29. Barbeque

9.7K 768 78
                                        

Lagi-lagi langsung up 2 chapter hehe
.
.
.


Kehadiran sang Ayah yang terlalu tiba-tiba, membuat Juan sekeluarga sempat goyah. Tak berbeda jauh dengan Juan yang sempat menyumpah serapahi Ayahnya dalam hati saat tahu pria tua itu jatuh sakit, Jemma berusaha ikhlas saat tahu fakta lain jika dia memiliki dua saudari baru. Sementara Gita, berusaha terlihat tegar dan mengatakan dia baik-baik saja pada putra dan putrinya. Meski begitu Juan tahu, tidak ada yang baik setelah mendengar kabar sang Ayah. Apalagi mereka memutuskan untuk hidup masing-masing, tidak akan berurusan dengan keluarga baru Ayahnya setelah Juan memberikan sejumlah uang untuk pengobatan sang Ayah. Beruntung dia melalui ini tidak sendiri, ada Arini di sisinya. Wanita itu tidak hanya membantu Juan, tetapi Gita dan Jemma untuk lebih kuat dan tegar menghadapi peristiwa baru-baru ini.

Dengan keceriannya, Arini berusaha menghibur orang-orang tersayangnya.

Setelah kemarin meminta Juan, Jemma, dan Gita datang ke rumahnya melalui telepon, malam ini di halaman belakang rumah Arini ramai orang berkumpul. Ada Juan, Arini, Jemma, Gita, Maya, Melisha, Gyan, dan tidak ketinggalan dua anak laki-laki tampan Dipta dan Ken. Arini mengumpulkan semua orang dan mengadakan acara barbeque.

Ken itu punya Mas Dipta!” Dipta mengejar Ken yang membawa lari potongan pizza.

“Lho lho kenapa sih Cil?” Gyan yang sedang membawa piring diputari oleh Dipta dan Ken.

“Ken Masnya jangan diisengin!” ujar Arini sambil membantu Melisha membolak-balik daging di panggangan.

“Ambil lagi aja Mas, masih banyak itu di piring,” timpal Maya.

“Gak mau! Yang lain sosisnya sedikit. Ken balikin!”

Ken tak mendengar. Dia berlari sambil tertawa dengan masih menjinjing pizza. “Mas tangkep Ken dulu!”

“Hiya dapet!” Ken terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba melayang. Juan berhasil menangkap dan menggendongnya hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membawa bangku.

“Om Buzz turunin Ken!”

“Gak mau sebelum Ken kasih pizzanya ke Mas Dipta atau Ken...mau Om makan? Haummmm.” Ken tertawa ketika Juan berpura-pura akan menggigitnya.

“Stop stop, oke Ken kasih. Mas.” Ken menyodorkan pizzanya. Dipta spontan membuka mulut dan langsung memakan semuanya.

Semua orang dewasa di sana tertawa melihat tingkah Ken dan Dipta.

“Jeng, anaknya jago juga ambil hati cucu-cucu saya,” ujar Maya pada Gita yang sedang mengelap-elap meja.

“Nurunin gen saya sih Jeng,” balas Gita yang membuat keduanya tertawa.

“Iyalah Bund, gak mungkin nurunin gen halilintar, nanti ziggy zagga,” sahut Jemma asal.

Ini pertama kalinya keluarga Juan dan keluarga Arini bertemu dan berkumpul. Namun rasanya tidak begitu. Mereka duduk, berbincang, tertawa dengan penuh kehangatan seakan-akan sudah saling lama mengenal. Tidak ada kata canggung. Meski Arini sempat khawatir Ibunya dan Ibu Juan tidak bisa akrab, nyatanya kedua wanita paruh baya itu yang tawanya paling besar saat berkumpul.

“Rin Rin, ini sih kalau gak sampai nikah kecewa berat. Liat mak lo sama maknya Juan, bestie bener,” komentar Melisha di tengah-tengah makan. “Belum lagi Juan sama adeknya tuh yang kayaknya udah deket banget sama ponakan-ponakan gue.” Dia menambahkan ketika matanya menangkap Jemma sedang menyuapi Ken dan Juan membantu Dipta memotong-motong daging agar lebih mudah dimakan.

Arini tersenyum mendengarnya.

“Gimana Rin, Ju, udah ada kepikiran ke sana belum?” tanya Maya.

“Hayo lho Mas ditodong Mamanya Arini.” Gita mengompori.

Juan dan Arini [END✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang