Guysss. . .
I'm so sorry buat ngilang tanpa kabar dalam waktu yang lama. Ideku stuck di konflik ini, tapi akhirnya aku berhasil menemukan ide buat lanjut ceritanya. Sayang banget pas mau nulis HP ku malah rusak dan aku harus nunggu dia bulan buat bisa ganti ke yang lebih baik lagi. So, reader-nim. . .
Happy reading💚
Teriakan penuh tawa memenuhi ruang tengah, sampai terdengar dari lantai dua rumah ini. Leo sebagai laki-laki yang paling tua, memilih duduk santai di sofa lantai atas. Di pangkuannya terdapat laptop yang menampilkan video yang sudah entah keberapa terputar. Matanya menatap awas setiap adegan yang disajikan.
Di sana terdapat seorang influencer yang sedang bermain sebuah game. Mr. Beast sebutannya. Fokusnya bukan pada si pemilik acara, tapi pada orang yang sedang mengikuti permainan itu.
Dari beberapa menit lalu, Leo sedang berpikir kira-kira dimana tempat yang Mr. Beast kunjungi? Leo harus tau untuk dapat menemukan keberadaan kakak beradik yang pernah menjadi temannya itu.
"Papa, tolong Mama kejar Elin."
Leo menoleh dan melihat anak perempuan berlari dengan tertatih menaiki tangga. Leo segera mematikan laptopnya dan menyambut kedatangan anak menggemaskan itu.
"Sayang jangan lari, nanti jatuh loh kamunya." ujar Leo saat berhasil menangkap Celine. "Mama mana?" tanyanya. Leo membersihkan sisa peluh di dahi si mungil.
Celine, anak dengan bando pink itu menunjuk kearah tangga. Segera saja Leo bawa dia turun dan menemui Gigi.
"Tuh kan dia pasti gangguin Kak Leo kerja. Semua ini salah kamu."
"Kok jadi salahku, kan kamu yang malah tiduran di karpet bukannya ngejar dia."
"Tapi kamu yang nganggur, kenapa gak dikejar juga?"
"Terus aja terus!" Teriakan menggelegar dari arah dapur itu menghentikan perdebatan dua manusia beda gender itu. Pun langkah kaki Leo yang baru menyentuh lantai dasar. "Gak cewek gak cowok, semuanya gaada yang mau ngalah. Kalian tuh udah gedhe, malu sama uban yang mulai tumbuh."
Gigi keluar dari dapur dengan semangkuk nasi, bubur untuk Celine. Zidan menyikut lengan Rara, berusaha melemparkan kesalahan padanya. Tapi justru dibalas hal serupa. Membuat Gigi melotot pada keduanya.
"Masih berani bertengkar lagi?" sentak Gigi dengan mata yang semakin melotot. Keduanya menggeleng, tidak berani berkutik lagi.
"Udah sayang, namanya juga pasangan, wajar kan kalau berantem kecil." Leo mendekat, berusaha meredakan suasana yang tidak mengenakkan.
"Iyu pertengkaran yang gak wajar." ujar Gigi ketus. Pasangan mana yang bertengkar seperti itu?
"Iya aku tau, tapi kan emang itu udah biasa buat mereka."
"Kok kamu jadi belain mereka? Mau ngajak aku berantem?" tukas Gigi.
"Engga gitu, sayang."
"Bilang aja kalau mau ngajak berantem, ayo sini bilang mau kamu apa?"
Zidan maju untuk menggendong Celine, matanya memberi isyarat pada Rara untuk mengambil makanan dari Gigi. Keduanya mundur dalam diam, membiarkan dua manusia itu kini beradu mulut.
~Sarsnit~
"Novan, ayo dong boleh ya~"
Di sisi lain terlihat Jovan yang sedang bergelanyut manja di lengan Novan. Sedang si adik seakan menulikan telinganya. Matanya tetap fokus pada koran di tangannya, tangannya yang satunya sesekali mengangkat gelas guna menyeruput kopi.
"Kamu mah gitu, udah gak sayang aku lagi!"
Jovan menghempaskan lengan Novan dengan kasar. Memutar badannya membelakangi Novan.
Sedangkan Novan terlihat menghela nafas lelah. Sebenarnya bisa saja dia menuruti kemauan Jovam, karema itu bukan hal yang berat. Tapi setelah kejadian menghilang kemarin, Novan tidak mengizikan Jovan untuk keluar rumah lagi. Sudah dua hari Jovan terkunci di dalam rumah. Kesehariannya hanya bermalas-malasan dan memeluk Novan.
Jovan rindu berjalan-jalan di luar. Rindu dengan taman, mall, bahkan rindu menghabiskan uang Novan. Yang terakhir itu, tolong jangan kasih tau Novan.
Melihat tidak ada pergerakan dari Novan, Jovan berdiri dan menendang meja di depannya, setelahnya pergi menuju kamar. Anggap saja dia marah besar.
Novan melirik pada setiap langkah Jovan. Memperhatikan bagaimana cara Jovan berjalan yang sedikit kesulitan. Novan tebak karena tendangan Jovan pada meja.
Tanpa banyak bicara, Novan berdiri menuju laci TV. Tangannya mengambil kotak P3K. Setelahnya berjalan menyusul Jovan ke kamar.
Dengan mudah dia masuk ke dalam kamar. Kebiasaan Jovan yang baru adalah tetap membiarkan kamar terbuka walau semarah apapun dia. Karena pernah ada kejadian dkmana dia sedang marah, mengunci kamar karenanya, tetapi tanpa sengaja menjatuhkan lilin dan hampir membakar seluruh rumah. Jika saja Novan tidak mendobrak pintunya, mungkin Jovan sudah terpanggang.
Jovan menatap sinis Novan yang berjalan mendekat. "Mau ngapain?" tanyanya ketus. Novan tetap bungkam, tapi meraih kaki Jovan keatas kakinya. Posisinya yang berlutut dibawah kasur membuat Jovan tersentak.
"Apasih kamu, ngapain jongkok disana?" sentak Jovan. Sedikit kikuk juga karena Novan tetap bungkam.
Novan memijat perlahan pergelangan kaki Jovan, berusaha membuat darahnya mengalir agar tidak terjadi pembengkakan. Setelahnya mengeluarkan minyak dari kotak P3K, membalurnya ke kaki Jovan. Sembari memberikan pijatan kecil.
Jovan terdiam. Dia bahkan tidak menyangka jika Novan akan tau kakinya terasa sakit. Sebenarnya begitu masuk kamar tadi Jovan sudah hampir menangis. Tendangannya tadi sepertinya terlalu keras.
"Mau sekeras apapun aku mencoba nahan kakak, aku tetep Novan yang gak bisa bilang engga ke kakak. Tapi aku bersyukur, tuhan ngasih kakak luka di kaki." ujar Novan, mendongak menatap mata Jovan dengan tulus. "Sekarang gak ada alasan kakak bisa keluar rumah. Istirahat sampai kaki kakak sembuh." lanjutnya.
Novan berdiri setelah membereskan kotak P3K yang dia bawa. Tidak lupa mengusap lembut rambut Jovan sebelum pergi.
Jovan merengut kesal. Kenapa juga dia harus marah dengan menendang kaki meja sih? Kan jadi gagal jalan-jalan keluarnya.
~Sarsnit~
DANG IT AKHIRNYA BISA UPDATE SETELAH SEBULAN LEBIH WATTPAD EROR😭😭
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarsnit | JAEMJEN
FanficDISCLAIMER‼️ • BXB • JAEMJEN AREA • FANFICTION, JANGAN DIBAWA KE RL • I HAVE FULL COPYRIGHT TO THIS STORY, SO DON'T COPY IT!!! "Aku mencintaimu, percayalah." "Maaf, kak..."
