"Jovan, perkenalkan ini teman papa namanya Pak Wahyu, dan ini putranya, Chintya. Perempuan ini yang nantinya akan jadi istri kamu."
"Pa! Apaansih?"
Jovan menatap papanya nyalang, dia tentu saja tidak terima jika kehidupannya diatur-atur seperti ini.
"Aku gak mau papa atur kehidupan aku kayak gini. Dan lagi, sejak kapan papa jadi suka mencampuri urusan aku? Apalagi masalah asmara, sejak kapan?"
"Jovan, ini semua demi kebaikan kamu, papa lakuin ini semua demi kamu. Lagian Chyntia ini perempuan baik-baik, kamu tidak akan kecewa menikah dengan dia." jawab Bayu.
Jovan menatap Bayu dengan pandangan kecewa. Sekali lagi dia tidak mengerti maksud papanya melakukan hal ini. Mengatur kehidupannya bukanlah gaya papanya dalam mendidiknya.
Selama ini, Jovan hanya menurut pada papanya karena menganggap semuanya memang demi kebaikannya. Tapi kali ini sudah kelewatan, papanya tidak memiliki hak untuk menentukan kisah percintaannya. Tidak seharusnya papanya bertindak sejauh itu.
Jovan tersentak begitu merasakan tubuhnya ditarik seseorang. Dapat dia lihat di depannya kini berdiri sosok Novan, adiknya itu menggenggam erat tangan kecil Jovan.
"Maaf menyela, tapi sepertinya semua itu tidak akan terjadi." ucap Novan dengan nada datar. Jika diteliti lagi, ada kekesalan di dalamnya.
"Apa maksudnya?" tanya istri dari Pak Wahyu, yang Novan tau namanya Dinda.
Novan menoleh ke belakang, menatap Jovan yang juga sudah lama menatapnya. "Kakak mau dijodohkan sama dia?" Jovan menggeleng, membuat senyum sinis terbit di bibir Novan. "See? Kakakku tidak ingin perjodohan ini terjadi, dan akupun tidak menginginkannya."
Novan melangkah beberapa langkah untuk mendekat pada papanya. "Biar aku tebak, perempuan ini adalah anak pengacara yang papa bilang beberapa waktu lalu, kan?"
"Aku tidak akan membiarkan papa melakukan semua itu." lanjutnya dengan penuh penekanan.
Bayu menatap anaknya dengan tatapan yang sama. "Kenapa begitu? Kau tidak punya hak atas hidup kakakmu."
"Tentu saja aku punya hak." teriak Novan menjawab ucapan Bayu. "Aku yang hidup bersama kakak, aku yang menjaganya, aku yang merawatnya setelah mama pergi, aku berhak untuk menentukan mana yang baik dan tidak untuk kakak. Justru disini Anda yang tidak memiliki hak tersebut, tuan Abimana."
"Jaga ucapan kamu, Novan!"
Bayu menunjuk tepat di depan mata Novan, matanya menatap marah pada Novan. Bukannya takut, Novan balik menatap nyalang kearah Bayu.
"Apa ucapanku salah?" tanya Novan dengan nada yang datar. Dia tau Bayu tidak akan bisa menjawabnya karena semua ucapannya merupakan kebenaran.
Jovan menarik ujung baju yang Novan kenakan, berniat menyuruh Novan berhenti berdebat dengan sang papa. Namun sepertinya Novan sudah tersulut emosi, dia sama sekali tidak menoleh sedikitpun pada Jovan.
"Saya rasa, cukup sampai disini." ujar Novan tiba-tiba. Tangannya kemudian menarik Jovan agar lebih dekat dengannya. "Kita sudahi saja semuanya–"
Plak
Kepala Novan tertoleh ke kanan setelah suara nyaring pertemuan kulit tangan papanya dengan kulitnya. Belum sempat ucapannya selesai, tapi Bayu sudah tau kemana arah kalimat yang Novan akan ucapkan.
Novan menggenggam erat tangan Jovan, matanya semakin menyorot penuh kebencian. Tidak lama, kekehan sinis terdengar dari mulut Novan yang sedikit berdarah.
"Ah, betapa sakitnya ditampar oleh papa sendiri." ucapnya, Novan menekankan pengucapan papa dengan nada sinis. "Lihatlah ini Pak Wahyu, apa kau masih yakin untuk menyerahkan putrimu pada lelaki ini? Jangan hanya karena tergiur omongan lelaki tua ini, kau tega menyerahkan putrimu pada mertua yang kasar dan bertemperamen buruk sepertinya."
Wahyu yang sedari tadi hanya melihat, kini menatap bergantian putrinya dan rekan kerjanya. Di sebelahnya, Chintya hanya diam menunduk.
Novan sadar Chintya juga dipaksa melakukan semua ini. Terbukti dari tatapan sedihnya saat Novan dan Jovan baru datang tadi.
"Novan."
Suara lirih dan sedikit bergetar itu membuat semua mata tertuju kearah Jovan. Mata lelaki itu sudah berkaca-kaca, membuat Novan tidak tega.
"Kau menyakitiku," cicit Jovan, matanya menyorot kebawah. "tanganku....sakit."
Seketika Novan melepaskan genggaman tangannya pada Jovan. Dapat dia lihat tangan Jovan yang sedikit memerah. Tatapan Novan beralih ke mata Jovan, tangannya kini sudah mengusap lembut tangan Jovan yang memerah.
"Maafkan aku, kak." ujarnya menyesal.
~Sarsnit~
Keduanya berakhir disebuah kedai eskrim yang terkenal di kotanya.
Jika kalian bertanya bagaimana bisa, itu karena setelah Jovan mengeluh kesakitan, Novan segera membawanya pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun. Novan tidak peduli jika papanya tetap melanjutkan perjodohan tersebut. Dia juga tidak peduli jika Pak Wahyu menganggapnya tidak sopan karena pergi begitu saja. Yang dia pedulikan hanya Jovan dan rasa sesak di dadanya.
Novan tidak tau apa namanya, tapi dadanya seperti diremas-remas saat mengetahui jika Jovan akan dimiliki orang lain. Dia tidak rela, sepertinya begitu.
"Aku boleh jujur tentang sesuatu?"
Ucapan Novan berhasil mengalihkan perhatian Jovan dari eskrim vanila di depannya. Setelah melihat kakaknya memberikan respon, Novan menarik nafas dalam.
"Sakit." Tangan Novan menunjuk tepat di depan dadanya. "Disini, seperti di pukul palu besar. Aku gak tau apa semua ini, Kak. Tapi rasanya sakit sekali."
Jovan tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat Novan menatapnya dengan luka, amarah, dan dendam di dalamnya. Air mata Jovan tanpa sadar luruh melihat tatapan terluka Novan.
"Aku udah nurutin semua kemauan papa, tapi dia tidak menepati janjinya. Kenapa harus kakak? Kenapa papa harus melakukan itu?" Tangisan Novan tidak tertahan lagi.
Novan sudah bersedia membantu papanya mengurus perusahaan, dengan iming-iming papanya membebaskan Jovan, kakaknya. Tapi kenapa papanya berkhianat? Kenapa papanya masih melakukan perjodohan konyol itu?
Ya, Novan memang sudah mengetahui perihal perjodohan ini. Novan juga sudah bernegosiasi dengan papanya agar tidak meneruskannya, dengan balasan Novan bersedia mengurus perusahaan papanya yang diambang kebangkrutan. Tapi apa yang dia dapatkan?
Seharusnya Novan sadar dari awal papanya memang tidak berniat melakukan perjanjian itu. Harusnya Novan sadar tentang sifat papanya yang tidak goyah dalam sebuah keputusan. Sangat licik, Novan menyesal mengakui pria itu sebagai papa.
"Kakak yakin papa gak akan melanjutkan niat itu. Percaya sama papa, Van. Papa sayang kita." ucap Jovan sembari mengelus punggung Novan yang bergetar karena tangis.
Tidak.
Ucapan Jovan tidaklah benar. Novan lebih mengenal bagaimana papanya itu. Papanya tidak akan dengan mudah menghentikan niatnya. Egonya terlalu besar.
Novan diam membisu. Pikirannya kini bercabang. Antara memikirkan kekecewaannya dan juga keselamatan Jovan.
Jovan tidak boleh terus-terusan menjadi boneka papa, Jovan punya kehidupannya sendiri. Dia berhak memilih hidupnya sendiri. Dan Novan akan membantu Jovan dalam hal ini. Dia akan menjadi temeng terdepan untuk Jovan.
"Kakak mau ikut aku?" tanya Novan tiba-tiba.
"Kemana?"
"Pergi dari jangkauan papa."
~Sarsnit~
Tebece~
Hehehe update cepet sebagai bentuk syukur aku karena kalian rajin vote, juga sebagai ucapan syukur KARENA JAEMJEN NGEGAS BANGET AWAL TAHUN😭🙏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
FanfictionDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
