Beberapa part kedepan, aku buat biar ada flashback. Kalian juga biar gak terlalu penasaran sama alasan Jovan pergi. Satu persatu, perlahan tapi pasti, aku bakal jelasin alasannya.
Happy reading~💚
•••
Cahaya senja yang lembut menyelimuti danau, memantulkan warna-warni langit ke permukaan air yang tenang. Zidan dan Jovan duduk berdampingan di bangku taman kayu yang sudah usang, aroma tanah basah dan dedaunan kering menguar di udara. Mereka baru saja menyelesaikan sesi lari sore, dan napas keduanya masih sedikit tersengal.
"Huhh, gila, lari lima kilometer itu jauh juga ya," kata Jovan sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Ia menoleh ke arah Zidan yang tampak lebih gelisah dari biasanya. "Kenapa, Dan? Mukamu kok tegang banget? Jangan-jangan kram otot lagi?"
Zidan tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah danau, seolah mencari keberanian di balik riak air yang tenang. Jantungnya berdebar kencang, lebih kencang dari saat ia berlari tadi. Ini adalah momen yang ia takutkan sekaligus dambakan.
"Jova," panggil Zidan pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Ya?" Jovan menoleh penuh perhatian, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada suara sahabatnya.
Zidan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya.
"Aku... aku harus bilang sesuatu sama kamu," lanjut Zidan, matanya akhirnya beralih menatap Jovan. Ada campuran takut dan harapan di sana.
Jovan mengernyitkan dahi. "Bilang apa? Kedengarannya serius banget."
"Ini serius," Zidan mengangguk. "Kamu sempat tanya alasan aku nolak Leo, sekarang masih penasaran gak?"
Jovan antusias, akhirnya pancingannya selama ini membuahkan hasil. "Apa alasannya?" tanyanya antusian. Matanya memancarkan rasa penasaran yang sangat ketara.
Zidan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku nolak dia... bukan karena nyimpen orang di masalalu."
Jovan menatap Zidan, kebingungan mulai muncul di wajahnya. "Perasaan lo gk pernah punya cowok deh, siapa yang lo suka?"
Zidan menunduk, menatap ujung sepatu ketsnya. Rasa malu dan takut bercampur aduk. "Ada," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.
"Siapa?" tanya Jovan, semakin penasaran. Ia bahkan sedikit memajukan tubuhnya.
Zidan mengangkat kepalanya lagi, kali ini tatapannya terkunci pada mata Jovan. Senja keemasan membingkai wajah Jovan, membuatnya terlihat lebih lembut. Zidan tahu, ini sekarang atau tidak sama sekali.
"Orang itu... kamu, Jova," ucap Zidan, suaranya kini lebih tegas meski masih ada getaran di sana. Ia melihat mata Jovan melebar. "Aku tahu ini mungkin kedengaran aneh atau gila buat kamu. Tapi... aku sudah lama banget suka sama kamu, Jova. Lebih dari sekadar sahabat."
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara angin yang berdesir pelan di antara pepohonan yang terdengar. Jovan terpaku, ekspresinya antara terkejut, tidak percaya, dan sedikit canggung. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Otaknya mencoba memproses kata-kata Zidan.
"Aku... aku nolak Leo karena di hatiku cuma ada kamu, Jova," Zidan melanjutkan, melihat reaksi Jovan yang membisu, ia merasa perlu menjelaskan. "Setiap kali kita bareng, hatiku rasanya hangat. Aku suka cara kamu ketawa, cara kamu semangat sama hal-hal kecil, bahkan cara kamu ngomel kalau aku telat. Aku tahu ini berat buat di dengar, apalagi dari sahabatmu sendiri. Tapi aku sudah nggak sanggup lagi nyimpan ini sendirian."
Jovan masih belum berkata-kata. Ia hanya menatap Zidan, tatapan matanya sulit diartikan.
Zidan menelan ludah. "Aku nggak minta kamu harus balas perasaanku. Aku juga tau buat siapa hati kamu. Aku cuma pengen bilang biar aku lega, dan sekarang aku lega.
Zidan mengalihkan pandangannya kembali ke danau. Langit senja kini berubah menjadi lebih gelap, digantikan oleh semburat biru tua. Hatinya terasa sakit sekaligus lega. Ia telah mengatakan segalanya.
~Sarsnit~
Cahaya matahari yang menembus jendela apartemen menerangi ruang tamu rumah Novan. Jovan bersandar nyaman di dada Novan, mereka duduk di sofa empuk sambil menonton film dokumenter tentang kehidupan laut yang diputar pelan di televisi layar datar. Aroma teh melati yang baru diseduh menguar, menambah kenyamanan suasana siang itu.
Jovan menggeser sedikit tubuhnya, mencari posisi yang lebih pas. Tangannya melingkar di pinggang Novan, sementara pipinya menempel di bahu bidang adiknya itu. Novan balas memeluknya erat, satu tangannya mengusap lembut rambut Jovan, sementara tangan yang lain memegang cangkir teh.
"Filmnya lumayan seru, ya," gumam Jovan pelan, suaranya sedikit teredam.
Novan tersenyum, merasakan hembusan napas Jovan di lehernya. "Lumayan. Tapi ngelihat kamu lebih seru," bisiknya, lalu mengecup puncak kepala Jovan.
Jovan terkekeh, lalu mendongak sedikit menatap wajah Novan. "Gombal."
"Memang," Novan mengakui sambil tersenyum. Ia menunduk, mencium kening Jovan lama. Kehangatan bibir Novan terasa menenangkan, membuat Jovan memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan itu.
"Capek?" tanya Novan, suaranya penuh perhatian. Ia bisa merasakan Jovan sedikit merenggangkan badannya. Kata itu, Jovan tahu kemana arah pembicaraan ini.
Jovan mengangguk pelan. "Sedikit." Ia kembali menyandarkan kepalanya, jemarinya bergerak-gerak kecil di kaos Novan. "Kangen, tapi sekarang sudah cukup. Kamu dan aku, dengan beribu kebahagiaan yang kamu kasih ke aku, itu cukup."
Novan mengeratkan pelukannya. "Selalu ada aku." Ia memiringkan kepalanya, meletakkan dagunya di atas kepala Jovan. "Apapun aku lakukan selama kakak bahagia." bisiknya dengan penuh keyakinan.
"Kakak nyesel ga?"
"Nope," Jovan mendongak, matanya berbinar. "Aku punya kamu, dan itu cukup."
Novan tersenyum mendengarnya. Dia tau, dan dia akan selalu tau. Hal yang membuat kakaknya bahagia, dia akan kabulkan. Sekalipun membahayakan dia, asal kakaknya bahagia dia juga.
Jovan mendesah pelan, memincing melihat Novan yang hanya tersenyum. "Kok gak dibalas?" sentaknya.
Novan terkekeh, dia mencium bibir Jovan. "Iya kakakku sayang... Terimakasih untuk selalu percaya sama aku. Terimakasih udah ngasih aku semua kekuatan untuk bertahan. Dan terimakasih untuk tetap sehat, berada di sisiku." ucapnya tulus. Bibirnya menghujami wajah Jovan dengan ciuman ringan. Kemudian menarik Jovan agar bisa dipeluknya lagi.
"Kamu jadi manja, aku suka." komentar Jovan.
"Kan emang cuma aku yang boleh manja-manjain kamu sampai kayak gini," balas Novan, suaranya mengandung nada menggoda. Ia tahu Jovan suka dimanja, dan ia senang melakukannya.
Jovan tersenyum, menyamankan diri dalam pelukan Novan. Ia merasakan kehangatan dan ketenangan yang luar biasa. Di sinilah tempatnya seharusnya berada, di sisi adiknya, kekasih hatinya. Dulu, ia mungkin pernah berjuang dengan perasaannya, menghadapi ketidakpastian. Tapi kini, semua itu hanya bayangan masa lalu. Yang ada hanyalah kehangatan pelukan Novan, bisikan lembutnya, dan rasa aman yang tak tergantikan.
"Aku sayang kamu, Novan," ucap Jovan tiba-tiba, tulus dari lubuk hatinya.
Novan menghentikan usapannya pada paha Jovan, kepalanya menunduk demi menemukan Jovan yang menatap lurus TV di depan. "Aku lebih sayang kamu, Kak."
Mereka berdua lalu melanjutkan menonton film, Novan memeluk dan mencium Jovan sesekali, dan Jovan bersandar manja dalam pelukan adiknya. Matahari di luar memancar dengan terang, semakin mendukung suasana hangat kedua insan yang sedang bermesraan.
Akam Jovan hadapi dunia yang jahat ini, asalkan Novan tetap menggenggam tangannya.
~Sarsnit~
Guys...aku sedih sama berita yang beredar tentang Mark. Boleh ga kalau visual Mark aku ganti ke yang lain? Saran dong karakternya Rama diganti siapa ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
FanfictionDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
