20. Ketenangan untuk Jovan

449 37 0
                                        

Jovan membuka kedua matanya karena sinar matahari menyilaukan matanya. Dengan langkah berat Jovan tertatih menuju sebuah bilik kecil di ruangan itu. Setelah membasuh mukanya, Jovan menatap pantulan wajahnya di cermin.

Sayu. Tatapan matanya yang sayu dan binar semangat yang hilang dapat dia lihat. Menghela nafas pelan, Jovan kemudian terkekeh sinis.

Perasaannya campur aduk kini. Menerima fakta demi fakta secara mendadak, tentu membuat dirinya tidak baik-baik saja.

Dua tahun lalu, Novan benar-benar membawanya pergi menjauh dari segala rasa sakit yang ada. Meninggalkan semua luka dan segala kenangan buruk. Papa, Zidan, dan kehidupan kampus yang memoreble. Jovan tidak menyalahkan siapapun, dia masih percaya jika setiap yang mereka lakukan pasti ada baik buruknya. Tapi Jovan juga tidak bisa menampik jika hatinya sakit mendapatkan perlakuan tersebut.

Jovan tersentak begitu merasakan tangan yang melingkari perutnya.

"Aku tungguin di bawah ternyata kamu asik melamun di sini."

Itu adalah Novan. Laki-laki dengan surai berwarna blonde dan sebuah kacamata bertengger di hidungnya itu sepertinya sudah siap untuk memulai aktivitas. Sangat kontras dengan Jovan yang hanya memakai baju oversize selutut dan rambut yang masih acak-acakan.

"Kak, kenapa?"

Novan membalikkan tubuh lemas Jovan karena tidak kunjung mendapatkan respon. Tatapan mata Novan yang lembut, membuat Jovan enggan menatapnya lebih lama. Katakan saja Jovan lemah.

"Hey," Novan memegang kedua pipi Jovan, mengarahkannya agar melihat lurus ke matanya. "Kepikiran sama masalalu?" lanjutnya.

Tatapan yang semula sayu bertambah sendu mendengar pertanyaan Novan. Laki-laki Agustus itu tidak pernah meleset tebakannya.

"I'm sorry, aku janji ini tidak lama."

~Sarsnit~

Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan, merdu dan menenangkan. Ditemani sebuah buku cerita juga secangkir teh hangat. Jovan terlarut dalam bacaan.

Siang ini, tidak banyak yang dia lakukan. Hanya berdiam diri di rumah dan bermain bersama lunar, anjing samoyed pemberian Novan. Memang sehari-hari juga tidak banyak yang dilakukannya. Tapi entah kenapa hari ini rasanya sangat membosankan.

Jovan menutup kasar buku dengan sampul keras berwarna biru di tangannya. Bibirnya mengerucut, matanya memandang tajam tanah dibawahnya.

Sial, ini terlalu membosankan.

Dengan tergesa-gesa dia berlari masuk rumah, kaki kecilnya menginjak rumput tanpa penghalang. Ngomong-ngomong, dia tadi sedang di taman depan.

"Novan, apa aku boleh minta sesuatu?" tanyanya dengan nafas tak beraturan. Begitu sampai di ruang tengah, dia menemukan Novan dengan kertas-kertas berserakan.

Novan mengalihkan pandangan sejenak dari kertas-kertas di depannya, tangannya memberi isyarat kepada Jovan agar duduk di dekatnya. "Mau minta apa?" tanyanya dengan lembut.

"Aku ingin jalan-jalan, berdua."

Novan menatap tumpukan kertas di depannya, bergantian menatapnya dengan Jovan. Sebelum akhirnya mengangguk dan memerintahkan Jovan untuk ganti baju, sedangkan dia akan membereskan kekacauan di ruang tengah.

Dengan semangat Jovan menurutinya. Saking semangatnya dia sampai tersandung di tangga pertama, bukannya kesakitan dia langsung berdiri dan melanjutkan berlari menuju kamarnya. Novan sendiri sudah meringis ngilu.

Kini keduanya sudah berada di sebuah supermarket yang tidak terlalu besar. Novan masih waras untuk tidak membawa Jovan ke tempat yang ramai.

Jovan sendiri tidak masalah, selama itu demi dirinya.

"Aku mau es krim vanila."

Novan mengangguk, menyuruh Jovan menunggu di sebuah kursi. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan kakaknya, Novan berjalan menuju meja Jovan dan menyodorkan es krim miliknya.

"Apa kali ini kakak bahagia?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Novan membuat Jovan berhenti menyuap. Dengan mantap dia mengangguk.

Jovan sadar jika selama itu bersama dengan Novan, kebahagiaan bersamanya. Jovan tidak butuh keluarga, Jovan tidak butuh teman yang berkhianat. Cukup Novan, poros dalam hidupnya. Bilang saja Jovan terlalu bucin, tapi memang benar adanya begitu. Jovan sudah cukup merasakan sakit ketika tidak menuruti perkataan Novan beberapa tahun lalu. Novan adalah pusat kebahagiaannya, dia tidak ingin jauh dari Novan.

"Maaf, karena aku kakak harus berpisah dari semuanya. Tapi percayalah, semua itu demi kebaikan kakak."

"Iya, kakak tau."

~Sarsnit~

Setelah seharian bermain di supermarket lantai atas yang berisi banyak permainan anak, kini keduanya sedang sibuk berkeliling dengan dengan troli yang Novan dorong.

Di depan sana, terlihat Jovan sedang sibuk memilah beberapa sayuran yang harus dibeli. Sesekali meminta pendapat Novan.

"Sorry for disturb your time, mau bermain sebuah permainan sebentar saja?"

Aktivitas Jovan terhenti saat seseorang dengan rambut blonde menginterupsi dirinya. Dia menoleh ke kanan ke kiri, berusaha mencari Novan. Namun nihil, Novan tidak berada di belakangnya.

"Hanya sebentar, i promise."

Sekali lagi, Jovan celingukan mencari bantuan. Ia tau ini tidak akan aman. Hatinya mengatakan jika dia akan berada dalam bahaya, tapi dia juga tidak bisa untuk berkata tidak.

Menyerah, akhirnya Jovan mengangguk setuju. Laki-laki di depannya tersenyum puas dan mulai menjelaskan permainan. Jovan hanya perlu mencari apapun di supermarket ini yang berwarna biru. Dan Jovan diberikan waktu 20 menit untuk mencari. Dan jika berhasil, dia akan mendapatkannya secara gratis.

Jovan berjalan santai mencari apapun yang berwarna biru. Terlihat tidak tergiur dengan penawaran barang gratis itu. Novan sudah sering memberikan barang gratis, jadi dia merasa tidak tertarik. Semua ini hanya semata karena perasaan tidak enaknya. Poor people pleasure.

Waktu hampir habis, tapi barang di keranjang Jovan hanya ada beberapa potong. Si pemilik game sudah ribut menyuruh Jovan berlari, tapi Jovan dengan santainya berjalan menuju kasir dan menyerahkan belanjaan tepat ketika waktu habis. Hanya beberapa barang, seperti headphone, kacamata, dan topi.

"Kau yakin hanya segini? Tadi kau punya banyak waktu, kenapa berjalan dengan lamban?" tanya pemilik game dengan kesal.

"Hanya ini saja, sudah cukup." jawab Jovan lirih.

"Ayolah, dude. Kau menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan barang secara gratis." erang si pemilik game.

Jovan tersenyum kecil. "Aku sudah sering mendapatkan apapun secara gratis. Kekasihku tidak pernah membiarkan aku mengeluarkan uang, semua kebutuhanku sudah dia tanggung. Jadi kau bisa gunakan uangmu kepada orang yang membutuhkan lainnya." jawabnya. Tentu saja jawaban itu membuat laki-laki di sebelahnya melongo tak percaya. "Tolong bayarkan, aku harus segera menemui kekasihku sebelum dia kebingungan mencariku."

Setelah selesai dengan belanjaan dan game yang entah dari acara tv mana, Jovan segera berlari menuju section sayur. Dia tau Novan pasti sedang panik saat ini. Dan benar saja, begitu sampai dia menemukan Novan dengan ponsel di tangannya, jangan lupakan raut panik yang menghiasi wajah tampannya.

Jovan segera berlari dan memeluk Nkvan dengan erat. Mulutnya terus bergumam kata maaf. Dia melihat nafas Novan mulai teratur dan balas memeluknya dengan lembut.

Jovan semakin merutuki dirinya sendiri. Kesalahan fatal adalah meninggalkan Novan.

~Sarsnit~


Tebece~

Happy eid al mubarak, bagaimana lebaran tahun ini?

Sarsnit | JAEMJENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang