"Mau kalian mendengar hingga akhir atau cukup sampai di sini saja?" Jiwa memecah kesunyian. Penceritaannya baru sampai separuh jalan dan masih ada setengah lagi yang tersisa untuk mengungkapkan keseluruhan kisah tragis itu. Namun, manusia-manusia di hadapannya sudah terhenyak mendengar kematian tragis Kejora itu.
"Sambung ja." Khafi menyuruh dan Jiwa menerima.
"Penemuan Kejora dalam keadaan memilukan itu menjadi tragedi hitam di desa kami dan juga memberikan dampak mendalam pada Jiwa. Pemuda itu hampir kehilangan kewarasannya, bahkan nyaris mengakhiri hidupnya sendiri kerana tertekan dengan rasa bersalah yang menghantui. Setiap detik hanya permintaan maaf dan dan cacian yang keluar dari mulut Jiwa. Aku yang berusaha menenangkan dan membangkitkan semangatnya juga tak mampu menghapus kesedihan Jiwa. Jiwa benar-benar hancur." Tanpa membuang waktu Jiwa bercerita.
"Jiwa yang sudah tenggelam dalam keputusasaan, suatu hari didatangi susuk Kejora. Awalnya dia enggan percaya dan menyangka itu hanya sekadar permainan mahkluk-mahkluk sepertiku yang ingin memperdayakan manusia yang lemah. Jiwa cuba mengusir dan mengabaikan susuk tersebut sehinggalah susuk Kejora itu melafazkan kata-kata manis yang pernah Jiwa ucapkan dahulu semasa dia melepaskan Kejora kepada Aren, barulah Jiwa percaya bahwa susuk di hadapannya itu Kejora, si cinta hatinya."
"Kedatangan Kejora itu untuk memohon bantuan Jiwa, mengadu bahwa arwahnya tidak tenteram karena jasadnya masih belum disemadikan dengan layak. Mendengar rayuan pilu itu, Jiwa yang diliputi dendam terhadap pelaku yang tak berperikemanusiaan itu semakin terbakar amarahnya. Dia bangkit dari kegelapan yang diciptanya sendiri dan bersama denganku kami mencari pelaku yang bertanggungjawab atas kematian Kejora serta mencari jasad Kejora yang disembunyikan," lanjut Jiwa.
"Tempat pertama yang kami tuju adalah lokasi di mana jasad Kejora ditemukan. Meskipun kawasan itu telah diselidiki pihak berkuasa, Jiwa tetap bersikeras ingin ke sana. Firasatnya mengatakan ada serpihan petunjuk yang masih tersembunyi. Pencarian dimulai, aku dan Jiwa gigih mencari setiap petunjuk yang mungkin menjelaskan siapa dalang di balik kematian Kejora. Dari teriknya sinar matahari hingga malam yang ditemani cahaya lampu suluh dan bintang-bintang kami terus mencari. Tanpa disangka kami menemukan sebuah bukti kukuh untuk mengungkapkan manusia keji di balik tragedi itu."
Jiwa menjeda sebentar. Membasahi tekak yang kering dengan air kepunyaan Naail sambil itu membayangkan reaksi yang bakal ditunjukkan manusia-manusia di hadapannya setelah mengetahui satu lagi kebenaran.
"Berdasarkan bukti yang dijumpai dan pengakuan dari Kejora, identiti dalang di balik kematiannya akhirnya terungkap. Namun, Jiwa yang tak dapat menahan amarahnya melakukan satu kesilapan fatal. Jiwa yang tidak berpikir panjang langsung menyerang pembunuh Kejora sedangkan kehadiran Jiwa sudah lama dinantikan si pelaku. Jiwa yang datang dengan niat membalas dendam justru jatuh ke dalam jerat licik musuhnya." Seperti yang disangka raut mereka berubah terutama sekali Airen.
"Aren yang bunuh?" Alanna cuba meneka.
"Sulit untuk aku ungkapkan tetapi itulah kebenarannya." Jiwa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Pembunuh yang meragut nyawa Kejora itu suaminya sendiri."
"Apa buktinya?"
"Cincin pernikahan Aren. Bukti yang kami temukan adalah cincin perak milik Aren."
"Tapi... kenapa? Kenapa Aren sanggup bunuh Kejora." Airen tak boleh terima kenyataan pahit ini. Kenapa Aren kejam? Kenapa Aren yang realiti berbeza dengan Aren yang digarap Alanna? Aren dalam novel Kejora berjaya menjadi watak kesukaannya suatu ketika dulu.
"Kerana dendam, wahai manusia. Saat hati sudah dipenuhi amarah dan dendam, syaitan akan berbisik halus di telingamu dan menghasut untuk melakukan sesuatu yang mampu memuaskan hatimu yang terluka itu. Sudahku katakan sebelumnya, Aren sudah lama menanam benci pada Jiwa. Rasa cemburunya membara setiap kali dia melihat kemesraan antara Kejora dan Jiwa. Saat Kejora melarikan diri dari cengkamannya dan lebih memilih Jiwa, saat itu Aren hancur dan berasa terancam kerana harga dirinya diinjak oleh lelaki miskin seperti Jiwa. Kerana tidak terima akan perlakuan itu Aren bertindak dan ingin melihat kejatuhan Jiwa."
ANDA SEDANG MEMBACA
C| MANUSKRIP
ParanormalneUnedited version (may contain typos, repetition, and messy structure 𝐓𝐮𝐧 𝐒𝐞𝐫𝐢𝐞𝐬: 𝐓𝐮𝐧 𝐍𝐢𝐲𝐚𝐳 𝐊𝐡𝐚𝐥𝐢𝐟 [PARANORMAL + SLIGHT ROMANCE] "Ketakutan akan membunuhmu. Pertahankan jiwa dan ragamu wahai manusia. Jangan bagi celah untuk aku...
