Unhealthy Relationship || Fourth

11.2K 645 29
                                        

Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°












Jarum jam menunjukkan pukul setengah satu siang. Siswa-siswi tengah melangsungkan istirahat kedua yang memiliki banyak waktu selama satu jam penuh. Kantin sudah banyak di huni siswa-siswi yang kelaparan, manyantap langsung makanannya di tempat atau hanya sekedar membeli saja dan mencari tempat lain untuk makan.

"Jay, aku yang cari bangku, ya?"

Si pemilik nama sedikit menoleh ke samping, dia menggelengkan kepalanya pelan. "Gak usah. Marva udah di kantin dari tadi— kita gabung aja sama mereka," ucap Jay menjawab tanpa emosi.

"Ya udah, kalau gitu turunin aku, Jay. Malu banget di liatin mereka," pinta Ravin mencicit pelan. Dia sangat malu menjadi pusat perhatian semenjak medeka tiba. Itu karena dirinya yang ada digendongan belakang pria itu.

Lelaki jangkung itu tak langsung menjawab, dia tampak berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya mengiakan keinginan kekasihnya. Jay sedikit menekuk kedua kakinya agar memudahkan Ravin untuk turun, "Diem di deket aku. Jangan kemana-mana," pinta Jay berkata posesif. Empunya mengangguk tanpa membantah.

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua mulai berjalan mencari bangku yang ditempati oleh Marva dan Hazel. Manik tajam Jay tak tinggal diam; terus bergerak mencari keberadaan temannya itu. Sampai akhirnya, dia menemukan apa yang dicarinya. Jay segera bergegas menuju meja, tangannya terus menggenggam tangan Ravin. Dari jarak beberapa meter, tampak Hazel tengah menikmati semangkuk bakso dengan kuah yang merah.

Peluh keringat membasahi dahi remaja itu. Jay dan Ravin duduk di bangku kosong, si manis penggemar Moomin itu tanpa sadar meneguk ludahnya melihat bagaimana nikmat dan tersiksanya Hazel.

"Jay, aku— mau bakso juga kayak Hazel," ungkap Ravin. Tiba-tiba saja dia berdiri, padahal belum ada satu menit dia duduk. Lelaki jangkung itu menoleh, tangannya kembali menarik genggaman mereka yang sempat terlepas. "Gak boleh. Itu pedes banget. Kamu lupa waktu itu ngeluh sakit perut karena makan pedes?" ungkit Jay, membuat Ravin melihat ke arahnya.

Insiden itu? Jelas saja Ravin ingat. Insiden yang terjadi seminggu lalu di sore hari. Kala itu, dia memang belum makan dari pagi, namun, sesuatu terjadi yang menciptakan pertengkaran dari kebohongan Jay— yang katanya hendak menghadiri pesta ulang tahun teman berbeda sekolah.

Akan tetapi, pada nyatanya, lelaki itu pergi berkencan ke sebuah hotel dengan seorang wanita. Dan parahnya lagi, jika Ravin lihat dengan jeli wanita itu seperti berusia di atas Jay.

Lelaki jangkung itu merecokinya paksa dengan cabai bubuk yang tingkat pedasnya lumayan: sebab, posisi mereka saat bertengkar di dapur— menghabiskan setengah bubuk cabai yang awalnya masih penuh.

"Waktu itu pedesnya kebanyakan, Jay. Makanya, aku sakit perut. Tapi, kali ini enggak, janji pedesnya cuman dikit," kata Ravin bersikukuh. Dia mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. "Aku janji, Jay," ulangnya.

Jay diam tidak menjawab, mimik wajahnya berubah dalam hitungan detik dengan tatapan mata yang memancarkan ketidaksukaan. "Plis, Jay .. untuk saat ini aja, ya? Ya?"

'Jujur, ini beneran geli!' batin Ravin mengomentari. 'Tapi, gue ngiler banget. Ayo, Jay, izinin gue buat makan bakso. Nanti bebas deh kalau mau kdp juga, asal sekali aja, ya? Soalnya, yang kemarin belum sembuh, hehe.'

Kekerasan Dalam Pacaran.

Selain itu, dia juga memanfaatkan situasi. Sudah jarang dia makan bakso karena Jay terus melarang dengan alasan tak baik sebab terlalu banyak mengandung micin. Terkadang, Ravin dibuat heran akan sikap kekasihnya yang seperti bunglon. Mengatur hidupnya, menjaga makanannya kadang baik kadang tidak, sering bermain api, akan tetapi, mengapa Jay sangat sulit melepaskannya?

Unhealthy Relationship ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang