22. Kesalahan

540 35 4
                                        

Happy reading💚

Malam semakin larut. Bahkan suara burung malam hari pun sudah terdengar. Tapi Leo tidak menunjukkan pergerakan dari balik komputernya. Matanya tetap fokus pada segala kata yang dituliskan di sana.

"Ini udah malam loh, mata kamu juga perlu istirahat."

Leo mendesah pelan mendengar suara wanita yang dia sayang. Tanpa perlu berbalik dia tau siapa orang itu. Begitu merasakan pijatan pada bahunya, Leo menyandarkan kepalanya pada perut si wanita.

"Kerjaan kantor?"

Leo menggumam tidak jelas, sebelum melirik keatas, melihat wajah cantik wanitanya. "Nunggu kabar dari Firman, dia bilang kalau udah ada jejak tentang mereka. Daripada aku ketiduran jadi aku ngerjain pekerjaan buat besok sekalian." ujarnya.

Gigi mengangguk, wanita dengan dres tidur selutut itu mengusap pelan bahu Leo. "Aku tau penyesalan kamu gak akan hilang hanya dengan ngebesarin Celine, tapi dengan kamu nyiksa diri seperti ini apa mereka akan senang?"

"Leo, kamu tau kalau rasa sakit yang Jovan rasakan tidak bisa hilang hanya dengan kata maaf. Kita semua bersalah, kita semua berperan menorehkan luka di hatinya. Hanya Novan yang dengan inisiatifnya membawa Jovan pergi. Apa menurutmu, Novan maupun Jovan akan senang bertemu kembali dengan kita?"

Leo terdiam. Tepatnya dia tidak punya jawaban yang sejalan dengan hatinya. Dia sangat tau bagaimana luka yang tanpa sengaja dia berikan. Dia, Zidan, Geisha, dan Mira. Orang yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk melindungi Jovan dari bahaya justru menyerahkan Jovan pada bahaya itu sendiri.

Flashback

"Ayolah, kalaupun menang juga kenapa? Toh kalau kita menang, kita malah dapat uang yang sangat banyak. Bayangin deh, nanti kita bisa liburan ke Jepang seminggu."

"Gua gamau, harus berapa kali gua bilang kalau gua gamau? Jangan maksa."

Leo mendesah frustasi, pikirannya yang kacau semakin diperumit dengan penolakan Novan. "Gua mohon, Van. Sekali doang gak bikin lo rugi." lirih Leo dengan nada yang amat sangat frustasi.

"Lo tuh paham gak sih, gua gamau nanam saham di perusahaan yang belum jelas kayak punya temen lo itu. Resikonya gede asal lo tau. Lo mana paham, selama ini yang lo kejar cuma kuantitas sedangkan gua harus pertimbangkan juga kualitasnya." jelas Novan.

Anak manajemen seperti Novan tentu tidak akan mau mengambil resiko besar hanya demi perusahaan kecil. Bukannya untung malah buntung yang ada. Berbeda dengan Leo, anak akuntansi sepertinya lebih peduli dengan keuntungan yang sedikit asal konsisten. Yah memang bertolak belakang keduanya ini.

"Van, gua tau lo orangnya perfect banget. Semua urusan lo bahkan harus perfect. Tapi please lah kali ini aja bantuin gua. Gua tau ya lo anak Aditama yang uang kecil aja gak ada artinya. Lo bisa minta ke papa lo dikit aja." desak Leo kembali.

Sudah rahasia umum jika Novan dan Jevan adalah anak dari istri pertama Aditama. Tiga bulan lalu Bayu Aditama mengadakan pers untuk mengumumkan keduanya secara resmi di hadapan publik.

Novan menghela nafas berat. "Awas kalau gua kena masalah gegara lo." ancam Novan.

Flashback off

Leo menghela nafas berat. Sungguh Leo tidak tau kebodohannya akan membawa salah satu temannya dalam bahaya. Leo kira dia akan aman hanya mengajak Novan berbisnis. Tapi namanya hidup, yang mudah sudah pasti berbahaya sedangkan kita semua tau uang bukan hal yang mudah didapatkan.

~Sarsnit~

Sinar matahari mengintip malu-malu melalui celah jendela. Novan mengerang pelan sebelum duduk untuk mengumpulkan nyawanya.

Ceceran baju di lantai kamar dia hiraukan, lebih memilih beranjak menuju kamar mandi dan mencuci mukanya.

Semalam adalah hal yang menyenangkan dan melelahkan. Novan memandang tubuh polos Jovan di atas kasur. Membiarkan Jovan tidur sejenak, dia lebih memilih mengganti pakaian sebelum memasak makanan untuk Jovan.

Setidaknya dia tau terimakasih setelah membuat Jovan berteriak semalaman. Pastinya melelahkan.

Novan mulai memasak onion pasta, kesuakaan Jovan. Dua tahun hidup di negeri kincir ini, membuat selera Jovan juga menyesuaikan negara ini. Entah kenapa sekarang dia lebih suka pasta dan pizza dengan toping keju yang melimpah daripada nasi goreng dengan taburan cabai.

Padahal cabai sampai sekarang masih menjadi makanan yang tidak akan turun ratingnya untuk Novan.

Ngomong-ngomong, apa kalian tidak penasaran bagaimana bisa Novan membawa Jovan ke negeri kincir angin? Alasannya klasik, Novan ingin Jovan mendapatkan kebahagiaan seratus persen bahkan jika bisa lebih dari itu.

Jovan terlalu banyak menerima sakit. Bahkan ketika dia mulai percaya dengan orang yang dianggapnya teman, Jovan terkhianati karenanya. Dunia sudah cukup memberinya luka, kini biarkan Jovan yang memberi surga dunia untuk Jovan.

Mengingat masalalu membuat Novan merotasikan matanya malas. Dia sangat malas mengingat kejadian dahulu, tapi mau bagaimana lagi. Pikiran manusia di pagi hari sangatlah liar.

"Novan!" teriak Jovan dari lantai atas.

Novan yang baru saja meletakkan pasta di piring menoleh. Setelahnya berlari menuju kamarnya. Jovan pasti akan marah tidak lama lagi.

"Kamu ninggalin aku setelah kamu pakai? Benar-benar anggap aku ini jalang ya?" tudingan tidak berdasar itu Jovan layangkan pada Novan. Begitu melihat Novan di ambang pintu kamar. Bahkan kaki Novan belum melangkah jauh masuk ke kamar.

Novan hanya tersenyum simpul dan berjalan mendekat. Tanpa aba-aba dia gendong tubuh polos Jovan. "Maaf, aku habis siapin sarapan buat kakak. Aku bantu bersih-bersih setelahnya kita makan bareng, oke?" ucapnya lembut.

Wajah murung Jovan berbinar mendengarnya. Walau bukan pertama kalinya diperlakukan manis after sex, Jovan tidak bisa untuk tidak jatuh berkali-kali. Novan dan caranya yang sederhana.

Hal yang Jovan benci ketika selesai berhubungan adalah tidak adanya eksistensi Novan di dalam kamar. Namun kebiasaan bangun pagi Novan juga tidak bisa terlewati. Selalu ada drama yang berkesan di pagi hari keduanya.

"Kamu masak apa? Sudah mandi?"

Pertanyaan yang dilontarkan Jovan itu membuat Novan mengangguk singkat. Tangannya masih dengan terampil meratakan sabun di tubuh bagian depan Jovan. "Aku masak spaghetti kesukaan kakak. Hadap belakang kak." ucapnya.

"Aku mau jus apel, kita ada ga ya di kulkas?" bisik Jovan, namun masih mampu di dengar oleh Novan.

"Nanti aku blender-in, kita ada buah apel."

"Serius?" tanya Jovan antusias, bahkan dia sampai berbalik menatap Novan. Novan tersenyum dan mengangguk, tangannya dengan lembut membalik lagi tubuh Jovan, dia belum selesai dengan bagian belakang.

Setelah dirasa sudah rata, dengan lembut Novan menuntun Jovan ke bawah shower, dan mulai membilas tubuh Jovan.

Perlakuan lembut Novan padanya, benar-benar membuat Jovan merasakan debaran yang begitu memabukkan. Dia ingin menikmatinya lagi dan lagi.

~Sarsnit~

Tebeceee~

💭 Aku up hari ini aja yaa, soalnya besok aku ada acara full takutnya ga sempat. See you next time, sweetipie💚

Sarsnit | JAEMJENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang