26. Rahasia

421 31 14
                                        

Malam telah menyelimuti rumah dengan kegelapan yang nyaman, hanya diterangi oleh cahaya redup lampu meja dan kilauan samar dari layar televisi yang kini sudah mati. Jovan dan Novan masih terbaring di sofa, tubuh mereka saling menempel seperti dua bagian yang tak terpisahkan dari satu kesatuan. Udara terasa hangat, bercampur aroma teh yang mulai dingin dan parfum lembut Novan yang selalu membuat Jovan merasa aman.

Novan menggeser posisinya sedikit, membiarkan Jovan meringkuk lebih dekat di dadanya. Jemarinya dengan lembut menyisir rambut Jovan, gerakan yang sudah menjadi kebiasaan mereka setiap malam. "Kamu udah ngantuk?" bisik Novan, suaranya rendah dan penuh kelembutan, seolah tak ingin mengganggu kedamaian yang mereka ciptakan.

Jovan menggeleng pelan, meski matanya sudah setengah terpejam. "Belum. Aku lagi mikirin... masa lalu kita." Ia mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Novan yang selalu penuh pengertian. Novan mengernyit bingung, membuat Jovan kembali mendusal di dadanya. "Kakak kangen?" tanyanya. Bisa Novan rasakan Jovan mengangguk singkat.

Novan tersenyum tipis, jarinya menyentuh pipi Jovan dengan kelembutan. "Maaf udah bawa kakak jauh dari semuanya."lirihnya. "Aku cuma pengen kebahagiaan buat kakak. Mereka terlalu banyak menyakiti kita, bahkan disaat kita sudah sangat percaya pada mereka." Ada nada tegas di balik kata-katanya, tapi penuh cinta yang tak tergoyahkan.

Jovan merasakan hangatnya sentuhan itu, membuat hatinya berbunga. Ia mengangkat tangannya, memegang tangan Novan dan menariknya ke bibirnya, mencium punggung tangan adiknya itu. "Aku nggak mau sembunyi lagi. Tapi... kadang aku masih takut."

Novan mengerutkan dahi, ekspresinya berubah serius. "Kakak ingin kembali?" tanyanya. Novan bukannya tidak ingin menuruti, hanya saja setelah sekian lama dan dia pikir dia berhasil membuat Jovan bahagia. Apa selama ini kebahagiaannya hanya kebohongan?

"Kamu sudah berhasil buat aku bahagia." Jovan menatap mata Novan yang masih menatapnya. Tangannya dia bawa mengelus alis Novan yang berkerut. "Aku rasa sudah cukup bagi kita untuk main petak-umpet. Beberapa hari lalu aku dapat email dari Leo."

"Apa yang bajingan kecil itu bilang?" Ada nada tidak suka dari kalimat Novan. Sontak saja Jovan menyentil mulut Novan, tidak sopan berkata kasar. "Dia pantas dapatin panggilan itu." bantah Novan, dia tentu tidak terima harus disalahkan.

"Dia gak salah Novan, kita udah pernah bahas ini."

Memang, beribu kali mereka membahas masalah ini. Dan ribuan kali Jovan masih menganggap tindakan mantan temannya itu tidak salah. Padahal sudah jelas bahwa Leo bersalah dalam hal ini. Novan tidak habis pikir dengan kakaknya itu, bagaimana bisa dia tetap berbaik hati setelah diperlakukan seperti itu?

Suara tawa melengking terdengar, bergaung di sebuah kamar apartemen studio yang berantakan. Leo bersandar di kursi gamingnya, menatap layar ponsel dengan senyum lebar yang hampir menakutkan.

"Sialan, ternyata semudah ini" gumam Leo, jari-jarinya menari di atas keyboard, mengetik pesan singkat.

Di layar ponselnya, terlihat percakapan dengan kontak tanpa nama.

Unknown

Sudah? Kapan?

Sabar, Bos. Target lagi sama Novan.
Lo nggak mau kecolongan, kan?

Saya mau foto detail. Lebih banyak. Cepat.

Leo menggulir galeri ponselnya. Ratusan foto Jovan, diambil secara diam-diam. Di kafe, di kampus, bahkan beberapa saat Jovan sendirian di taman. Foto-foto itu diambil dengan presisi, menangkap ekspresi dan momen yang mungkin tak disadari Jovan.

"Astaga, senyumnya... bahkan ekspresi kagetnya juga lucu. Nggak heran orang itu terobsesi" batin Leo, seulas senyum jahat tersungging di bibirnya. Ia memilih beberapa foto terbaik yang ia ambil hari itu, memencet tombol kirim.

Tak lama, sebuah notifikasi masuk. Notifikasi transfer bank. Jumlahnya fantastis. Leo tertawa lagi, tawa yang penuh kepuasan dan keserakahan.

"Hahahaha! Cuma modal jepret sana-sini, dapat uang segini banyak. Bodohnya si Zidan nolak aku. Dia nggak tahu seberapa berharga Jovan bagi 'orang itu'. Dan sekarang, berharga juga buat kantongku." Leo meneguk minuman bersodanya, menikmati rasa manis yang bercampur dengan pahitnya sebuah pengkhianatan yang tak disadari siapapun.

Ia tahu perbuatannya salah. Tapi uang... uang bisa membeli segalanya. Bahkan, mungkin, melupakan rasa sakit karena ditolak Zidan. Apalagi, 'orang itu' begitu royal. Dan Leo, tidak akan pernah menolak uang.

Pekerjaan yang awalnya hanya diambilnya karena iseng, siapa sangka justru membawanya meraup banyak keuntungan.

Jovan mengecup kening Novan, lalu turun ke hidung, dan akhirnya bibirnya yang lembut. Awalnya hanya kecupan ringan, sebelum akhirnya Novan menahan tengkuk Jovan guna memperdalam ciuman mereka. Ciuman itu panjang, penuh janji, membuat Jovan lupa sejenak pada kekhawatirannya.

Setelah ciuman itu, Jovan tersenyum, pipinya memerah. Ia bermanja lagi, menggosokkan hidungnya ke leher Novan seperti anak kecil yang mencari perhatian.
"Kamu curang." cicit Jovan.

" Dan kamu selalu tahu cara bikin aku tenang. Janji ya, kita hadapi semuanya bareng?"

"Janji," jawab Jovan tegas, tangannya membelai punggung Novan dengan ritme yang menenangkan. "Ayo kembali ke Indonesia."

Mereka berdua pun terdiam, hanya mendengarkan detak jantung masing-masing yang berdetak selaras. Malam semakin larut, tapi bagi Jovan dan Novan, waktu seolah berhenti. Di pelukan satu sama lain, mereka menemukan kekuatan untuk menghadapi dunia yang mungkin tak selalu ramah terhadap cinta mereka—cinta yang lahir dari ikatan darah dan hati yang tak terpisahkan.

~Sarsnit~

"Saya sudah berhasil melacaknya, bos."

Laki-laki dengan jas hitam itu menyeringai puas, tangannya menyodorkan cek yang tertulis sejumlah uang. "Berikan sedetail mungkin." ujarnya datar.

"Mereka di Canada, informasi terakhir yang saya dapatkan Novan membangun rumah kecil di pinggiran kota."

"Siapkan pesawat, kita jemput mereka. Sebelum 'dia' berhasil sampai lebih dulu."

"Baik, bos."

~Sarsnit~

TEBECEE~

Holaaa~
Kangen aku ga?

Sarsnit | JAEMJENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang