Happy reading💚
•••
Mentari pagi menembus celah gorden kamar, membangunkan Jovan dengan sinarnya yang hangat. Ia menggeliat, lalu menoleh ke samping, mendapati Novan masih terlelap. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, namun segera memudar mengingat rencana paginya yang buyar. Jovan berniat keluar untuk sekadar berjalan-jalan di taman dekat rumah, menghirup udara segar, tetapi Novan melarangnya keras semalam.
"Kaki kamu belum sepenuhnya pulih, Jovan. Jangan memaksa," bantah Novan kemarin malam dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.
Alasan itu membuat Jovan kesal. Kaki kanannya memang masih sedikit nyeri setelah dua hari lalu dia menendang meja dengan kuat, tetapi ia merasa cukup kuat untuk berjalan santai. Novan selalu terlalu protektif, terutama sejak mereka memutuskan untuk pindah dan hidup tanpa bayang masalalu. Terkadang, rasa sayang yang berlebihan itu terasa seperti belenggu.
Jovan bangkit perlahan, berusaha tidak membangunkan Novan. Ia berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan luar dengan tatapan sendu. Burung-burung berkicau riang, anak-anak sekolah berlalu-lalang, seolah mengejek kebebasannya yang terenggut. Ia mendengus kesal. Mengapa Novan harus begitu posesif? Apakah kakinya yang sedikit sakit itu lebih penting daripada kebahagiaan kecilnya?
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya. Napas hangat berembus di tengkuknya.
"Pagi, kakakku yang manis," bisik Novan, suaranya serak khas bangun tidur.
Jovan bergeming, tidak membalas pelukan itu. Novan merasakan ketegangan di tubuh kakaknya.
"Ada apa? Kamu masih marah soal semalam?" tanya Novan, membalikkan tubuh Jovan agar menghadapnya.
Mata Jovan memancarkan kekesalan. "Menurutmu?" ia balik bertanya, suaranya tertahan. "Aku hanya ingin sedikit udara segar, Novan. Kakiku baik-baik saja."
Novan menghela napas, mengusap pipi Jovan dengan lembut. "Aku hanya khawatir, sayang. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa."
"Khawatir atau tidak percaya padaku?" sindir Jovan, mendorong tangan Novan pelan. "Aku bukan anak kecil lagi, Novan. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Senyum di wajah Novan menghilang, digantikan ekspresi serius. "Kak, kumohon. Ini demi kebaikanmu. Lagipula, kita tidak bisa mengambil risiko apa pun di luar sana."
Jovan mengerti, tetapi tetap saja, rasa sesak itu sulit dihilangkan. Ia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela lagi. Pagi yang seharusnya cerah, kini terasa kelabu. Kemarahan bercampur kesedihan bergolak dalam hatinya, terperangkap di antara cinta dan larangan.
Novan melihat raut wajah Jovan yang murung. Bibirnya mengerucut, matanya menerawang jauh ke luar jendela, dan bahunya sedikit melorot. Novan tahu betul tanda-tanda itu. Jovan tidak hanya kesal, tetapi juga sedih. Hatinya mencelos. Ia tidak tahan melihat adiknya, orang yang paling ia cintai, bersedih karena dirinya.
Ia menghela napas panjang. "Baiklah, sayang," katanya pelan, membuat Jovan sedikit tersentak dan menoleh padanya. "Aku menyerah."
Mata Jovan membulat, menatap Novan penuh tanya.
"Kita akan pergi ke taman," lanjut Novan, tersenyum tipis. "Tapi ada syaratnya."
Kening Jovan berkerut, namun ada secercah harapan di matanya. "Syarat apa?"
"Kamu harus memakai jaket," Novan menunjuk jaket tebal yang tergantung di kursi. "Dan kita tidak akan pergi terlalu lama. Kalau kakimu terasa sakit, langsung bilang padaku, dan kita akan langsung pulang. Deal?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
FanficDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
