33-35: Rev. Memilih Cinta Melepas Cinta

15 2 6
                                        

Tiga bulan kejadian pahit di rumah sakit itu telah berlalu. Tiga bulan juga lamanya Sani menghentikan semua aktivitasnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menghadiri kajian, berolahraga memanah, berkuda, dan berenang, dan melakukan terapi diri melalui kegiatan menulis jurnal harian. 

Waktu dengan keluarga lebih banyak. Hidup lebih sederhana karena masih mengandalkan pemasukan dari investasi yang seharusnya menjadi tabungan di masa depan. Tidak apa-apa, uang bisa dicari lagi. Terpenting adalah mental dan fisiknya saat ini pulih dulu. Setelah semuanya bisa berjalan lebih baik lagi, Sani bisa meniti jalan kembali.

"San, awas!" Alia menyalip Sani dengan kudanya yang berjalan lebih cepat.

Sani menggelengkan kepala, tak mau kalah. Baiklah, akan Sani kejar sekarang juga. Ia mulai menari tali kendali kuda. Menyusul Alia yang belum terlalu jauh di depan.

Satu bulan dua kali, mereka menyambangi tempat berlatih. Pertemuan mereka juga semakin intens setelah Sani diminta untuk bekerja di tempat Alia. Sebagai social media spesialis dari usaha Alia.

Media sosial Sani sudah mangkrak. Jika berupa benda fisik, ibaratnya sudah berdebu tebal. Bahkan Sani sendiri lupa kata sandi untuk mengaksesnya. Hidup perempuan itu berjalan tanpa bayang-bayang dunia maya lagi. Selain hanya berkutat di akun media sosial usaha milik Alia.

***

"Mukenanya udah dimasukin?" Ibu mengingatkan.

"Aman, Bu." Sani menarik resleting pada tasnya.

Mukena, make up, dan botol minum sudah aman ada di dalam tas. Ia pamit berangkat kerja ke cafe Alia. CRV putihnya tampak keluar melalui pintu gerbang. Berjalan pelan ke arah jalan utama perumahan. Menuju jalanan ibukota yang cukup rapat.

Sembari menikmati perjalanan, ia mengaktifkan radio di mobil. Suara sang penyiar sangat renyah menyapa pendengarnya di pagi hari. Bercerita kemacetan yang katanya baru saja ia alami. Menyampaikan salam dari beberapa pendengar yang mengirim pesan. Menerima permintaan-permintaan untuk memutar lagu keinginannya.

"Baiklah pendengar radio Angkasa di mana pun Anda berada, kita simak lagu Asa Asmara yang mengawali senandung indah kita di pagi hari ini."

Beberapa detik kemudian intro lagu Asa Asmara mulai mengalun. Fokus Sani tak pecah. Ia mendengar sambil melajukan mobilnya pelan-pelan. Jari tangannya bergerak di atas stir mobil mengikuti ritme lagu.

Sampaikan lah saja rasa yang engkau simpan
Jangan selalu engkau tahan
Biar kan itu berlalu
Buat apa kau pendam

Bila kau benar benar
punya asa bersama
Biarkan lah ku tahu itu
Benih cintamu

Tersenyum saja Sani mendengarnya. Sudah pernah. Ia sudah pernah menyampaikan perasaannya. Memang sebenarnya lebih baik dipendam saja. Walau ia benar-benar punya asa. Tapi tenang saja, ia sudah basah menyatakan perasaannya. Maka tak memilih untuk balik arah. Terus berenang hingga sampai ke tepi. Setelah melihat indah dan seramnya pemandangan di dalam air.

Semua ada maknanya. Jika kemarin tidak terluka, tak akan ada kesempatan untuk belajar.

Senyumnya memudar bukan karena lirik lagu yang menyentil hati. Tapi ketika ia merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Melihat ke arah spion mobil, Sani mulai bergerak ke pinggir. Menepi sejenak.

"Kenapa, ya?"

Ia keluar melihat mobil.

"Astaghfirullah, ternyata kempes."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 28, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Melamar HuseinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang