Sebulan sudah Novan terperangkap di kantor papanya. Masalah tentang mafia skincare sudah berhasil Novan atasi. Dengan bantuan Rama tentu saja, laki-laki campuran Canada itu benar-benar banyak membantunya.
Sebulan juga Novan sangat jarang pulang ke rumah, lebih banyak tinggal bersama Rama di kantor. Jovan juga sering menemuinya di kampus hanya untuk sekedar memberikan makanan. Yang Jovan tau, Novan sedang tidur di rumah papa. Pikirnya mungkin Novan rindu dengan papa setelah 10 tahun perang dingin.
Seperti biasanya, Jovan kini berjalan santai menuju gedung fakultas Novan. Jovan benar-benar bersemangat hari ini. Pagi sekali dia mendapatkan chat dari papa yang mengundangnya untuk makan malam bersama. Ada Novan tentunya.
Dan dengan semangat dia memasakkan sesuatu yang spesial untuk Novan. Sambal teri dan ikan kesukaan Novan. Tidak lupa juga dia menambahkan lalapan yang masih sangat segar, karena baru dia beli semalam.
Jovan benar-benar bahagia hari ini.
Matanya melihat Novan yang duduk di gazebo depan kelasnya. Senyuman Jovan semakin lebar saja melihatnya, Novan semakin tampan ya hari ini?
Mulutnya yang baru terbuka untuk memanggil Novan kembali tertutup ketika melihat satu wanita menghampiri Novan.
Perempuan dengan dress putih dipadukan dengan cardigan rajut dengan warna senada itu cukup asing bagi Jovan. Matanya yang akan menyipit saat tersenyum itu menambah kesan cantik dalam dirinya.
Siapa perempuan itu?
Novan bahkan tidak canggung untuk merapikan anak rambut yang berantakan pada perempuan kulit pucat itu. Juga terlihat bahwa Novan merasa nyaman, seperti sudah mengenal lama perempuan itu.
Jovan melangkah semakin mendekat. Sampai dia berhasil menginterupsi Novan dan perempuan asing itu.
"Makanan kamu, nanti jangan lupa makan malam sama papa."
Segera Jovan langkahkan kakinya menjauh. Tapi ternyata cekalan pada tangannya berhasil menghentikan langkahnya.
"Gak makan bareng kayak biasanya?"
Suara Novan yang terdengar santai justru semakin membuat dada Jovan sesak. Dengan perlahan dia berbalik dan tersenyum simpul, lalu melepaskan tangan Novan.
Setelahnya dia kembali berbalik, melangkah pergi. Tujuannya sekarang adalah taman belakang. Dia tidak ingin menghadiri kelas dengan keadaan tidak baik seperti sekarang.
Jovan yakin sekali jika perempuan yang bersama Novan bukanlah teman sekelasnya. Karena Jovan hafal betul siapa saja teman sekelas Novan.
Apa mungkin perempuan itu yang membuat Novan belum membalas cintanya selama ini?
Apa perempuan itu alasan Novan menggantung dirinya?
Apa dia yang membuat Novan selama ini hanya menuruti kemauannya, tanpa pernah Jovan tau bagaimana perasaan Novan?
"Bukan,"
Suara bariton dari arah belakangnya itu membuat Jovan mengalihkan pandangan ke belakang. Dia melihat Novan berdiri disana dengan kotak makan yang tadi dia bawa.
Langkah Novan semakin mendekat, membuat Jovan bertanya-tanya, apa yang bukan?
"Dia bukan alasannya."
Jovan melotot horor. Hei Novan ini cenayang ya?
Novan terkekeh pelan, kemudian mendudukkan diri di sebelah Jovan. "Kakak bukan ngomong dalam hati, tapi hampir berteriak. Semua orang juga bisa dengar." katanya.
Jovan semakin melotot. Malu. Mau ditaruh dimana mukanya setelah ini? Walau taman sedang tidak ramai, tetap saja disini ada beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dari dosen. Ada juga gadis yang sedang makan nasi kotak duduk tidak jauh dari Jovan. Apa katanya nanti?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
Hayran KurguDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
