7. "Mereka kelihatan bahagia ya?"

636 49 1
                                        

Hari weekend seperti ini, tidak akan seru jika hanya berdiam diri di rumah. Dan tentunya Jovan tidak ingin membuat weekendnya tidak seru.

Kini Jovan dan Zidan sedang berjalan mengelilingi pusat belanja terbesar di kotanya. Niat awal ingin mencari kado untuk adik tiri Jovan, justru teralihkan. Lihat saja sekarang dua pemuda itu malah asik bermain mesin capit, melupakan tujuan awalnya datang ke mall ini.

"ANJAY."

Teriakan kemenangan yang berasal dari keduanya membuat orang yang berada di sekitar memperhatikan mereka, tapi mereka tidak peduli. Keduanya asik berpelukan, setelah berhasil mendapatkan boneka jerapah.

"Gak sia-sia emang kerja keras kita." ucap Zidan sambil mencium boneka jerapah yang dia dapatkan barusan.

"Keren banget emang kita."

"Koreksi, gue yang keren, kan gue yang dapatin."

"Dih tapi kan pakai saldo gue." ucap Jovan tidak terima. Meskipun yang berhasil mendapatkan boneka itu Zidan, tapi kan kartu yang dipakai miliknya.

"Yaelah, tetep aja gue yang menang."

Jovan merengut, merasa kalah jika harus berdebat dengan Zidan.

"Makan lah, laper gue." kata Zidan. Sebelum berangkat memang dia sudah makan, tapi perlu diingat itu dua jam yang lalu.

"Eh kita belum cari kadonya!"

Zidan mendesah malas. Ayolah perutnya sudah meronta minta dihujani dengan makanan lezat.

"Tapi makan dulu lah, laper juga gue." lanjut Jovan sambil memegang perutnya.

Mereka segera beranjak menuju food court terdekat. Setelah masuk ke food court, segera saja mereka memesan ramen. Pilih yang enak, mengenyangkan, dan yang pasti cepat.

Tidak lama makanan mereka datang, keduanya segera makan dengan sesekali diiringi candaan ringan.

~Sarsnit~

Kini keduanya sudah berada di toko mainan. Adik tirinya itu sangat suka dibelikan mainan yang bertemakan pororo. Jovan tau dari Papa.

Jovan memilah kira-kira mainan mana yang sesuai untuk dijadikan hadiah. Dari segi kualitas dan juga harga. Tentu saja dia harus bisa memanajemen pengeluaran agar tidak boros.

Sedangkan Zidan, sosok itu sedang asik mengunyah curos sembari mengikuti Jovan. Sesekali memberi pendapatnya jika Jovan bertanya. Sisanya dia tidak peduli, lebih mementingkan perutnya.

"Ini bagus gak?"

Zidan melihat mainan seperti robot tapi ada ruangan penyimpanan di perutnya, karakter pororo. Setelah melihat harganya, seketika dia melotot.

"Lihat harganya coba."

Jovan menurut, dan kemudian dia menaruh lagi mainan itu.

"Kenapa mainan anak sekarang melebihi harga perawatan gue sih. Perasaan dulu gak segini banget dah." keluh Jovan. Dengan malas dia kembali menelusuri toko mainan itu lagi.

Zidan dibelakang yang sudah menghabiskan satu bungkus curos, kini ikut melihat-lihat kira-kira mana yang pas dijadikan kado.

"Jova," panggil Zidan, "ini lihat deh." lanjutnya sembari menunjukkan satu mainan yang dirasa cocok dengan adik tiri sahabatnya.

Kaki Jovan melangkah mendekat kearah Zidan. Matanya melihat apa yang Zidan tunjukkan, kemudian tersenyum. Mainan kesehatan dengan karakter pororo. Sudah satu set lengkap dengan alat kesehatannya.

"Harganya oke, kita beli ini aja." putusnya.

Setelahnya Jovan dan Zidan mengantri di kasir. Siang ini memang cukup ramai, wajar saja karena ini weekend.

Sarsnit | JAEMJENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang