau inginkan. Kita sudah masuk ke tatanan yang sudah rusak, jangan membuatnya semakin rusak. Sudah kubilang puluhan kali, ikuti alur hingga puncaknya," ucap pria tersebut menatap wanita muda berwajah arogan itu. Ambisi gilanya membuat Edward cukup pusing. Mereka memang memiliki tujuan yang sama namun dengan cara yang berbeda. Christabelle, wanita itu ingin bermain gila, sedangkan Edward lebih memilih mengikuti sebuah alur yang menurut Christabelle jauh lebih gila.

"Mengikuti alur hingga puncaknya? Dengan membuat Mahira menjadi abu?" Tanya Christabelle dengan senyum miring, lebih tepatnya sebuah senyum patah hati. Menyiratkan sebuah rasa sakit hati, kekhawatiran yang besar. "Edward, apa kau lupa? Semua yang di sini berubah-"

"Ya aku tidak lupa! Bahkan aku tidak melihat Mahira kecil di sini, aku tak melihat dirinya menggendong Mahira, aku tak melihat adanya ikatan pernikahan! Tak ada, Christa. Aku tak lupa! Tapi, membongkar lebih awal akan lebih merusaknya. Dimensi ini... Dimensi brengsek ini, kita tak pernah ada di dimensi brengsek ini, jangan merusak dimensi ini, Christabelle," jika Christabelle bisa meninju Edward, maka dia ingin meninjunya sekarang juga. Tapi, dia tak ingin membuat pria tampan itu terluka. Wajah lelahnya membuat Christabelle juga ikut prihatin. Dia merasa, tekanan pria di depannya ini jauh lebih besar. Karena, dia yang paling banyak beraksi, otaknya yang lebih banyak bekerja untuk sebuah misi yang sepertinya lebih sulit, bahkan lebih sulit dari misi Jerman merebut Rusia.

"Setidaknya Mahira akan aman jika mereka tahu lebih awal. Terutama-"

"Bukankah kau tidak ingin kita terlalu terlibat dengan keluarga Nasution? Kau menganggap kita akan dalam bencana yang lebih besar-"

"Itu sebelum kita terjebak di sini, sialan!" Christabelle membentak Edward setelah pria itu malah memotong ucapannya. Wanita muda itu menyenderkan tubuhnya ke sofa tempat dia duduk, mengusap wajahnya kasar.

"Christabelle," Edward kembali memanggil wanita cantik di depannya itu, membuat Christabelle melirik sekilas ke arah pahatan sempurna di depannya itu. "Aku tahu, kau hanya ingin Mahira di tendang dari bumi ini. Tapi tidak dengan cara gila. Butterfly effect. Efek itu bisa berpengaruh baik atau buruk, tergantung. Jika misal kita gegabah dan justru malah membuat efek buruk, itu sama saja kita membunuh Mahira. Percayalah padaku, ikuti alurnya dengan baik hingga malam jahannam itu tiba. Aku akan berusaha membentengi segalanya, terutama melindungi Mahira, dan..." Edward menggantung ucapannya sambil menatap dalam Christabelle. Christabelle yang langsung paham mengkode Edward untuk diam saja, sebelum Edward menyelesaikan ucapannya, dia sudah tahu apa yang ingin dia katakan.

Meskipun dia frustasi, tapi dia juga harus berjuang sekuat tenaga. Dia tak ingin membuat Christabelle mengalami sebuah rasa takut yang luar biasa lagi. Itu seperti membangkitkan trauma wanita muda itu jika dia gagal. Gagalnya bisa membuat akibat yang lebih fatal, bahkan lebih menyakitkan di bandingkan sebuah kejadian lalu.

TITTTTT!

Suara yang membuat telinga ngilu langsung membuat Christabelle menutup telinganya, begitupun Edward. Suara itu berasal dari kantung kaos polo yang dipakai oleh Edward. Edward perlahan menarik sebuah pulpen berwarna hitam pekat yang mengeluarkan sebuah laser merah yang berkedip-kedip di bagian penutupnya sambil menutup sebelah telinganya. Dia dan Christabelle sama-sama meringis dengan suara yang membuat telinga ngilu itu.

Elizabeth's Past (Discontinued)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang