27. Aroma 'Rumah'

170 20 2
                                        

WARNING!!!

Sebelum lanjut, aku mau ngasih warning dulu kalau di bab ini bakal banyak kekerasan dan mungkin dapat memicu trauma untuk beberapa orang. Buat yang udah merasa ga kuat, bisa tinggalkan saja cerita ini dan loncat ke bab selanjutnya.

—🪶

Hiruk piuk Jakarta memang selalu berhasil membuat siapapun merindukannya. Seorang laki-laki dengan kemeja maroon menenteng sebuah ransel di bahunya, sedang tangan satunya menggenggam koper. Matanya mengawasi sekitar dengan teliti. Cafetaria juga langkah ratusan orang membuatnya tersenyum singkat. Inilah rumah yang ia tau, rumah yang nyaman dan tidak asing.

Kakinya melangkah, mendekat pada bapak taxi yang sejak tadi memanggilnya untuk mendekat. "JakPus ya, Pak." ujarnya tenang. Sopir taxi mengangguk dan melakukan mobil setelah alamat lengkap disebutkan oleh pria di kursi penumpang.

Novan membuka ponselnya, mengetikkan sebuah pesan pada Jovan. Hal yang sudah seperti kewajiban baginya, mengabari Jovan setiap waktu.

Jov^^

Aku baru sampai bandara

REALLY???

Yes sweetie

Aku senang sekali
Terimakasih Novan, i love you

I love you too

Taxi yang dikendarainya berhenti tiba-tiba. Novan menoleh bingung, "ada apa, Pak?" tanya Novan pada si supir.

"Itu kayaknya kecelakaan deh di depan, Mas." jawab si supir dengan melihat ke depan. Dapat Novan lihat memang di depan banyak orang yang sedang bergerumbul, tidak jauh dari sana ada sebuah mobil putih menghantam pohon, juga dua sepeda motor yang sedang berusaha dibawa ke tepian.

Novan turun, mencoba untuk melihat lebih dekat. Kakinya berjalan dengan lebih cepat, pandangannya menyipit begitu melihat satu laki-laki dan satu perempuan sedang menenangkan anak kecil yang menangis histeris. Sepertinya keduanya juga merupakan korban. Namun bukan itu yang menjadi fokusnya. Laki-laki berkaos putih yang kini sedikit kotor itu, seperti tidak asing untuknya.

"Sudah sudah, celine tenang ya. Jangan menangis terus."

Novan mematung. Celine...

Apa dia adalah Celinenya?

~Sarsnit~

Jovan dengan semangat menyiapkan segala masakan yang ia tau resepnya. Dengan puas dia menatap meja makan yang kini sudah penuh dengan berbagai masakan asia dan beberapa desert. "Good job, Jovan." pujinya pada hasil karyanya.

Matanya melihat jam dinding dan mengernyit heran. Bukankah seharusnya Novan sudah sampai dari tadi? Kenapa setelah satu jam lebih Novan belum juga sampai?

Dengan cepat tangannya mengambil ponsel di meja makan. Mengetikkan beberapa pesan beruntun. Namun tidak satupun pesan itu dibalas oleh Novan. Jovan berdecak kesal. Dengan kasar dia membanting ponselnya ke meja dan duduk di kursi. Tidak biasanya Novan lewat semenit dalam membalas pesannya.

Dia juga tidak bisa menghubungi supir, karena Novan pergi tidak dengan supir. Salahkan saja Novan yang datang berkunjung secara mendadak.

Ya benar, Novan pulang ke Jakarta dengan dadakan. Tidak ada rencana sama sekali sebelumnya. Bulan lalu, Novan enggan ketika Jovan ajak untuk pulang bersama. Terpaksa dengan berat hati, Jovan pulang sendiri. Membiarkan Novan dengan egonya. Dan entah apa yang merasuki Novan, sampai bisa berubah pikiran seperti sekarang.

Sarsnit | JAEMJENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang