"CELINE, KEMARI KAU ANAK NAKAL!"
Pekikan tawa anak kecil belum genap dua tahun itu memenuhi ruang keluarga yang luas. Di belakangnya terlihat Zidan yang berlarian dengan baju di tangan dan handuk di bahunya.
"No no no no~" gumam gadis kecil itu sambil terus berlari menghindar dari Zidan.
Dari arah dapur, terlihat wanita dengan apron dan spatula ditangannya. "Kalian berdua berisik sekali!" Dengan tatapan garang menatap kedua manusia beda usia itu. "Dalam hitungan ketiga jika tidak segera ke meja makan jangan harap kalian dapat jatah makan."
Seperti sebuah mantra, dua manusia itu segera berlari menuju meja makan. Zidan yang melihat manusia kemasan sachet itu berjalan begitu lambat, segera membopongnya dan berlari ke meja makan.
Setelah melihat dua makhluk itu duduk rapi di kursinya masing-masing, wanita dengan paras cantik itu tersenyum bangga. Segera dia letakkan seporsi makanan khusus bayi di depan cheline.
"Punyaku mana?" kalimat tanya itu berhasil mengundang lirikan maut dari si perempuan. Zidan langsung saja mengunci rapat mulutnya, takut boy~
"Teh gigi, aduh aduh bantu angkat ini tolong, berat banget." suara cempreng dari arah dapur membuat perempuan itu segera berjalan ke dapur dan melihat apa yang terjadi.
Melihat siluman macan sudah masuk ke dapur, Zidan menghembuskan nafas. Tangannya dengan terampil mengambil nasi dan beberapa lauk, mengabaikan suara ribut dari arah dapur. Sudah biasa dia alami dua tahunan terakhir.
Tidak lama ocehan yang tadi dia dengar dari dapur semakin mendekat, membuat Zidan mengalihkan tatapan dan berhenti menyuap nasi. Terlihat Geisha, perempuan dengan apron pink yang tidak berhenti mendumel dan Mira yang mukanya ditekuk.
"Makanya kalau kerja itu pakai otaknya juga, jangan mulut doang yang diakai."
Zidan terkekeh mendengar omelan Gigi atau Geisha. "Kenapa lagi sih?" tanyanya penasaran, lebih ke basa-basi saja sih.
"Nih si Rara, masa baru ditinggal bentar aja udah ga bener kerjanya. Bisa-bisanya sayur yang aku suruh taruh di mangkok malah mau diangkat sepanci-pancinya. Geram banget aku hiiihhh!"
Lepas sudah tawa Reyhan begitu mendengar hal tersebut. Sedangkan oknum yang menjadi bahan tertawaan semakin memasang wajah cemberutnya.
"Kan aku gatau, teh Gigi juga bilangnya ga jelas, sambil jalan aku kan jadi ga dengar jelas."
"Ya harusnya kamu tuh mikir dong. Pernah ga aku kasih kalian makan di panci, hah? Aku mana pernah kasih makan langsung dari alat masaknya langsung. Lagian logika aja, manusia mana yang makan dari alat masaknya?"
Mira semakin menekuk wajahnya, baru menyadari kesalahannya. Ya, dia memang salah kali ini.
"Udahlah, duduk lo berdua makan yang bener."
Keduanya duduk dan segera mengisi perut. Seolah tidak terjadi apapun barusan.
~Sarsnit~
"Gue gatau lagi harus cari mereka ke negara mana. Lo tau sendiri kan, hampir seluruh negara udah gua jelajahi. Tapi hasilnya selalu sama. Sebenarnya mereka ini siapa sih, kenapa lo segitunya nyariin mereka?"
Laki-laki dengan kemeja hitam itu menghela nafas berat. "Orang yang berarti buat gue." jawabnya lirih.
Leo, laki-laki dengan kacamata itu mengacak rambutnya, mengerang frustasi. Sudah dua tahun tapi setiap usahanya selalu berakhir sama.
Dua tahun sudah dia mencari keberadaan Jovan dan Novan, tiada hari untuk istirahat. Semua orang kepercayaannya sudah dia kerahkan untuk menemukan keduanya di belahan dunia manapun. Tapi kali ini hasil mengkhianati usaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
FanfictionDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
